Bina Desa

SPA Butta Toa, Selenggarakan Pendidikan Berjenjang Pertanian Berkelanjutan

Bantaeng | Serikat Petani Alami (SPA) Butta Toa menyelenggarakan Pendidikan Berjenjang (Cascading) Pertanian Berkelanjutan pada 23-25 Juli 2026 di Balai Pendidikan SPA Butta Toa, Bantaeng, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Transisi Hijau yang merupakan kegiatan kolaborasi dari SPA Butta Toa, Bina Desa, dan Fairtrade Internasional dengan dukungan dukungan Uni Eropa.

Kegiatan ini dilaksanakan dari adanya tantangan krisis iklim yang terjadi saat ini, sehingga pendidikan Pertanian Alami menjadi salah satu jalan penting untuk memperkuat ketangguhan petani. Pendidikan ini diikuti oleh 20 petani dari tujuh desa, yaitu Lonrong, Biangloe, Lumpangan, Biangkeke, Kaloling, Layoa, dan Patalassang. Selama tiga hari, peserta tidak hanya berkumpul untuk menerima materi, tetapi juga membangun ruang belajar yang hidup melalui diskusi, praktik, refleksi, dan kunjungan lapangan. Setiap peserta hadir dengan pengalaman bertani yang berbeda, lalu saling berbagi pengetahuan untuk menemukan cara-cara baru dalam membangun pertanian yang lebih tangguh dan selaras dengan alam.

Mengusung tema “Merawat Tanah, Menjaga Keberagaman Ekosistem, Menumbuhkan Pertanian yang Berkehidupan”, pendidikan ini mengajak peserta melihat pertanian dari perspektif yang lebih utuh. Tanah dipahami sebagai ekosistem hidup yang harus dipelihara, keberagaman hayati dipandang sebagai penopang keseimbangan alam, dan petani ditempatkan sebagai penjaga kehidupan, bukan sekadar penghasil komoditas.

Proses pembelajaran diawali dengan pembahasan mengenai krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan petani. Perubahan musim yang sulit diprediksi, meningkatnya serangan hama dan penyakit, hingga menurunnya kualitas lahan menjadi kenyataan yang kini dihadapi banyak petani. Dari persoalan tersebut, peserta diajak memahami bahwa pertanian berkelanjutan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan dan kehidupan masyarakat.

Pembelajaran kemudian berlanjut pada dasar-dasar agroekologi, yang menekankan pentingnya membangun sistem pertanian berdasarkan proses-proses alami. Peserta mempelajari bagaimana kesehatan tanah menjadi fondasi utama dalam menghasilkan tanaman yang kuat, serta bagaimana pemanfaatan nutrisi alami dan herbal atau pestisida nabati mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Materi mengenai pengelolaan hama dan penyakit berbasis ekologis memperlihatkan bahwa pengendalian organisme pengganggu tanaman dapat dilakukan dengan memperkuat kesehatan tanaman, melestarikan musuh alami, dan menjaga keragaman hayati. Sementara itu, pembahasan mengenai konservasi lahan mengingatkan bahwa tanah, air, dan vegetasi merupakan satu kesatuan yang harus dijaga agar tetap mampu menopang kehidupan lintas generasi.

Salah satu sesi yang paling berkesan adalah kunjungan ke lahan pertanian alami. Di sana, peserta menyaksikan secara langsung bagaimana prinsip-prinsip agroekologi diterapkan dalam praktik sehari-hari. Lahan yang dikelola secara alami memperlihatkan bahwa kesuburan tanah, keberagaman organisme, dan produktivitas dapat berjalan berdampingan ketika alam diberi ruang untuk bekerja sebagaimana mestinya.

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta menyepakati pembangunan demplot pertanian berkelanjutan di desa masing-masing. Demplot ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama, tempat menguji praktik-praktik agroekologi, sekaligus menjadi media penyebaran pengetahuan kepada petani lain melalui semangat pendidikan berjenjang.

Pendidikan ini juga memperluas perspektif peserta melalui materi mengenai Fairtrade, yang menekankan pentingnya perdagangan yang adil bagi petani, serta pembahasan mengenai kesetaraan gender, peran pemuda, dan penguatan organisasi petani. Keberlanjutan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknik budidaya, tetapi juga oleh kuatnya organisasi, keterlibatan perempuan, hadirnya generasi muda, serta sistem ekonomi yang berpihak kepada petani.

Kegiatan ini menegaskan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara bersama. Ketika tanah dirawat, kehidupan di dalamnya akan tumbuh. Ketika keberagaman ekosistem dijaga, alam akan terus menyediakan ruang bagi kehidupan. Dan ketika petani terus belajar serta saling menguatkan, pertanian yang berkehidupan bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan bersama.

Dari Balai Pendidikan SPA Butta Toa, benih-benih pengetahuan telah disemai. Kini, benih itu dibawa pulang ke tujuh desa untuk terus bertumbuh, mengakar dalam praktik sehari-hari, dan berkembang menjadi gerakan kolektif menuju pertanian yang lebih adil, tangguh, dan lestari.***

Penulis: Fajar Basri – Merupakan Koordinator Bidang Pendidikan dan Pelatihan SPA Butta Toa

Editor: Dona Rahayu

Artikel terkait