Apa itu Nalungtik Lembur Kuring ?

Ibu-Ibu Desa anggota Sauyunan di Cianjur melakukan penelitian atas desanya sendiri secara cermat, ilmiah dan konkrit (Foto: Yani Andre)

BOJONG KASIH CIANJUR, BINADESA.ORG–Nalungtik Lembur Kuring merupakan metode yang ditemukan dan dipraktikan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam Sauyunan Perempuan Petani Binangkit (SPPB), Kecamatan Kadupandak, Cianjur, Jawa Barat. Nalungtik Lembur Kuring ini bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kurang lebih artinya meneliti kampung sendiri (baca : saya). Metode ini hampir sama dengan PRA (partisipatory rural appraisal). Namun pada NLK ini yang menginvestigasi adalah orang yang tinggal di desa itu sendiri dan mengundang orang-orang yang ada di sekitar desa, termasuk para peneliti menjadi narasumber. Ada sekitar 8 alat-alat yang dipakai para peneliti dalam proses NLK ini, antara lain : 1) Penelusuran Sejarah Desa, 2) Analisa Bagan Kecenderungan, 3) Pemetaan, 4) Kalender Musim, 5) Diagram Venn, 6) Analisa Kehidupan Sehari-hari, 7) Alur Keluar dan Masuk, 8) Transek.

Setelah mengadakan proses NLK selama satu bulan, para perempuan dari 7 desa di Kecamatan Kadupandak ini, yang tergabung pada SPPB ini melakukan finalisasi hasil NLK pada pada tanggal 8 – 10 Agustus 2017 di dua desa. Empat desa (Desa Wargasih, Desa Wargasari, Desa Neglasari dan Desa Sukasari) melakukan finalisasi di Desa Wargasih yang difasilitasi oleh Yani Andre dan Subekti sedangkan 3 desa lainnya (Desa Gandasari, Desa Talagasari dan Desa Bojong Kasih) melakukannnya di Desa Bojong Kasih yang difasilitasi oleh John Erryson dan John Pluto Sinulingga.

Sebelum melakukan finalisasi dilakukan beberapa tahapan proses, antara lain ; workshop tentang NLK di Neglasari pada tanggal 20 – 22 April 2017 yang difasilitasi oleh Yani Andre dari Garut dan John Pluto Sinulingga staff Bina Desa. Kemudian setelah Workshop ibu-ibu melakukan proses NLK di desa masing-masing secara mandiri. Selanjutnya hasil dari proses NLK ini pada saat bersmaan secara parallel di presentasikan SPPB pada tanggal 10 – 12 Juli 2017 di Desa Bojong Kasih dan  di Desa Wargaasih.

Menurut Masripah,  seorang peserta dari Desa Gandasari, “Kegiatan NLK ini merupakan salah satu metode di mana orang-orang desa seperti kami dapat mengetahui keadaan dan kondisi desa dari dulu sampai dengan sekarang”.

Di proses NLK ini kami diajak untuk mengamati, mencari dan mengingat-ingat kembali tentang desa kami dan sekaligus berpikir dan menganalisa dari setiap data dan informasi yang sudah terkumpul. Memang dalam prosesnya butuh kesabaran dan ketelitian, terutama pada saat menganalisa, ini merupakan tahapan yang membuat kepala kami lieur (bingung). Tapi saya pikir ini proses ini akan membuat kami lebih cerdas dan lebih runtut dalam melihat permasalah-permasalahan yang ada di desa kami tegas Masripah.

Tim NLK dari desa Warga asih setelah menyelesaikan NLK menuju proses berikutnya, yakni mempersiapkan laporan komplit untuk dipresentasikan dihadapan Camat Kadupandak dan pemerintah Desa (Foto: Imas Maesaroh/Bina Desa)

Perempuan Desa juga bisa Ilmiah dan konkrit

Salah seorang fasilitator mengatakan bahwa alur yang dipakai dalam finalisasi NLK itu memang berat. Hasil NLK itu akan menghadirkan permasalahan-permasalahan dan identifikasi potensi. Dengan teridentifikasi permasalahan kita akan beranjak kepada tahapan klasifikasi permasalahan, dari sosial, ekonomi, politk, budaya atau lingkungan.  Setelah itu dilanjutkan dengan analisa sebab – akibat dengan menggunakan kata bantu “kenapa” secara berulang-ulang sampai menemukan yang namanya akar permasalahan. Perempuan desa juga bisa lakukan hal yang ilmiah serta konkrit hasilnya bisa bermanfaat bagi dirinya, maupun pengambil kebijakan agar tepat sesuai kenyataan.

Kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi potensi di desa dengan tetap memakai hasil NLK. Dan tahapan terakhir dari alur finalisasi ini adalah menyusun perencanaan kegiatan/program berdasarkan analisa yang sudah dirumuskan.

Kartini Koordinator SPPB, menambahkan bahwa dengan metode NLK ini kami menemu kenali permasalahan dan potensi yang ada di desa. Mampu pula mengatasi masalah dan memanfaatkan potensi desa, mengubah cara berpikir masyarakat desa, memajukan kehidupan masyarakat desa. Dan menurut kami dengan NLK ini kami semakin yakin mampu untuk memajukan pertanian alami untuk kedaulatan pangan. “Kedaulatan pangan yang kamu maksud di sini adalah keluarga sehat dengan asupan makanan yang sehat, tidak tergantung impor, biaya usaha tani irit, kebutuhan keluarga dapat dipenuhi secara mandiri, petani punya ilmu (kearifan lokal) yang dapat diwariskan turun-temurun” ujarnya semangat.

Dan pada akhir dari kegiatan finalisasi ini John Erryson mengatakan, “Saya takjub dengan semangat dan keseriusan ibu-ibu dalam mengikuti  beberapa rangkaian proses NLK ini”. Harapannya dengan proses NLK ini dengan berbagai temuan data dan informasi tidak hanya selesai di ruangan saja. Namun harus ada jejak yang ibu-ibu lakukan untuk mewarnai Lembur  (kampung) yang ditinggali (bd030)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

Menilik Hilangnya Kontrol Perempuan Petani Atas Benih

Perjuangan Panjang Melestarikan Benih Pangan Lokal

HTNM Gelar Pendidikan Advokasi Bagi Petani

Podcast Pangan dan Gizi

Buletin 148

Regional Conference APEX: Memperkuat Gerakan Kedaulatan Pangan, Mengubah Sistem Pangan, Menegaskan Keadilan Iklim