Rembug Rakyat Desa Sudah dimulai, Untuk Indonesia yang Berkeadilan Sosial

Suasana seren taun Kaolotan Cibadak, Banten sekaligus dimulainya Rembug Rakyat Desa di Balai Adat Kaolotan Cibadak. (Foto : Ruhandi).

BANTEN, BINADESA.ORG –Pemerintah Desa Warungbanten dan Bina Desa mengadakan Rembug Rakyat Desa yang diselenggarakan selama enam hari (25-30/09/2017) bertempat di Balai Adat Kaolotan Cibadak. Rembug Rakyat Desa merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Tani Nasional 2017.  Adapun rangkaiannya yaitu kegiatan seren taun, rembug rakyat desa, refleksi nasional dan pendidikan pertanian alami.

Peserta rembug rakyat desa yang hadir berasal dari 12 provinsi (Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah) duduk sama rata untuk berembug. Adapun temanya adalah “Desa yang Berdaulat untuk Indonesia yang Berkeadilan Sosial”.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri oleh Pembina, Tim koordinator Bina Desa, Koordinator Umum Bina Desa yang sekaligus Kepala Sekolah Pedesaan (SEPEDA), Mardiah Basuni, Wikanta dari Kaolotan Cibadak berkesempatan memberikan pidato pembukaan, serta Kepala Desa Warungbanten dan masyarakat Cibadak.

Sisi kiri : Koordinator Umum Bina Desa yang juga Kepala SEPEDA, Mardiah Basuni dalam pembukaan Rembug Rakyat Desa. (Foto : Gina Nurohmah/Bina Desa).

Pada pembukaannya, Mardiah menyampaikan bahwa kegiatan ini sekaligus menyambut hari kemenangan tani di Indonesia, yaitu Hari Tani Nasional. Terdapat dua point penting yaitu rembug desa dan kedaulatan desa. Rembug dapat dipahami dengan arti musyawarah, yaitu berunding tentang situasi dan kondisi desa kita, apa yang dimaksud dengan desa, siapa yang ada di dalam desa, dan bagaimana desa kita sekarang ini. Berdaulat dapat dimaknai juga dengan kemerdekaan berpikir dan berekspresi. “Sudah saatnya para petani, nelayan, buruh tani, buruh nelayan mengekspresikan pengetahuan dan ilmunya. Prinsip yang diletakkan dalam rembug rakyat desa adalah kesejajaran, kesamaan, keharmonisan karena semua mempunyai kepentingan untuk mewujudkan desa yang berdaulat” imbuh Kepala SEPEDA.

Tokoh Kaolotan Cibadak, yaitu Wikanta yang juga tokoh SABAKI mengucapkan selamat datang untuk para peserta rembug rakyat desa dan juga selamat menikmati suguhan budaya dalam rangkaian acara seren taun. “Kami dari kasepuhan mendukung kegiatan-kegiatan yang sifatnya untuk kemajuan” imbuhnya.

Rembug rakyat desa yang diwarnai keberagaman pesertanya baik dari suku, profesi, dan usia ini diharapkan mampu menghasilkan suatu resolusi yang menjadi cita-cita dan harapan kita semua yaitu desa yang berdaulat. Berdaulat dapat dimaknai dengan mandiri, yaitu mandiri dalam bertindak, mandiri dalam memanfaatkan, mandiri dalam mengelola sumber daya yang ada di desa. Bina Desa menyebutnya Komunitas Swabina Pedesaan (KSP). (bd031)

ARTIKEL TERKAIT

Menilik Hilangnya Kontrol Perempuan Petani Atas Benih

Perjuangan Panjang Melestarikan Benih Pangan Lokal

HTNM Gelar Pendidikan Advokasi Bagi Petani

Podcast Pangan dan Gizi

Buletin 148

Regional Conference APEX: Memperkuat Gerakan Kedaulatan Pangan, Mengubah Sistem Pangan, Menegaskan Keadilan Iklim