Bina Desa

Dari Bantaeng hingga Polewali Mandar, ToT Pertanian Berkelanjutan Cetak Fasilitator Transisi Hijau

Warta Bulukumba – Ada percakapan-percakapan pagi di balai desa. Telapak tangan petani masih menyimpan bekas lumpur yang mengering, sementara wajah-wajah yang dipanggang matahari musim tanam memantulkan kesabaran yang panjang. Ada yang mencari jawaban mengapa musim tak lagi setia pada kalender yang diwariskan leluhur.

Dari ruang belajar sederhana di desa-desa Bantaeng hingga Polewali Mandar, lahirlah ikhtiar baru: membekali petani agar bukan hanya mampu bertahan menghadapi krisis iklim, tetapi juga menjadi pengajar bagi komunitasnya sendiri melalui Training of Trainers (ToT) Pertanian Berkelanjutan dalam program Bertransisi Menuju Ketahanan Hijau: Membangun Komunitas  Pertanian yang Inklusif dan Berkelanjutan, hasil kemitraan Fair Trade International dan Bina Desa dengan dukungan Uni Eropa.

Rangkaian pelatihan berlangsung di Komunitas Tunas Mandiri, Desa Pattallasang, Kabupaten Bantaeng (28–30 Juni 2026), dilanjutkan di SPA Butta Toa, Desa Biangloe, Kabupaten Bantaeng (1–3 Juli 2026). Setelah itu, pembelajaran berlanjut di Komunitas Pada Kita, Desa Kelapa Dua, Kabupaten Polewali Mandar (7–9 Juli 2026), SPPM Desa Bumi Mulyo (10–12 Juli 2026), dan ditutup bersama Lantera Desa Sambaliwali (14–16 Juli 2026)—membentuk mata rantai fasilitator yang kelak akan membawa pengetahuan itu kembali ke sawah, kebun, dan keluarga petani.

Di ruang belajar seperti itulah gagasan tentang pertanian berkelanjutan dipindahkan dari buku ke pengalaman nyata petani. Tidak ada podium yang menciptakan jarak. Yang terdengar justru cerita tentang sawah yang makin cepat retak, biaya pupuk yang terus naik, hingga anak-anak muda yang memilih meninggalkan ladang.

Selama hampir tiga pekan, Program “Bertransisi Menuju Ketahanan Hijau: Membangun Komunitas Pertanian yang Inklusif dan Berkelanjutan” yang merupakan kemitraan Fair Trade International dan Bina Desa dengan dukungan Uni Eropa, menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Pertanian Berkelanjutan di lima komunitas petani.

Rangkaian kegiatan dimulai di Komunitas Tunas Mandiri, Desa Pattallasang, Kabupaten Bantaeng pada 28–30 Juni 2026, dilanjutkan di SPA Butta Toa, Desa Biangloe, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan pada 1–3 Juli 2026. Pelatihan kemudian bergeser ke Sulawesi Barat, di Kabupaten Polewali Mandar, yakni di Komunitas Pada Kita, Desa Kelapa Dua (7–9 Juli 2026), SPPM Desa Bumi Mulyo (10–12 Juli 2026), dan ditutup bersama Lantera Desa Sambaliwali pada 14–16 Juli 2026.

ToT Pertanian Berkelanjutan siapkan fasilitator komunitas

Berbeda dengan pelatihan pertanian konvensional, peserta tidak hanya mempelajari teknik budidaya. Mereka diajak memahami hubungan antara krisis iklim, agroekologi, pertanian alami, regenerasi petani, perdagangan yang berkeadilan, kesetaraan gender, hingga metode pendidikan orang dewasa. Setiap sesi berlangsung partisipatif melalui diskusi kelompok, pemetaan pengalaman, refleksi lapangan, praktik microteaching, penyusunan rencana pembelajaran, serta penyusunan aksi lanjutan yang akan diterapkan di komunitas masing-masing.

Target akhirnya sederhana tetapi besar dampaknya: setiap peserta mampu menjadi fasilitator yang memperluas pengetahuan kepada petani lain. Kepala Bidang Pendidikan dan Pengorganisasian Bina Desa, Hartati, yang menjadi penanggung jawab kegiatan, mengatakan penguatan kapasitas petani tidak boleh berhenti pada peningkatan keterampilan individu.

“Yang kami bangun bukan hanya kemampuan peserta memahami pertanian berkelanjutan, tetapi kemampuan mereka menghidupkan proses belajar di komunitas. Pengetahuan harus terus berputar di desa,” ujarnya kepada WartaBulukumba.com pada Ahad, 26 Juli 2026.

Pertanian berkelanjutan lahir dari pengalaman petani

Hartati menjelaskan perubahan iklim telah menghadirkan tantangan baru bagi keluarga petani. Musim tanam semakin sulit diprediksi, biaya produksi meningkat, sementara kualitas sumber daya alam terus menurun. Karena itu, pendekatan agroekologi dinilai bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bagian dari strategi membangun ketahanan komunitas.

Menurutnya, pelatihan juga sengaja memberi ruang lebih besar kepada perempuan, pemuda, dan kelompok yang selama ini belum banyak terlibat dalam proses pengambilan keputusan di organisasi tani.

“Kalau ingin pertanian bertahan dalam jangka panjang, regenerasi petani harus berjalan. Perempuan dan anak muda perlu memperoleh ruang belajar yang sama karena mereka akan menjadi penggerak perubahan berikutnya,” kata Hartati.

Selama tiga hari di setiap lokasi, peserta mengikuti enam unit pembelajaran, mulai dari orientasi krisis iklim, praktik produksi berkelanjutan, perdagangan yang adil, metodologi fasilitasi, praktik mengajar, hingga dokumentasi perubahan di komunitas.  Pelatihan itu menjadi fondasi sebelum peserta kembali ke desa masing-masing untuk menyelenggarakan pendidikan  pertanian berkelanjutan secara mandiri.

Ketika ruang-ruang belajar telah dibongkar dan papan tulis kembali kosong, pekerjaan sebenarnya justru baru dimulai. Sebab perubahan tidak selalu lahir dari mesin besar atau kebijakan megah, melainkan dari seorang petani yang pulang membawa cara pandang baru—lalu mengajarkannya kepada tetangganya, di bawah langit yang kini semakin menuntut manusia untuk kembali berdamai dengan alam.***

Artikel ini merupakan artikel dari media wartabulukumba.com

Artikel terkait