Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli kita menyoroti kembali hak pemenuhan gizi yang layak untuk di konsumsi anak-anak di tengah gempuran makanan cepat saji. Sejumlah data dan kajian yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukan tingginya peningkatan kasus diabetes pada anak dan remaja yang berhubungan erat dengan pola konsusmsi makanan olahan dan cepat saji. Sehingga para ahli gizi menhimbau para orang tua untuk mengubah pola makan menuju pangan asli yang bersumber dari pertanian yang berkelanjutan.
IDAI mencatat bahwa sedikitnya 1.645 anak di kota-kota besar menderita diabetes pada tahun 2023. Dalam kurun waktu satu dekade banyak anak-anak dan remaja terdianogsis diabetes militus type 2 yang secara historis lebih banyak diderita orang dewasa. Angka ini naik cukup tinggi sebanya 70 kali lipat dibandingkan pada tahun 2010. Penyebab utama yang ditemukan para ahli gizi ini adalah tingginya konsumsi tinggi gula, lemak jenuh, garam dan minimnya serat dan minimnya zat gizi yang lengkap.
Kementrian Kesehatan RI juga mencatat selama kurun waktu 2024-2026 terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada kasus diabetes pada kelompok usia remaja sebanyak 35 persen. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 yang menunjukkan bahwa hampir separuh anak usia 3 hingga 14 tahun mengonsumsi makanan dan minuman manis lebih dari satu kali sehari, sementara enam dari sepuluh anak kelompok usia tersebut terbiasa mengonsumsi makanan olahan dengan pengawet minimal satu kali dalam seminggu. Sebanyak 19,7 persen anak usia 5 hingga 12 tahun tercatat mengalami kegemukan dan obesitas, kondisi yang menjadi faktor pemicu utama timbulnya diabetes sejak usia dini.
Kembali ke Akar, konsumsi pangan berkelanjutan
Mengatasi persoalan makanan instan dan cepat saji, orang tua seharusnya lebih selektif dalam pemberian bahan konsumsi anak, pengawasan orang tau terhadap bahan yang dikonsumsi juga seharusnya menjadi perhatian yang lebih ekstra. Jika berbicara pangan yang sehat kita dapat kembali pada akar, bahwa kembali pada pangan yang dihasilkan secara alami, jauh dari penggunaan bahan kimia sintetis dan residu dan pestisida. Hal ini tentunya akan berdampak pada pola pertumbuhan anak dan keseimbangan kebutuhan gizi yang diperlukan oleh tubuh. Pangan yang sehat dan segar akan membawa zat gizi yang baik dan menjamin penyerapan yang sehat tanpa risiko adanya penumpukan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh anak yang masih berkembang.
Pangan yang sehat tidak begitu saja tersedia di rak pasar atau di atas meja makan, di balik setiap sepiring nasi, sayur, buah, jagung, maupun kacang dan pangan lokal lainnya, tersimpan kerja keras para petani. Ketika kita memperjuangkan hak setiap anak untuk memperoleh pangan yang sehat, kita sekaligus harus memperjuangkan hak para petani untuk hidup layak dan mendapatkan dukungan yang cukup, agar mereka mampu terus menghasilkan pangan sehat bagi seluruh masyarakat secara berkelanjutan.
Petani kecil merupakan tonggak sistem utama pangan Indonesia, namun mereka kerap dibebani berbagai tantangan, harga jual hasil produksi yang rendah, biaya sarana produksi yang mahal, serta keterbatasan akses terhadap lahan, air, teknologi, pasar, dan pembiayaan yang melemahkan posisi tawar mereka. Hal ini terasa lebih berat bagi petani yang memilih menerapkan Pertanian Alami, di tengah sistem yang masih banyak memihak penggunaan bahan kimia dan keuntungan jangka pendek. Maka, keberpihakan kepada petani kecil pengelola Pertanian Alami bukan sekadar membantu mereka, melainkan bentuk investasi agar anak-anak Indonesia tetap dapat menikmati pangan sehat, hari ini maupun di masa depan.
Oleh karena itu, memberikan makan anak yang sehat, tidak hanya sekedar kenyang akan memberikan dampak bagi daya tahan tubuh, menstabilkan energi dan mendukung perkembangan anak seutuhnya, juga merupakan dukungan dari masyarakat untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mendukung petani kecil. Namun jika orang tua dan anak telah mengalami ketergantungan pada makanan cepat saji yang praktis dan instan tentunya akan mengikis kualitas kesehatan generasi penerus bangsa serta tidak mendukung upaya petani kecil yang beralih pada pertanian berkelanjutan. Maka mengubah pola makan keluarga dengan beralih ke pangan alami dan lokal dan membatasi diri dari mengonsumsi pangan olahan instan merupakan pilihan yang mendesak untuk segera dilakukan, dan tantangan ini juga merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya konsumen, tetapi juga mencangkup produsen, kebijakan dari pemangku kepentingan bahwa membatasi produk pangan yang instan dan cepat saji perlu segera untuk di benahi. (DR)
Daftar Pustaka
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2023). Data kasus diabetes melitus pada anak di 15 kota besar Indonesia. Dikutip dari Bintang Tenggara: https://www.bintangtenggara.net/kesehatan/3922841574/tekan-angka-diabetes-anak-idai-dorong-regulasi-iklan-makanan-siap-saji
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Data kasus diabetes pada kelompok usia remaja, per Mei 2026. Dikutip dari LPP RRI: https://rri.co.id/sungaipenuh/features/2450843/lonjakan-kasus-diabetes-pada-remaja-gaya-hidup-jadi-faktor-utama
Survei Kesehatan Indonesia. (2023). Data konsumsi makanan olahan dan status gizi anak usia 3–14 tahun. Dikutip dari Liputan6: https://today.liputan6.com/5897892
Pusat Informasi dan Kajian Pangan dan Gizi. (2024). Peran pangan lokal dan pangan alami dalam pemenuhan gizi anak. PLOS One. Tersedia di: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0154139




