Anak Petani Bangun Kebun Pekarangan

Hampir seminggu, sejak awalDesember 2016 santri ibnul Fallaah dan Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) melakukan kerja-kerja praktik membangun kebun pekarangan ala FAITH (Food Always in The Home).

Hampir seminggu, sejak awalDesember 2016 santri ibnul Fallaah dan Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) melakukan kerja-kerja praktik membangun kebun pekarangan ala FAITH (Food Always in The Home) (Foto: Wildan Indrawan)

Data menunjukkan sebanyak 63% anak petani padi dan 54% anak petani hortikultura menegaskan tak ingin menjadi petani. Dari sisi orang tua petani pun demikian. Sejumlah 50% orang tua petani padi tidak ingin anaknya menjadi petani. Sementara 73% petani hortikultura menyatakan tidak ingin anaknya menjadi petani demikian Hasil riset Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) tahun 2016 .

Banyak faktor yang menyebabkan kalangan pemuda pedesaan apalagi pemuda kota emoh menjadi petani. Yang paling dominan adalah dalam diri pemuda sendiri melihat tiada masa depan yang baik secara ekonomi, sosial karena menyaksikan sebagian besar petani indentik dengan kemiskinan, fasilitas yang minim, secara sosial menjadi warga negara kelas dua dan dianggap masih bodoh. Sementara secara eksternal orang tua petani juga tak ingin anaknya menjadi petani, di sisi lain secara pendidikan formal disekolah minim kurikulum mengenai pertanian.

Desan dibuat menarik agar anak-anak sekolah mengerjakan kebun pekarangannya penuh semangat dan menstimulasi ide-ide segar (Foto: Wilda Indrawan)

Desain dibuat menarik agar anak-anak sekolah mengerjakan kebun pekarangannya penuh semangat dan men-stimulasi ide-ide segar dalam praktek pertanian (Foto: Wildan Indrawan)

Secara umum faktor lain yang selama ini telah menjadi persoalan secara nasional adalah mengenai asset dan akses untuk mengembangkan pertanian. Asset yang dimaksud adalah soal kepemelikan dan penguasaan tanah yang layak untuk bertani yang selama ini sangat sulit, dimana sebagian besar petani adalah petani gurem kurang dari 0,5 ha.

Kemudian akses atas sumber-sumber produktif atau financial bagi petani sehingga masih banyak yang menggunakan jasa rentenir. Demikian juga soal kepastian harga input pertanian, harga jual, fasilitas infrsastruktur di pedesaan dan jaminan lainnya yang membuat kaum muda tertarik bertani. Terakhir masih lemahnya pengelolaan pasca panen, inovasi dan teknologi terbatas sehingga nilai tambah yang seharusnya di dapatkan dalam proses produksi pertanian tak dinikmati petani.

Salah satu strategi yang memungkinkan menarik dan mempertahankan pemuda, khususnya yang di desa untuk bertani adalah melalui pendidikan. Pesantren Ibnul Fallaah (anak petani) membangun kebun pekarangan ala FAITH (Food Always in The Home) untuk kemandirian pangan santri.

Hampir seminggu, sejak  akhir November hingga awal Desember 2016 ini santri Ibnul Fallaah dan Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) melakukan kerja-kerja praktik membangun kebun pekarangan ala FAITH (Food Always in The Home). Agar kebutuhan pangan para santri yang berada dalam asrama yang saat ini berjumlah 60 orang dapat terpenuhi secara mandiri.

Tahap sekarang adalah persiapan zonasi tanam, pengadaan material organik seperti arang sekam, dedak padi, lapisan top soil yang kaya mikroorganisme lokal, pembuatan kompos dan pengadaan aneka benih sayuran, pangan dan tanaman bumbu.

Perencanaan, hingga perawatan dipimpin oleh Ustadz Rohman (baju hijau) bersama para siswa yang secara bergantian piket (Foto: Wildan Indrawan)

Perencanaan, hingga perawatan dipimpin oleh Ustadz Rohman (baju hijau) bersama para siswa yang secara bergantian piket (Foto: Wildan Indrawan)

Desain sengaja kita buat yg unik melingkar yang biasa disebut mandala, agar para siswa menjadi tertarik dan giat bekerja di kebun. Rawa-rawa akan dimanfaatkan untuk budidaya ikan lokal seperti gabus, sepat, tembakang dan lele.

Aktivitas ini ditanggung jawabi oleh ustadz Rohman Karnadi yang juga merupakan pimpinan organisasi petani.

Harapannya kedepan, pangan sehat dan bergizi dapat menjadi makanan sehari-hari sehingga dapat membentuk generasi yang sehat, cerdas dan Islami.(###)

ARTIKEL TERKAIT

Menilik Hilangnya Kontrol Perempuan Petani Atas Benih

Perjuangan Panjang Melestarikan Benih Pangan Lokal

HTNM Gelar Pendidikan Advokasi Bagi Petani

Podcast Pangan dan Gizi

Buletin 148

Regional Conference APEX: Memperkuat Gerakan Kedaulatan Pangan, Mengubah Sistem Pangan, Menegaskan Keadilan Iklim