Bina Desa

Pentingnya Kepemimpinan dalam Reforma Agraria

Mohamad Shohibuddin* Dalam satu kesempatan, Kepala BPN RI Joyo Winoto pernah menyatakan bahwa 56% aset negeri ini yang terkait dengan sumbersumber agraria dikuasai oleh hanya 0,2% penduduk. Di pihak lain, sementara rata-rata penguasaan tanah oleh petani kian merosot.Saat ini tercatat 7,3 juta ha tanah yang diindikasikan telantar, di mana 1,3 juta ha di antaranya berupa […]

Pentingnya Kepemimpinan dalam Reforma Agraria Read More »

Kolonialisme Dan Historiografi Perkulian Tanah Priangan

Data Buku: ♦ Judul:Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870 ♦ Penulis: Jan Breman ♦ Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014 ♦ Tebal: xvi + 400 halaman ♦ ISBN: 978-979-461-874-5 Globalisasi di tanah Priangan hadir melalui budidaya kopi. Pada level paling bawah atas rantai komoditas global yang menyuplai

Kolonialisme Dan Historiografi Perkulian Tanah Priangan Read More »

Pertanian Diabaikan, Pemerintah terlalu fokus eksploitasi komoditas tambang dan minyak sawit

Reorientasi Pembangunan PEMBANGUNAN Indonesia harus lebih inklusif melalui pengembangan industrialisasi dan pertanian untuk keluar dari pertumbuhan ekonomi rendah. Hasil kajian sejumlah lembaga penelitian memperlihatkan, pilihan strategi pembangunan pasca reformasi ternyata tidak menjawab permasalahan Indonesia. Pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen tidak cukup menyerap tenaga kerja muda yang setiap tahun masuk ke pasar kerja. Produktivitas tenaga kerja

Pertanian Diabaikan, Pemerintah terlalu fokus eksploitasi komoditas tambang dan minyak sawit Read More »

Caleg Perempuan, lebih baik mana representasi atau kualitas?

Pemilu 2014 akan bergulir, caleg perempuan pun memenuhi kuota, hanya soal kualitasnya bagaimana, itu tak ada jaminan bahwa mereka akan mampu memperjuangkan kepentingan perempuan dan hak asai manusia. Mereka yang berlatar belakang aktivis sangat kecil, porsinya hanya sekitar 3 persen. Kebanyakan mereka datang dari dinasti atau oligarki kekuasaan. Figur populer lebih mendominasi di 2014 ini.

Caleg Perempuan, lebih baik mana representasi atau kualitas? Read More »

Kesenjangan Kian Melebar; Rakyat Kian Terabaikan

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kaku belum menciptakan pemerataan kesejahteraan akibat haluan kebijakan yang didikte kekuatan pasar. Pembangunan industri manufaktur dan pertanian yang stagnan membuat kesenjangan pendapatan melebar. (Kompas; 03/4) Secara faktual, ada dua hal yang bisa dicermati. Pertama: dengan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun, pada 2015 penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 255 juta jiwa. Penduduk

Kesenjangan Kian Melebar; Rakyat Kian Terabaikan Read More »

Tajuk Rencana untuk Satinah

Jakarta, BINADESA–Demi kamanusiaan, mesti ada harapan untuk Satinah. Negara mesti menunjukan sikap membela yang nyata. Dua tajuk rencana media nasional Kompas dan Tempo (27/3) seakan menegaskan betapa pentinganya perkara ini; betapa pentinganya Satinah untuk diselamatkan dari hukuman pancung. Ke depan tak hanya menyelamatkan TKI yang rentan dengan lingkungan kerjanya, tapi penting untuk membenahi struktur ekonomi

Tajuk Rencana untuk Satinah Read More »

Sekilas Globalisasi-Neo Liberalisme

  Jakarta, Bina Desa–Campur tangan negara terhadap pasar akan membuat ekonomi nasional justeru melambat dan bobrok. Rezim-rezim proteksionis dituding telah membuat rakyatnya sendiri sengsara dan kekurangan pangan. Untuk itu globalisasi melalui liberalisasi ekonomi sangat dibutuhkan untuk tata perekonomian dunia. Benarkah? India dan Cina yang dulu menolak paket globalisasi dan memilih pembangunan berdasarkan artikulasi nasionalnya sendiri,

Sekilas Globalisasi-Neo Liberalisme Read More »

Prof. Achmad Sodiki: “Negara menyewakan tanahnya sendiri pada rakyat. Ini seperti era Raffles.”

Mantan Hakim Konstitusi RI Tahun 2008 s/d Tahun 2013 Prof.Dr. H.Achmad Sodiki , SH., dalam pernyataanya sebagai ahli dalam sidang gugatan (judcial review) Undang-Undang 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (Perlintan) mengatakan betapa negara ini masih tak juga berpihak pada petani. Petani menunggu janji-janji, tapi tak pernah dipenuhi. Petani jadi kuli—kini bahkan jadi kuli di

Prof. Achmad Sodiki: “Negara menyewakan tanahnya sendiri pada rakyat. Ini seperti era Raffles.” Read More »