Lahan Pasir Berbuah Sayur

DARI  kajauhan seorang petani muda nampak memeriksa satu per satu sawi hijau, sambil sesekali meluruskan pundaknya.

Topi yang dipakainya terkadang menjadi kain penyeka peluh yang mengucur deras. Di bawah terik mentari ia terus saja bekerja. “Sudah biasa panas,” ucap Eli, 27, sambil terus memetik daun sawi yang menguning.

Eli, ialah satu di antara sejumlah besar petani pesisir Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Desanya, Desa Garongan, Kecamatan Panjatan, terkenal sebagai lumbung sayur-mayur. Banyak sekali pedagang dari luar daerah yang datang berburu hasil panen ke tempat ini.

“Situasinya hampir mirip pasar tiban kalau pas panen,” ucap pemuda jebolan SMA tersebut.

Pesisir Kabupaten Kulon Progo memang tergolong lahan sayur yang subur, meski berpasir. Puluhan tahun petani setempat menggarap kawasan tersebut, dimulai sejak 1980-an.

“Namun, dulu belum serapi sekarang,” timpal Widodo, yang juga petani muda di kabupaten tersebut. Menurut dia, saat itu lahan pertanian pesisir Kulonprogo belum tertata sehingga terlihat semrawut.

Setelah dekade 1990-an, jumalh petani di di lahan pasir ini mulai ramai. Maka dibuatlah paguyuban petani lahan pesisir yang diberi nama Paguyuban petani Lahan pantai (PPLP).

Paguyuban ini mewadahi keinginan warga untuk mengerakkan inovasi terhadap sistem pertanian.

“Segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentignan bersama selalu kami kerjakan bareng-bareng. Mulai dari pembutan jalan ke setiap lahan (galengan), memperbaiki tanggul, dan membuat sumur penyiraman atau drainase,” urai Widodo, yang merupakan ketua PPLP.

Dengan begitu sistem pertanian mereka semakin maju dan menjadi rujukan di antara beberapa model pertanian daerah lain.

Widodo pun mendadak sering diundang sebagai penyuluh bagi kelompok tani lain yang berminat mengolah lahan pesisir mereka menjadi pertanian. Ia berbagi ilmu, khususnya cara membaut sumur dan pupuk.

Sebab buat dia, keduanya teramat penting. Salah langkah sedikit, dua kompenen itu bisa mengakibatkan kerusakan ekosistem.

“Intinya petani lahan pesisir harus mengetahui bagaimana cara bercocok tanam tanpa merusak ekosistem dan ramah lingkungan.”

Rahasia pupuk bagi lahan berpasir di Kabupaten Kulon Progo memang simpel. Mereka mengelak sebisa mungkin dari penggunaan pupuk kimia dan lebih memilih memanfaatkan pupuk organik yang terbuat dari kotoran hewan.

“Sesekali saja kami menyemprotkan pestisida atau fungi-sida, dan itu hanya sebatas untuk menjaga agar daun tetap hijau dan lebar,” ucap Bagong, salah satu petani yang kala itu sedang menyemprot sawi hijaunya.

Bagong juga baru berusia 27 tahun. Ia adalah salah satu petani angkatan muda yang kini banyak menggarap lahan pasir di Kulonprogo.

“Kenapa harus malu jadi petani. Menjadi petani merupakan kehormatan tersendiri. Kita bisa membantu memberi kesempatan makan bagi orang lain. Dan desa sebagai basis persawahan harus menjadi kekuatan ekonomi, agar semua pemudanya tidak pada urban ke kota.”

Sebanyak 70% petani lahan pesisir di Kulonprogo adalah golongan muda, mereka umumnya lulusan SMA atau STM. Seperti Eli dan Bagong.

Menurut keduanya, selain ingin meneruskan keberlangsungan lahan pertanian orang tua mereka, penghasilan yang didapat dari bertani tinggi.

Eli contohnya, saat pertama kali bertani, ia meraup hasil bersih panen sebesar Rp5 juta. “Itu dulu waktu awal. Mas,” jelas Eli yang sudah bertani sekitar tiga tahun.

Kalau ia bandingkan dengan kerja di Ibu Kota, sangat jauh sekali. “Jauh banget lah pokoknya, enakan jadi petani,” tegas Eli yang sekarang bisa membeli motor dari hasil lahannya.

Bagong juga demikian. Menurutnya, menjadi petani di daerah pesisir asal mau tekun bisa mendapatkan penghasilan puluhan juta dengan mudah. Sebab petani yang lama bergelut di kawasan Kulon Progo umumnya mendapatkan hasil bersih Rp35 juta sekali panen.

“Padahal di sini bisa sampai lima kali panen dalam setiap panen raya,” jelas Eli.

Tak Tergiur

Satu hal lain soal Kulonprogo. Ketika harga cabai dan kebutuhan pokok lainnya merangkak naik hampir di seantero Nusantara, dan banyak sekali petani yang mendadak banting setir menanam cabai, petani lahan pesisir Kulonprogo salah satu yang tidak ikut terbawa euphoria, yang tampak adalah hamparan sayur-mayur dan buah-buahan.

Apakah petani pesisir tidak mau mengecap keuntungan yang berlimpah ruah dari lonjakan harga cabai, atau memang tanah pesisir tidak cocok ditanami cabai?

“Jawabannya tidak,” tegas Widodo. “Kami mempunyai peraturan yang harus kami patuhi.”

Lantas apakah peraturantersebut? Menurut Widodo, pakem yang dianut petani lahan pasir Kulon Progo adalah ada waktu menanam cabai, sayur, dan ada waktu untuk tidak menanam.

“Giliran menanam cabai itu baru besok, bulan Maret,” kata Rubinem, sambil melepaskan caping berbalut kain yang ia pakai. Bulan ini jatahnya menanam sayur.

“Kita punya peraturan, kita sendiri yang buat, dan kita juga yang harus mematuhinya,” ucap Rubinem, lalu meluruskan kakinya dan tangannya meraih ceret dan plastik hitam berisi bekal makanan.

Bahkan, kata Rubinem, petani lahan pesisir kini malah menginginkan agar harga bahan pokok terutama cabai segera turun.

 

ARTIKEL TERKAIT

Potret Praktik Demokratisasi Desa

Undang-Undang Desa Bukan Solusi Tunggal : Jelang Refleksi 3 Tahun Pelaksanaan UU Desa

Menteri Desa PDDT, Percepat Bentuk Holding BUMDes

Sanggar Bumi Menoreh, Pentaskan Lakon Geger Genjik Udan Kirik

Apa Kabar Demokratisasi Desa?

Peluncuran Program Penguatan Kapasitas Organisasi Masyarakat Pedesaan Asia