Di Desa Brengkok, Kabupaten Lamongan, mayoritas warganya merupakan petani kecil dengan rata-rata luas lahan garapan tidak lebih dari satu hektar. Di atas lahan yang terbatas itu, para petani menggantungkan harapan dan cita-cita untuk menghidupi keluarganya. Komoditas yang umum dibudidayakan adalah padi dan jagung, yang diselingi dengan kacang tanah, kedelai, atau cabai.
Namun, kisah tentang petani di Brengkok tidak selalu identik dengan kehidupan yang berkecukupan. Banyak cerita getir mewarnai keseharian mereka. Keterbatasan modal untuk membeli pupuk dan pestisida. Kenaikan harga pupuk yang terus terjadi ditambah kelangkaan pupuk ketika musim tanam. Perubahan agroklimat menyebabkan sulitnya akses terhadap air untuk usaha pertanian. Ketika sawah mengering dan tidak dapat ditanami, mereka terpaksa berhenti bertani. Kondisi ini menggoyahkan stabilitas ekonomi keluarga.
Sebagian petani berupaya bertahan dengan beternak sapi atau kambing. Ada pula yang akhirnya beralih profesi menjadi tukang bangunan atau nelayan. Namun, pendapatan dari pekerjaan tersebut umumnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sangat sedikit yang dapat menabung atau mengembangkan usaha. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana masa depan petani kecil di desa?
Pemuda sering disebut sebagai agent of change atau agen perubahan. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Pemuda memiliki energi lebih, akses informasi yang luas, serta keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Sementara petani tua cenderung bertahan pada cara-cara tradisional, hadirnya pemuda dapat menghadirkan inovasi dan terobosan segar atas berbagai inovasi yang bisa menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi.
Di Desa Brengkok, pemuda dapat menjadi jembatan antara dunia pertanian tradisional dan perkembangan zaman. Misalnya, pemuda dapat mengajarkan cara memasarkan hasil pertanian melalui internet. Cabe, kedelai, atau kacang tanah tidak harus selalu dijual kepada tengkulak. Dengan memanfaatkan media sosial, hasil panen dapat dipasarkan langsung ke konsumen di Lamongan, Gresik, atau Surabaya. Selain itu, pemuda dapat memperkenalkan teknik pertanian yang lebih ramah lingkungan, seperti pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dan kambing yang telah tersedia di desa. Dengan demikian, biaya produksi dalam membeli pupuk dapat ditekan tanpa mengorbankan hasil panen. Perubahan kecil semacam ini dapat menjadi awal menuju kemandirian petani kecil, dan pemuda berperan sebagai penggeraknya.
Kenyataannya, petani kecil di Brengkok masih jauh dari kata mandiri. Hampir semua kebutuhan pertanian bergantung pada pasar. Benih, pupuk, dan pestisida harus dibeli, sementara harganya tidak stabil. Saat pupuk langka atau harganya melonjak, petani terjepit. Mereka tidak memiliki alternatif lain selain membeli, karena tanpa pupuk dan pestisida, hasil panen berpotensi menurun. Inilah yang disebut sebagai ketidakmandirian. Petani bekerja keras, tetapi sebagian besar penghasilannya habis untuk membeli sarana produksi. Saat panen tiba, harga komoditas pertanian sering kali murah. Petani terpaksa menjual cepat karena membutuhkan uang untuk kebutuhan keluarga ataupun membayar utang. Alhasil, keuntungan yang mereka peroleh sangat tipis.
Ketidakmandirian ini membuat posisi petani kecil semakin lemah. Mereka tidak memiliki daya tawar di pasar, hanya mengikuti arus, sementara keuntungan lebih besar dinikmati oleh tengkulak, pedagang besar, atau industri pengolahan. Meskipun hidup dalam ketidakpastian, petani kecil memegang peran penting dalam ketahanan pangan nasional. Merekalah yang selama ini menjadi tulang punggung penyedia pangan bagi sebagian besar masyarakat. Di Brengkok, padi dari sawah-sawah sempit itulah yang akhirnya sampai ke dapur rumah tangga. Jagung, kedelai, dan cabai dari ladang-ladang kecil itulah yang mengisi pasar tradisional. Artinya, jika petani kecil berhenti bercocok tanam, pasokan pangan lokal akan terganggu. Harga beras dapat melonjak, cabai menjadi langka, dan kedelai untuk tempe menjadi mahal.Keberlangsungan hidup mereka menentukan apakah masyarakat dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau.
Perubahan agroklimat semakin menambah tantangan. Iklim yang tidak menentu menyulitkan petani dalam merencanakan masa tanam. Dulu, kalender musim dapat diprediksi dengan jelas. Kini, hujan sering datang terlambat atau berhenti lebih awal. Akibatnya, akses terhadap air pertanian menjadi masalah serius. Petani dengan modal besar dapat membuat sumur dalam atau menggunakan pompa air. Saat kemarau panjang, sawah mereka terbengkalai. Tidak ada yang ditanam, artinya tidak ada penghasilan.
Selain itu, kenaikan harga pupuk dan pestisida terus terjadi, sementara akses terhadap modal terbatas. Tidak semua petani dapat meminjam dari bank karena terbentur persyaratan administrasi. Kalaupun bisa, mereka khawatir terjerat utang. Kondisi ini mendorong petani untuk menjual tanah pertanian dan beralih ke usaha yang lebih menguntungkan. Jika pola ini dibiarkan, maka akan terjadi pergeseran besar. Sektor pertanian semakin ditinggalkan, lahan tidak terurus, dan desa kehilangan jati dirinya sebagai desa agraris.
Di sinilah pemuda perlu hadir, bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi. Beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan pemuda Desa Brengkok antara lain:
- Mendorong Kemandirian Sarana Produksi. Pemuda dapat menginisiasi pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati. Dengan memanfaatkan kotoran ternak dan bahan alami seperti daun mimba atau tembakau, ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia dapat dikurangi. Biaya produksi menjadi lebih rendah, tanah lebih sehat, dan hasil panen tetap terjaga.
- Membangun Koperasi Pemuda Tani. Koperasi dapat menjadi wadah untuk menghimpun modal bersama. Iuran anggota yang terkumpul dapat dipinjamkan secara bergilir. Dengan demikian, petani kecil tidak lagi bergantung pada tengkulak atau pinjaman berbunga tinggi.
- Memperluas Akses Pasar. Pemuda dapat memanfaatkan media sosial untuk menjual hasil tani langsung ke konsumen. Dengan sistem pre-order atau langganan mingguan, petani mendapatkan harga yang lebih baik, sementara konsumen memperoleh produk segar.
- Mengolah Hasil Pertanian. Daripada menjual gabah dengan harga murah, pemuda dapat membantu mengolahnya menjadi beras kemasan. Jagung dapat dijadikan keripik ataupun beras jagung. Kacang tanah disangrai atau cabai diolah menjadi cabe bubuk. Produk olahan ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi dan LSM pemuda dapat menghubungkan desa dengan universitas atau lembaga swadaya masyarakat yang memiliki program pendampingan. Melalui kemitraan ini, desa dapat memperoleh pelatihan, teknologi tepat guna, dan bantuan modal.
Penutup
Masa depan Desa Brengkok berada di tangan masyarakatnya sendiri. Meski menghadapi banyak keterbatasan, petani kecil memiliki potensi besar. Dengan dukungan pemuda sebagai agen perubahan, keterbatasan tersebut dapat diubah menjadi peluang. Pemuda bukan hanya pewaris lahan, tetapi juga pewaris tanggung jawab untuk menjaga ketahanan pangan dan kelestarian desa. Jika pemuda bersatu, membentuk kelompok, memperkenalkan teknologi tepat guna, dan membuka akses pasar baru, maka petani kecil dapat mencapai kemandirian.
Kemandirian bukan sekadar lepas dari ketergantungan pada pupuk kimia atau tengkulak. Kemandirian berarti petani mampu menentukan nasibnya sendiri, bertahan menghadapi perubahan iklim, memenuhi kebutuhan keluarganya dengan layak, serta berkontribusi pada ketahanan pangan bangsa. Desa Brengkok dapat menjadi contoh bahwa dari lahan terbatas, melalui kerja kolektif dan kreativitas pemuda, lahir kemandirian baru. Inilah jalan bagi desa untuk berkembang, bukan sekadar bertahan
Penulis: Ahmad Asy Syifa’ Nur_Bumi Asih Lamongan




