Perjuangan Panjang Melestarikan Benih Pangan Lokal

Foto: Petani dampingan dan umbi-umbian Kei Ungu. Doc: Yakines 2020

Perempuan dan benih merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam menjamin kehidupan yang berkelanjutan. Berdasarkan perjalanan panjang itu, saya belajar tentang kemiskinan perempuan pedesaan dan hak-hak mereka yang telah tercerabut oleh kemajuan dan perubahan yang mengakibatkan perempuan hilang dari peran utamanya sebagai pelestari pangan lokal.

Dorongan untuk menumbuhkan kembali peran-peran perempuan untuk menjahit kembali sebagai pemilik utama pangan, maka dari itu saya melakukan kegiatan pengembangan benih pangan lokal dengan cara ;

  • Mendorong pengembangan tanaman umbi-umbian dengan cara menggunakan teknologi pengirisan benih dan mulai mengem-bangkannya kepada semua petani. Cara ini sangat penting untuk menjawab perubahan iklim karena hanya tanaman umbi-umbian yang bisa bertahan dibanding tanaman-tanaman lain. Umbi-umbian ini ditanam di pinggir kebun, selain itu juga menggunakan teknologi olah jalur dan olah lubang. Konsep membawa hutan ke kebun merupakan salah satu hal positif yang terus dikembangkan karena banyak juga jenis umbi-umbian liar yang tumbuh di hutan yang harus dilestarikan dan sebagai sumber daya pangan keluarga.
  • Semua jenis umbi dikembangkan melalui tekonologi olah lubang dan melalui bahan organik yaitu bokasi. Penanaman dilakukan di batas-batas kebun.
  • Mengembangkan tanaman biji-bijian yang tahan terhadap penyakit, yaitu tanaman lokal yang sudah terancam punah seperti sorgum, sela (jail-jali), longa hitam (wijen hitam), longa putih (wijen putih) dengan mendorong petani perempuan untuk melakukan barter benih antar petani. Biji-bijian ini merupakan pangan yang sangat penting dan terancam punah di Manggarai Barat. Petani juga menyiapkan tatap dan teru sebagai wadah tradisional untuk menyimpan benih tersebut. Jenis kacang-kacangan lokal yang sudah terancam punah. Jenis kacang-kacangan yang terancam punah dikumpulkan oleh petani dan dibagikan kemudian mereka juga melakukan barter benih sehingga kacang-kacangan lokal tersebut mulai berkembang di desa dampingan. Jenis kacang-kacangan tersebut menjadi salah satu sumber protein keluarga tani dan cara penanaman dengan menggunakan metode pertanian organik.
  • Melestarikan jenis-jenis padi lokal yang sudah tidak ditanam lagi oleh petani. Padi ini berasal dari kabupaten Manggarai Barat sebanyak 785 jenis benih yang terdiri dari 500 jenis benih padi lokal Lale (padi laka lontoh dari kampung Lontoh dan lea dari kampung Nisar desa Nangabere) yang dilestarikan di kampung Lontoh desa Lendong dan tetap dilakukan proses pemuliaan sampai saat ini menuju tahap F11.
  • Pengembangan sayur-sayuran lokal yang sekarang sudah terancam punah. Sayur-sayuran lokal ini didorong untuk dikembangkan kembali sehingga keluarga tani dapat memastikan bahwa sayuran itu berasal dari kebun, yang tahan hama dan penyakit serta tahan akan perubahan iklim. Benihnya disimpan dalam teru dan tatap, sehingga petani tidak kekurangan sayur-sayuran lokal.

Perempuan di desa menjadi aktor utama dalam kegiatan–kegiatan di atas. Penggunaan alat penyimpanan utama yaitu tatap dan teru yang terbuat dari bambu. Untuk memelihara ketahanan benih pangan lokal khusus biji-bijian yaitu dengan cara setiap jenis tanaman yang ada disimpan dalam tatap dan teru dan selalu dilakukan penjemuran setiap tiga bulan untuk memastikan benih tersebut tetap terjaga sehingga dapat digunakan pada musim tanam berikutnya. Selain itu petani juga melakukan siwa / peleng (seleksi) benih untuk menjamin keberadaan benih pangan. Siwa / peleng (seleksi) benih dianjurkan kepada petani untuk dilakukan sebanyak lima kali luas lahan kebun petani.

Melakukan penanaman pangan lokal secara terbatas untuk dijadikan benih pada musim tanam berikut agar tidak musnah. Ini me-rupakan salah satu cara cemerlang dalam usaha untuk menjamin keberlanjutan benih . Kita perlu mengingat bahwa satu benih yang kita tanam akan menghasilkan ribuan jenis tanaman pangan lokal untuk keluarga-keluarga di desa. Beberapa jenis pangan lokal juga dapat digunakan untuk pestisida organik dan fungisida. Selain teknologi olah lubang ada juga teknologi olah jalur yang mempermudah proses perkembangan meningkatnya benih pangan lokal. Memastikan seluruh anggota keluarga mengkonsumsi pangan lokal di rumah.

Pengembangan jenis-jenis pangan lokal merupakan salah satu agenda penting untuk menjawab perubahan iklim yang tidak pasti. Cara–cara tersebut di atas untuk menjamin kedaulatan pangan di masa krisis iklim ini menjadi pelajaran penting bagi semua orang untuk kembali membudidayakan pangan lokal di desa dan memastikan jenis pangan lokal tersebut menjadi salah satu jenis makanan utama dalam keluarga secara berkelanjutan dan bisa membangun kedaulatan pangan.

Pesan utama untuk para perempuan dalam menghadapi perubahan iklim wajib menggunakan cara-cara sederhana untuk mengembangkan jenis-jenis pangan secara berkelanjutan dengan teknologi organik.

***

Gabriela Uran – Penulis merupakan Direktur Yayasan Komodo Indonesia Lestari.

ARTIKEL TERKAIT

HTNM Gelar Pendidikan Advokasi Bagi Petani

Podcast Pangan dan Gizi

Buletin 148

Regional Conference APEX: Memperkuat Gerakan Kedaulatan Pangan, Mengubah Sistem Pangan, Menegaskan Keadilan Iklim

Pestisida Kimia dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Inisiatif Komunitas Swabina Pedesaan Sallasae Dalam Menyelenggarakan Kemah Pemuda