Memperkuat Peran Pemuda dan Koperasi Petani Kecil untuk Masa Depan Kehidupan

Pertanian keluarga dan petani skala kecil, ditingalkan, sering tidak terlibat dalam praktek pasar dan bisnis modern, mereka memiliki keterbatasan akses ke praktek pertanian yang baru dan yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu di Uni Eropa atau di kawasan ASEAN, kerja sama (RED. dalam bentuk koperasi)antar keluarga petani adalah sangat penting (photo by ASEAN Foundation)

Photo bersama Komisioner Uni Eropa Untuk Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Phil Hogan (duduk memakai dasi hijau). Pertanian keluarga dan petani skala kecil, ditingalkan, sering tidak terlibat dalam praktek pasar dan bisnis modern, mereka memiliki keterbatasan akses ke praktek pertanian yang baru dan yang lebih berkelanjutan. untuk perlunya penguatan organisasi petani, koperasi tani dan pemuda tani (photo by ASEAN Foundation)

JAKARTA, BINADESA.ORG—Sebagai upaya memperkuat peran pemuda dan koperasi pertanian  keluarga dalam konteks integrasi regional ASEAN, ASEAN Foundation, dalam kemitraan dengan Uni Eropa, menyelenggarakan Dialogue Roundtable (RTD) pada 7 Nopember 2106 di Kantor ASEAN Foundation. Forum ini sebagai jalan untuk berbagi inisiatif yang ada serta untuk membahas potensi kolaborasi antara Petani Organisasi yang diwakili oleh La Via Campesina, Serikat Petani Indonesia, Aliansi Petani Indonesia, AFA, Pakisama Pilipina, FNN Kamboja, Vietnam Farmer Union, Petani Laos dan Organisasi Masyarakat Sipil di ASEAN dihadiri oleh Asiadhrra, Bina Desa, juga menghadirkan perwakilan negara-negara anggota ASEAN,  Sekretariat ASEAN, Pusat Pengembangan Koperasi Pertanian ASEAN (ACEDAC) serta delegasi Uni Eropa yang dipimpin oleh Phil Hogan, Komisioner Uni Eropa untuk Pertanian dan Pembangunan Pedesaan.

Meskipun ASEAN telah membuat kemajuan besar disektor pertanian selama beberapa dekade terakhir ini, namun kemiskinan dan kelaparan masih meluas di beberapa negara di kawasan ini. Menjamin nutrisi pangan dari 64,5 juta orang yang kekurangan gizi di wilayah ini masih tetap menjadi tantangan. Pertanian memainkan peran penting dalam pengembangan ekonomi kawasan ASEAN dan terus menjadi faktor kunci bagi pembangunan berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan.

“Pertanian keluarga dan petani skala kecil, ditingalkan, sering tidak terlibat dalam praktek pasar dan  bisnis modern, mereka memiliki keterbatasan akses ke praktek pertanian yang baru dan yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu di Uni Eropa atau di kawasan ASEAN, kerja sama (RED. dalam bentuk koperasi)antar keluarga petani adalah sangat penting “kata Komisioner Hogan.

“Di sisi lain, salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh sektor pertanian baik di Uni Eropa dan ASEAN adalah keinginan dan praktek yang makin menurun dari orang-orang muda untuk terlibat dalam pertanian. Sejalan dengan ini, Uni Eropa dan ASEAN perlu dalam kerjasama programnya yang akan memastikan bahwa tersedianya insentif  yang inovatif yang dibuat untuk pemuda dan sebagai penarik mereka untuk bekerja di bidang pertanian sebagai mata pencaharian yang layak ” tambahnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif ASEAN Foundation (AF), Elaine Tan menggarisbawahi misi AF untuk melibatkan sebanyak mungkin orang dalam proses pembentukan komunitas ASEAN. Dia menekankan bahwa AF bercita-cita membawa ASEAN lebih dekat dengan rakyatnya sebagai upaya untuk membangun rasa memiliki yang lebih besar ASEAN kalangan masyarakat ASEAN.

“Forum ini merupakan salah satu kegiatan strategis untuk mempercepat ASEAN yang berpusat oleh rakyatnya dengan mendorong orang untuk berpikir, merasa, dan menjadi ASEAN secara individual maupun kolektif. dialog hari ini adalah bagian dari peran kami dalam Program Dukungan Organisasi Petani ASEAN (AFOSP) untuk mempromosikan dan memfasilitasi dialog kebijakan antara petani atau organisasi pedesaan dan badan-badan ASEAN yang relevan yang bertanggung jawab untuk koperasi pertanian dan pembangunan pedesaan. Saya berharap dialog ini akan membantu memperkuat petani skala kecil , khususnya kaum muda pedesaan ‘masa depan ASEAN’ untuk meningkatkan mata pencaharian mereka dan ketahanan pangan di ASEAN,”tambahnya.

Perwakilan organisasi Petani, La Via Campesina dan Asian Farmer Assciation memberikan pandangan dan aporan aktivitas mereka dalam lima tahun terakhir ini kepada Komisioner Uni Eropa, Phil Hogan (photo by Achmad Yakub)

Perwakilan organisasi Petani, La Via Campesina (LVC) dan Asian Farmer Association (AFA) memberikan pandangan dan aporan aktivitas mereka dalam lima tahun terakhir ini kepada Komisioner Uni Eropa, Phil Hogan (photo by Achmad Yakub)

Dialog ini berlangsung dalam dua bagian, pertama dialog dengan Komisioner  Pertanian Uni Eropa. Kedua, diskusi antara organisasi petani, organisasi masyarakat sipil, Uni Eropa dan pemangku kepentingan utama ASEAN untuk menjaring  dan rencana tindak lanjut dari-ide dan konsep dalam penguatan peran organisasi petani, koperasi pertanian dan pemuda pedesaan.

Menurut Dwi Astuti, Direktur Bina Desa yang juga Ketua Asiadhrra, acara ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap berbagai inisiatif antara para pemangku kepentingan dari ASEAN dan Uni Eropa. Utamanya kerja sama dalam bidang pertanian dan pembangunan pedesaan, untuk mengusulkan potensi kerjasama program tripartit antara Uni Eropa, ASEAN, dan organisasi petani/CSO di koperasi pertanian. Diskusi ini juga dimaksudkan untuk mengidentifikasi titik-titik aksi nyata terkait dengan kerjasama tripartit dan mekanisme kelembagaan untuk mengembangkan dialog sosial.

Dalam dialog ini juga berkembang isu mengenai pentingnya reforma agraria bagi petani-petani di ASEAN, kepastian harga bagi produk pertanian, perlindungan dan pemberdayaan petani dan perlunya indikasi geogafis atas produk pertanian. (###)

 

ARTIKEL TERKAIT

Pengelolaan Keuangan Keluarga

Pendidikan Advokasi

Melepas Ketergantungan dengan Pertanian Alami

Semangat Perempuan Pedesaan dalam Mengawali Hajatan Kampong

Hajatan Kampong: Pembangunan yang Dipimpin Komunitas

Deklarasi Rembug Rakyat Laut: Rakyat Berdaulat Menjaga Laut Bersama