Bina Desa

Orang Muda Pelajari Pengorganisasian Petani dari Serikat Petani Pasundan

JAWA BARAT, 5 Oktober 2025 | Sebanyak 31 orang muda dari lima region Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Tengah mengikuti kegiatan Youth Exposure: Belajar Praktik Implementasi Pengorganisasian dalam Gerakan Kedaulatan Pangan yang berlangsung pada 27 September hingga 5 Oktober 2025 di Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi ruang belajar lintas daerah bagi generasi muda pedesaan untuk memperdalam strategi pengorganisasian komunitas dan memperkuat peran mereka dalam memperjuangkan kedaulatan pangan.

Panitia pelaksana kegiatan, Nirwana, menjelaskan bahwa peserta yang terlibat berusia antara 17 hingga 34 tahun. Selama delapan hari, mereka melakukan kunjungan lapangan ke empat wilayah basis Serikat Petani Pasundan (SPP) di Jawa Barat: Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran.

“Kegiatan ini menjadi kesempatan penting bagi anak muda untuk belajar langsung dari para pelaku gerakan di lapangan. Mereka tidak hanya mendengar cerita perjuangan, tapi juga melihat bagaimana organisasi petani bekerja, berjuang, dan membangun kemandirian ekonomi,” ujar Nirwana.

Menyusuri Jejak Gerakan: Dari Garut hingga Pangandaran

Di Garut, peserta disambut langsung oleh Dewan Suro SPP, yakni Teh Yani dan Kang Yudi. Di wilayah ini, para peserta mendapatkan pengenalan mendalam tentang sejarah, nilai, prinsip, struktur organisasi, serta strategi perjuangan SPP.

Selain berdialog, mereka juga berkesempatan mengunjungi rumah jamur, salah satu contoh usaha kolektif petani yang dikembangkan SPP Garut sebagai bagian dari kemandirian ekonomi anggota. Dari tempat ini, peserta belajar bagaimana gagasan pengorganisasian bisa diwujudkan menjadi aktivitas ekonomi nyata yang memperkuat komunitas.

Kunjungan berikutnya dilakukan di SPP Tasikmalaya, di mana para peserta diterima oleh Ibu Agustina, Sekretaris Jenderal SPP Tasik. Di sini, mereka belajar tentang kepemimpinan organisasi dan dinamika dalam menjaga keberlanjutan gerakan petani. Para peserta juga diajak mengenal koperasi SPP Tasikmalaya, yang menjadi contoh praktik ekonomi kolektif berbasis solidaritas petani.

Di Ciamis, peserta bertemu dengan Organisasi Tani Lokal (OTL) di bawah SPP. Di wilayah ini, pembelajaran difokuskan pada pengorganisasian perempuan dan kepemimpinan berbasis komunitas. Para peserta juga meninjau langsung lahan reklaiming, yaitu lahan yang dikelola bersama sebagai bentuk perjuangan petani dalam merebut kembali hak atas tanah mereka.

Namun, salah satu pengalaman yang paling mengesankan bagi peserta adalah kunjungan ke sekolah yang didirikan oleh SPP Ciamis — sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak petani kurang mampu. Sekolah ini memiliki jenjang SMP dan SMA, dengan kurikulum yang memasukkan pertanian sebagai bagian dari pendidikan sehari-hari.

“Anak-anak di sana belajar tanpa membayar. Mereka tidak hanya diajarkan akademik umum, tapi juga keterampilan bertani, agar bisa tetap dekat dengan tanah dan tidak tercerabut dari akar mereka,” kata Nirwana.

Kunjungan terakhir dilakukan di SPP Pangandaran, di mana para peserta berdiskusi dengan Pak Arif, Ketua SPP Pangandaran. Diskusi berlangsung hangat membahas strategi membangun organisasi baru serta mengurai konflik wilayah pesisir, terutama yang berkaitan dengan akses nelayan dan petani terhadap lahan di tepi pantai.

Membangun Jaringan, Menumbuhkan Harapan

Kegiatan Youth Exposure ini tidak hanya menjadi wadah pembelajaran, tetapi juga ruang konsolidasi jaringan antarorang muda pedesaan dari berbagai daerah. Mereka berbagi pengalaman, berdiskusi tentang strategi gerakan, hingga merumuskan rencana aksi kolektif untuk memperkuat gerakan kedaulatan pangan di wilayah masing-masing.

Dari kegiatan ini, lahir sedikitnya lima ide usaha kelompok berbasis ekonomi lokal, di antaranya pengembangan benih lokal, pertanian alami, dan pengolahan hasil panen. Setiap peserta juga menulis catatan pembelajaran tertulis tentang strategi pengorganisasian, regenerasi kepemimpinan perempuan, serta penguatan ekonomi kolektif.

“Harapan saya, teman-teman muda yang sudah ikut kegiatan ini bisa mengaplikasikan pembelajaran yang didapat di Komunitas Swabina Pedesaan (KSP) masing-masing. Mereka bisa menjadi penggerak, memperkuat organisasi, dan menjadi bagian dari perubahan yang akan datang,” ungkap Nirwana, menutup wawancara.

Orang Muda di Garis Depan Gerakan Kedaulatan Pangan

Bagi banyak peserta, pengalaman belajar dari SPP menjadi refleksi mendalam tentang arti perjuangan. Di tengah gempuran liberalisasi pasar dan krisis regenerasi petani, organisasi seperti SPP menunjukkan bahwa kekuatan rakyat berakar pada solidaritas dan pengorganisasian. Kegiatan ini juga menegaskan kembali pentingnya peran orang muda dalam menjaga kesinambungan gerakan petani dan memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Penulis: Dona Rahayu

Tulisan ini telah terbit di Buletin Bina Desa Edisi 152

 

Artikel terkait