Melepas Ketergantungan dengan Pertanian Alami

Pendidikan pertanian alami di Gunung Kidul pada tanggal 7-10 Januari, diikuti 25 peserta dari jaringan KSP Region Jawa Tengah Selatan dan DIY, (Foto : Sri Murtirahayu/Ngudi Mulyo)

Gunung Kidul, BINADESA.ORG – Perkembangan zaman disatu sisi menjadikan petani sebagai kelompok yang tertindas, dalam arti luas ketertindasan ini dalam berbagai bentuk. Dari persoalan tidak mempunyai tanah, ketergantungan pupuk kimia, tidak memiliki daya tawar hasil panen, hingga tidak memiliki kekuatan dalam memberdayakan dirinya meskipun sebenarnya bisa, petani bisa melakukannya.

Di beberapa wilayah ketergantungan pupuk kimia adalah menjadi akar dari kemiskinan, yang semula didapatkan dari subsidi-subsidi pemerintah sampai akhirnya sulit mendapatkan pupuk karena mahal dan terbatas. Subsidi pupuk semakin membuat petani terjerumus dengan pola pikir yang bergantung, padahal dalam sejarahnya tidak ada kata pupuk kimia. Bertani ya bagaimana berinteraksi dengan alam.

Prinsip berinteraksi dengan alam ini juga salah satunya dipakai oleh sistem pertanian yang bernama sistem pertanian alami.  Untuk mengetahui lebih dalam dan juga mengenal dengan baik pertanian alami. Jaringan KSP Jawa Tengah Selatan dan DIY melakukan pendidikan pertanian alami di Gunung Kidul pada tanggal 7-10 Januari. 25 peserta berkumpul dan berdiskusi terkait sejarah pertanian alami, hingga praktik pembuatan mikroba 1, pembuatan nutrisi nitrogen dari bayam dan lele, pembuatan nutrisi Ca, serta pembuatan kompos.

Praktik pembuatan mikroba 1 (Foto: Sri Murtirahayu/Ngudi Mulyo)

Menurut saya, sebagai anggota Ngudi Mulyo yang baru mengenal pertanian alami. Bahwa pertanian alami adalah sistem pertanian yang semua kebutuhannya dapat kita upayakan dengan sendirinya. Dari mulai benih, pupuk, obat penanggulangan hama. Semuanya dapat kita upayakan sendiri tanpa ada ketergantungan dengan siapapun dan apapun.

baca juga : https://binadesa.org/pertanian-alami-memulihkan-yang-telah-rusak-2/

Bertemu dengan 25 peserta dari jaringan KSP Region Jawa Tengah Selatan dan DIY, membuat saya yakin bahwa dengan pertanian alami, kita berarti turut andil dalam melestarikan dan menjaga alam. Kita juga mendapatkan pangan yang sehat karena memakai bahan-bahan dari alam yang ramah lingkungan. Saya juga menyadari bahwa sistem pertanian alami yang sekarang ini bergeser menjadi pertanian konvensional itu akibat dampak dari revolusi hijau.

Bahwa dengan mencukupi kebutuhan dengan upaya sendiri dan menggunakan apa yang ada di sekitar kita, maka ini langkah awal untuk terlepas dari ketergantungan itu sendiri. Sedikit demi sedikit mengikis pola pikir yang bergantung dengan pola pikir terkait kemandirian, dan berdaulat.***

 

editor : GN

ARTIKEL TERKAIT

Panen Raya Padi Alami

Pertemuan Petani Pendidik Pertanian Alami

Pertanian Alami Pintu Masuk Pengorganisasian

Belajar Bertani Alami dari Teh Entin

Dongkrak Produktivitas Padi dengan Nutrisi Alami Berbasis Sumberdaya Lokal

Merawat Generasi, Merawat Kehidupan