Kaum Muda Pedesaan Diajak Kembali Mengakar: Seminar Bina Desa Gali Isu Kedaulatan Pangan di Tengah Krisis Pangan Global 

Jakarta – Di tengah krisis iklim, dominasi korporasi pangan global, dan semakin terkikisnya ruang hidup petani, Bina Desa menggelar seminar “Pengayaan Kedaulatan Pangan bagi Kaum Muda Pedesaan”. Kegiatan ini bukan sekadar ruang diskusi, melainkan panggilan pulang bagi generasi muda untuk kembali mengakar pada tanah, komunitas, dan nilai-nilai kedaulatan atas hidup mereka sendiri. (20/03/2025).

Seminar ini menghadirkan Dwi Astuti, Ketua Pengurus Bina Desa, sebagai narasumber utama. Dalam pengantarnya, Dwi mengajak peserta untuk tidak hanya memikirkan pangan sebagai soal konsumsi semata, tetapi juga sebagai persoalan politik, budaya, dan identitas. 

“Pernahkah kalian bertanya, dari mana makanan kalian berasal? Siapa yang menanamnya? Apakah prosesnya merusak alam, atau justru menyuburkan kehidupan?”, tanya Dwi di hadapan peserta seminar. 

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa pangan tidak netral. Ia diproduksi dalam relasi kuasa, dalam sistem ekonomi yang seringkali tidak adil, dan dalam situasi global di mana segelintir korporasi mengendalikan apa yang kita tanam, konsumsi, bahkan pikirkan tentang pangan. 

Kedaulatan Pangan: Pangan Adalah Hak, Bukan Komoditas 

Dalam pemaparannya, Dwi menjelaskan bahwa kedaulatan pangan adalah hak masyarakat—termasuk petani, perempuan, dan komunitas lokal—untuk menentukan sistem pangan dan pertaniannya sendiri. Kedaulatan pangan berpijak pada prinsip keberlanjutan ekologis, keadilan sosial, dan pemenuhan kebutuhan rakyat, bukan keuntungan pasar. 

“Berbeda dengan konsep ketahanan pangan yang hanya menekankan ketersediaan dan akses pangan, kedaulatan pangan mempertanyakan siapa yang memproduksi, bagaimana, dan untuk siapa. Ia menolak ketergantungan pada impor dan industri pangan besar yang mengeksploitasi petani dan merusak tanah,” terang Dwi. 

Ia juga menyoroti bahwa selama ini, kebijakan pangan nasional lebih banyak terjebak dalam paradigma industrialisasi pangan dan orientasi pasar global. Produksi pangan dipacu melalui input kimia dan benih rekayasa genetik, sementara petani dikondisikan untuk bergantung pada teknologi dan produk dari perusahaan transnasional. 

Krisis Pangan dan Hilangnya Pengetahuan Tradisional 

Dwi juga mengungkap potret ketergantungan pangan Indonesia yang memprihatinkan. Negara ini masih sangat bergantung pada impor pangan pokok seperti gandum, kedelai, dan gula. Di saat yang sama, korporasi besar menguasai rantai distribusi benih, pupuk, dan pangan olahan. 

“Ketergantungan ini bukan hanya melemahkan kedaulatan negara, tapi juga menghancurkan pengetahuan dan budaya bertani yang diwariskan turun-temurun, terutama oleh perempuan,” kata Dwi. 

Ia menambahkan, perempuan yang dulunya menjadi penjaga benih dan pengetahuan pangan lokal, kini makin tersingkir dari sistem pertanian modern. Relasi kuasa yang timpang—antara petani dan korporasi, antara negara Utara dan Selatan, juga antara laki-laki dan perempuan—semakin memperlebar jurang ketimpangan dalam sistem pangan kita. 

Kaum Muda: Antara Tantangan dan Harapan 

Di tengah situasi tersebut, peran kaum muda menjadi sangat krusial. Mereka adalah generasi yang menghadapi masa depan dalam krisis, tetapi juga memiliki energi, imajinasi, dan keberanian untuk membayangkan ulang sistem pangan yang adil dan berdaulat. 

Dalam diskusi, muncul potret kaum muda yang memilih kembali ke desa, bertani dengan pendekatan pertanian alami, dan membangun komunitas pangan lokal. Di sisi lain, kaum muda di perkotaan mulai lebih kritis terhadap pilihan konsumsinya, mendukung petani lokal, dan membangun solidaritas ekonomi yang lebih berkeadilan. 

“Pertanian alami bukan sekadar teknik bertani tanpa kimia, tetapi juga cara hidup yang mengembalikan kedaulatan kepada petani, menyuburkan tanah, dan membangun relasi yang sehat antara manusia dengan alam,” jelas Dwi. 

Melalui seminar ini, kaum muda didorong untuk memahami pangan bukan sekadar sebagai soal dapur dan konsumsi, melainkan soal politik kehidupan: siapa yang berhak hidup layak, siapa yang dikorbankan, dan siapa yang mengambil untung dari sistem yang tidak adil. 

Menghidupkan Gerakan Pangan dari Akar 

Seminar ini menegaskan bahwa perubahan sistem pangan harus dimulai dari akar: dari komunitas lokal, dari petani kecil, dari gerakan perempuan, dan dari kesadaran kolektif generasi muda. Membangun kedaulatan pangan bukan kerja sehari dua hari. Ini adalah perjuangan panjang yang membutuhkan keterlibatan lintas generasi, lintas wilayah, dan lintas isu. 

“Kita butuh lebih banyak ruang seperti ini—ruang belajar kritis, ruang berbagi strategi, dan ruang untuk menyulam kembali harapan,” tutup Dwi. 

Dengan semangat “kembali mengakar,” seminar ini menjadi awal dari langkah bersama untuk membangun sistem pangan yang tidak dikuasai pasar dan modal, tapi ditopang oleh nilai gotong-royong, keberlanjutan, dan cinta pada tanah. (Dona)

Saksikan diskusi ini kembali di “Seminar Pengayaan Kedaulatan Pangan Bagi Kaum Muda Pedesaan”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top