Bina Desa

Kemitraan Agroekologi Gandeng Media, Bulukumba Jadi Ruang Kolaborasi

Warta Bulukumba – Aroma kopi yang memenuhi ruangan Kedai Kopi Litera berpadu dengan percakapan tentang tanah, pangan, dan masa depanĀ  pertanian Indonesia. Lebih dari sekadar diskusi santai, pertemuan pada Rabu malam, 22 Juli 2026 itu menjadi ruang bertemunya pegiat agroekologi dan insan media untuk merancang kolaborasi yang lebih erat dalam menyebarluaskan praktik-praktikĀ  pertanian berkelanjutan.

Diskusi berlangsung di Kedai Kopi Litera, Kelurahan Palampang, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Hadir dalam pertemuan itu Hartati dari Yayasan Bina Desa, Sri Puswandi, Anggota Dewan Pengarah Kemitraan Agroekologi, serta Alfian Nawawi, Pemimpin Redaksi WartaBulukumba.com.

Berbagai isu mengemuka, mulai dari tantangan regenerasi petani, perlindungan lingkungan, hingga pentingnya memperluas ruang publik bagi cerita-cerita inspiratif dari desa.

Peran penting media memperkenalkan praktik agroekologi

Anggota Dewan Pengarah Kemitraan Agroekologi, Sri Puswandi, mengatakan media memiliki peran penting dalam memperkenalkan praktik agroekologi kepada masyarakat luas.

“Banyak praktik baik yang sudah dilakukan petani di berbagai daerah, tetapi belum banyak diketahui publik. Di sinilah media memiliki peran strategis untuk mengangkat cerita-cerita itu sehingga bisa menjadi inspirasi dan mendorong perubahan yang lebih luas,” ujarnya. Sementara itu, Hartati dari Yayasan Bina Desa menilai kolaborasi dengan media merupakan bagian penting dalam memperkuat gerakan agroekologi.

“Agroekologi bukan hanya berbicara soal teknik bertani, tetapi juga menyangkut keberlanjutan lingkungan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. Informasi yang akurat dan mudah dipahami akan membantu memperluas pemahaman publik mengenai nilai-nilai tersebut,” katanya.

Mitra strategis

Dalam diskusi tersebut, media diposisikan bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai mitra strategis yang mampu menghubungkan pengalaman petani, hasil penelitian, serta kebijakan publik menjadi narasi yang mudah dipahami masyarakat.

Pemimpin Redaksi WartaBulukumba.com, Alfian Nawawi, menyambut baik peluang kolaborasi tersebut. Menurutnya, isu agroekologi memiliki nilai jurnalistik yang kuat karena menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

“Media, terutama media lokal, memiliki kedekatan dengan komunitas. Kami ingin menghadirkan liputan yang tidak hanya memberitakan persoalan, tetapi juga menampilkan solusi, inovasi, dan praktik baik yang lahir dari masyarakat,” ujarnya.

Pertemuan itu juga membahas peluang menghadirkan liputan kolaboratif, pelatihan jurnalistik bertema agroekologi, hingga penguatan jejaring media agar informasi mengenai pertanian berkelanjutan dapat menjangkau lebih banyak daerah. Diskusi ditutup dengan komitmen untuk membangun sinergi yang berkelanjutan antara organisasi masyarakat sipil, pegiat agroekologi, dan media massa. Harapannya, semakin banyak kisah dari kebun, sawah, dan desa yang tidak berhenti sebagai pengalaman lokal, tetapi tumbuh menjadi pengetahuan bersama yang menginspirasi perubahan.***

Artikel ini merupakan artikel dari wartabulukumba.com

Artikel terkait