Merefleksikan Praktek dari Sekolah Pertanian Alami

Kartini “Refleksi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anggota SPPB yang berada di masing-masing paguyuban sudah melakukan praktek pertanian alami. Kalau mereka sudah berpraktek pasti ada cerita keberhasilan atau pengetahuan yang baru mereka dapat atau pun bisa juga kegagalan juga yang mereka dapatkan" (Foto: John P. Sinulingga)

Kartini “Refleksi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anggota SPPB yang berada di masing-masing paguyuban sudah melakukan praktek pertanian alami. Kalau mereka sudah berpraktek pasti ada cerita keberhasilan atau pengetahuan yang baru mereka dapat atau pun bisa juga kegagalan juga yang mereka dapatkan” (Foto: John P. Sinulingga)

CIANJUR, BINADESA.ORG–Sauyunan Perempuan Petani Binangkit (SPPB) Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur pada awal Oktober 2016 lalu  mengadakan kegiatan Refleksi Pertanian Alami. Kegiatan ini dilaksanakan di Paguyuban Ranca Bunggur, Desa Sukasari, Kecamatan Kadupandak. Peserta yang terlibat dari kegiatan ini adalah peserta yang pernah mengikuti sekolah pelatih Pertanian Alami di Desa Talaga Sari pada bulan Maret 2016 yang lalu ditambah beberapa peserta yang baru dari paguyuban. Kegiatan ini difasilitasi oleh Lily Noviani dari Depok dan Agus Bachtiar dari Sukabumi.

Refleksi ini merupakan kelanjutan sekolah pelatih yang sebelum dilakukan pada bulan Maret 2016 yang lalu. Menurut Koordinator SPPB, Ibu Kartini  “Refleksi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anggota SPPB yang berada di masing-masing paguyuban sudah melakukan praktek pertanian alami. Kalau mereka sudah berpraktek pasti ada cerita keberhasilan atau pengetahuan yang baru mereka dapat atau pun bisa juga kegagalan juga yang mereka dapatkan. Di kegiatan ini kita mau berbagi cerita tentang kegagalan dan keberhasilan tersebut. Dan mudah-mudahan dengan refleksi ini kami bisa menambah pengetahuan dari berbagi cerita”

Refleksi hari Pertama ada beberapa rangkaian sesi antara lain pembukaan sekaligus pengantar oleh pengurus SPPB, kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari kepada desa Sukasari, Bapak Tajul. Dalam kesempatan ini Pak Tajul “Mengatakan sangat mendukung sekali inisiatif SPPB  dalam mengembangkan Pertanian Alami dan sangat sejalan dengan kebijakan Bapak Bupati yang kemarin kita dengarkan pada peringatan Hari Tani Nasional di Desa Wargasari. Pertanian alami itu mempunyai nilai tambah tetapi pertanian kimiawi tidak mempunyai nilai tambah, malah merusak alam. Harapan saya adalah bisa dikembangkan untuk wilayah desa Sukasari ini dimulai dari Kampung Sinar Baru ini”

Diskusi ini menghasilkan pengalaman baru “ Bahwa tanaman dengan perlakuan alami memiliki umur yang panjang dan masa panen yang lama dari pada tanaman perlakuan kimiawi” (Foto: John. P Sinulingga)

Diskusi ini menghasilkan pengalaman baru “ Bahwa tanaman dengan perlakuan alami memiliki umur yang panjang dan masa panen yang lama dari pada tanaman perlakuan kimiawi” (Foto: John. P Sinulingga)

Setelah kata sambutan itu dilanjutkan dengan perkenalan antar peserta, kontrak belajar, menggali harapan dan kekuatiran. Sesi diskusi dimulai dengan Fasilitator Lily. Peserta dibagi dalam 3 kelompok ; peserta yang sudah berpraktek pada padi, peserta yang sudah berpraktek pada sayuran dan buah, terakhir peserta yang sama sekali belum berpraktek. Masing-masing kelompok akan diberikan pertanyaan kunci dan didiskusikan selanjutnya hasil diskusi dipresentasikan. Setelah itu dilakukan tanya jawab antara peserta.

Hari kedua dimulai dengan review materi hari pertama difasilitasi oleh Subekti dan dilanjutkan dengan materi membandingkan pertanian alami dengan pertanian kimiawi setelah melakukan praktek pertanian alami. Diskusi ini menghasilkan pengalaman baru “ Bahwa tanaman dengan perlakuan alami memiliki umur yang panjang dan masa panen yang lama dari pada tanaman perlakuan kimiawi”. Kemudian peserta diajak kembali untuk memahami lebih dalam tentang siklus tanaman dan bahan-bahan yang bisa didapat di sekitar untuk memenuhi unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Kemudian menjelang sore peserta diajak untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ditemui dalam praktek pertanian alami. Masalah-masalah ini akan dijawab bersama pada hari ketiga.

Hari ketiga dimulai dengan review dan dilanjutkan dengan menjawab bersama permasalahan yang telah teridentifikasi. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan-penjelasan teknis tentang pertanian alami yang difasilitasi oleh Bapak Agus Bachtiar. Di sesi terakhir peserta dibagi berdasarkan paguyuban untuk membuat rencana tindak lanjut (RTL) untuk enam bulan ke depan. (###)

ARTIKEL TERKAIT

Perjuangan Panjang Melestarikan Benih Pangan Lokal

HTNM Gelar Pendidikan Advokasi Bagi Petani

Podcast Pangan dan Gizi

Buletin 148

Regional Conference APEX: Memperkuat Gerakan Kedaulatan Pangan, Mengubah Sistem Pangan, Menegaskan Keadilan Iklim

Pestisida Kimia dan Kekerasan Terhadap Perempuan