Bina Desa

Kesejahteraan Petani Masih Terabaikan

Berbagai masalah masih melanda petani dan masyarakat pedesaan. Seperti masalah akses dan kontrol atas tanah, air, benih, konflik agraria, belum adanya perlindungan harga produk pertanian bagi para petani kecil serta serbuan pangan impor murah yang menyebabkan anjloknya harga produk pertanian dalam negeri. Terkait dengan Rencana Strategis 2010-2014 Kementerian Pertanian dan lebih jauh Rencana Strategis Pemerintahan […]

Kesejahteraan Petani Masih Terabaikan Read More »

Mempertimbangkan kembali nasib manusia (di tengah kemarau)

Data Buku : Judul                : KEMARAU Pengarang       : A.A NAVIS Terbit              : GRASINDO, Cetakan VI, Agustus 2003 Tebal               : X + 118 halaman   Judul di atas segera mengajukan pertanyaan, apa yang dipertimbangkan? Nasib? Tulisan ulasan tentang novel ‘Kemarau’ karya A.A Navis ini tidak hendak membahas nasib sebagai sebuah kaidah langit dan bumi,

Mempertimbangkan kembali nasib manusia (di tengah kemarau) Read More »

G-20, politik Negara maju atasi krisis?

Harapan agar G-20 memiliki peran yang besar dalam mengatasi krisis global, menciptakan kesetaraan dan keadilan hanya ilusi. Sebab G-20 tidak menjawab persoalan krisis secara subtansial melainkan lebih terarah untuk mempertahankan Kapitalisme baik Kapitalisme ala Anglo-Saxon maupun ala Eropa Continental. Hal tersebut dinyatakan pemerhati ekonomi politik Internasional Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI. Menurutnya, justru G-20 menjadi sarana

G-20, politik Negara maju atasi krisis? Read More »

Pupuk Ramah Lingkungan dari Rumput Laut

“Berbagai jenis rumput laut yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis ternyata bisa digunakan sebagai bahan baku pupuk organik. Kandungan unsur hara mikro dan makronya lebih tinggi dari pupuk urea.” Lautan menyimpan begitu banyak sumber daya hayati yang bernilai jual tinggi. Selain beragam jenis ikan, kekayaan laut lainnya yang bermanfaat bagi manusia ialah rumput laut. Selama

Pupuk Ramah Lingkungan dari Rumput Laut Read More »

Rapuh Sejak Fondasi

Pertumbuhan ekonomi dalam dua periode pemerintahan cenderung mengorbankan pemerataan. Pembaharuan agraria secara konsisten, reformulasi distribusi modal, dan pemihakan sektor pertanian secara luas sebagai landasan pembangunan jangka panjang, secara substansial sama sekali tidak jalan. Akibatnya, bangsa ini harus menanggung beban yang kian berat dalam transformasi masyarakat miskin kepada kesejahteraan sosial yang adil dan modern. Beban yang

Rapuh Sejak Fondasi Read More »

WTO Minus Kepentingan Nasional Kita

Sebagai negara yang ikut mendirikan WTO (World Trade Organization) Indonesia hari ini justeru menjadi negara dengan kemiskinan parah, ketimpangan yang melampaui ambang batas, ancaman krisis pangan dan kelaparan yang terus menghantui, juga korupsi yang merugikan negara dan rakyat. Jadi apa keuntungan yang kita peroleh selama ini dari WTO? “Paket Bali” yang akhirnya disepekati (07/12)—berisi proposal

WTO Minus Kepentingan Nasional Kita Read More »

Jungkir Balik Penguasaan SDA di Indonesia

Sejak awal kemerdekaan, Indonesia memperoleh devisa dari ekspor minyaknya, meskipun bukan satu-satunya. Krisis bahan bakar dunia bermula pada 1973 ketika harga minyak mentah melonjak dari US$ 2 menjadi US$ 12 per barel. Pemerintah ketika itu memandang periode 1973 sampai 1979 sebagai masa kejayaan sektor minyak, walaupun produksinya hanya 2,13 persen dari total produksi minyak dunia.

Jungkir Balik Penguasaan SDA di Indonesia Read More »

Tanpa Perlindungan, Petani Makin Tergilas Kepentingan Industri

Kebijakan pangan nasional yang diambil pemerintah saat ini dinilai tidak memberikan perlindungan terhadap petani. Kebijakan yang ada juga tidak mewujudkan kedaulatan dan kemandirian pangan nasional, tetapi lebih ke arah politik pencitraan dengan adanya kebijakan bebas bea masuk pangan impor, konversi lahan berorientasi industri, dan tiadanya perlindungan pada petani kecil. Petani kecil pun bisa dipastikan makin

Tanpa Perlindungan, Petani Makin Tergilas Kepentingan Industri Read More »

Komunitas Sidojoyo, Harmoni Alam dan Kesejahteraan Bersama

Menjadi sejahtera tidak berarti harus ditempuh dengan segala cara, apa lagi dengan individualism dan merusak harmoni alam. Sebaliknya, menjadi sejahtera bisa, dan memang seharusnya dilakukan dengan cara bersama-sama, dan tanpa merusak tata kehidupan alam se-isinya, pohon belukar dan seekor tikus sekali pun. Pandangan harmoni semacam itu tertuang dalam Sarasehan harlah ke V komunitas ‘Sido Joyo’

Komunitas Sidojoyo, Harmoni Alam dan Kesejahteraan Bersama Read More »

Pertanian Alami, Perempuan dan Reforma Agraria Adalah Satu Paket

Demi mendorong dan makin memantapkan pelembagaan desa mandiri khususnya di wilayah dampingan Bina Desa, pada ranah pertanian alami Bina Desa mentargetkan peningkatan perluasan Pertanian Alami dari 183 ha menjadi 320  Ha, dari 66 Rumah Tangga menjadi 115  Rumah Tangga. Salah satu tantangan terberat selama ini dalam mengembangkan pertanian alami salah satunya adalah persoalan lahan yang

Pertanian Alami, Perempuan dan Reforma Agraria Adalah Satu Paket Read More »