Lebih Dekat dengan Pertanian Alami

Kondisi petani Indonesia memang masih memprihatinkan. Betapa tidak, saat ini proses deagrarianisasi terus saja berlangsung dengan berbagai macam dalih pembangunan modern yang digalakkan pemerintah. Bahkan, menurut Sosiolog pedesaan asal Belanda, Prof. Ben White, saat ini sekitar 80 persen petani di Jawa tidak memiliki lahan. Selain itu, petani pun tak kuasa dalam mengakses air, input (termasuk teknologi) pertanian maupun pendistribusian hasil taninya. Itulah rentetan persoalan ketidakadilan terhadap petani. Petani dikucilkan dari alamnya sendiri.

Berbagai kebijakan baik di tingkat internasional, regional, nasional, maupun lokal telah meminggirkan petani. Bahkan tidak sedikit kebijakan di tingkat nasional dan lokal berkontribusi menyingkirkan tanaman pangan demi devisa yang lebih menggiurkan dari tanaman sumber energi nabati, sehingga pada gilirannya mematikan petani miskin. Pasalnya, petani dipaksa mengembangkangkan tanaman pabrikan yang syarat dengan pencemaran bahan kimia yang merusak alam dan kesehatan konsumennya. Sehingga, kebudayaan bertani alami khas petani yang menjungjung keserasian alam semakin tergusur.

Bertani Alami, Pilihan Cerdas dan Mandiri

Pertanian alami semakin dipinggirkan dari alam kebudayaan cocok tanam petani Indonesia sejak Revolusi Hijau digalakkan di Rezim Suharto. Padahal, petani yang mempraktikkan pertanian alami (natural farming) di beberapa daerah, terbukti cenderung lebih lentur dalam menghadapi krisis yang melanda dunia. Contohnya, ketika pupuk pabrikan hilang dari peredaran, petani alami dapat membuat sendiri input-input pertanian yang mereka butuhkan dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitarnya. Tak mengherankan, jika ada petani padi yang menerapkan sistem pertanian alami tidak membutuhkan biaya besar untuk menjalankan usaha taninya.

Hamzah (22) Petani Pertanian Alami Bina Desa melakukan perawatan/ memberikan nutrisi tanaman di lahan pertaniannya di Sulawesi.

Hamzah (22) Petani Pertanian Alami Bina Desa melakukan perawatan/ memberikan nutrisi tanaman di lahan pertaniannya di Sulawesi.

 

Sebagai ilustrasi kita bisa melihat, di desa Ciasihan Kecamatan Pamijahan Bogor, seorang petani yang mempunyai lahan seluas 1 ha harus mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 6,300,000 setiap musim tanam, sementara pada desa yang sama, seorang petani alami hanya mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 180,000 untuk pembuatan berbagai nutrisi yang bisa digunakan selama 3 musim tanam. Artinya, petani alami hanya mengeluarkan biaya Rp 60,000 / musim tanam.

Selain itu, Anda pun akan melihat bahwa melalui sistem pertanian yang bersahabat dengan alam, ramah terhadap diri, keluarga, dan masyarakat, para petani dapat mengatasi krisis yang mereka hadapi dalam usaha tani. Anda yang bukan petani pun, namun ingin mencoba bertani dengan cara yang mudah dan aman, dapat mulai mempelajari pertanian alami dari sekarang.

Dipraktekkan di Banyak Negara

Pertanian alami sudah menjadi tren di belahan dunia untuk menanggulangi krisis pangan. Pertanian alami mulai menunjukkan kiprahnya. Di beberapa negara miskin, terutama di negara-negara yang penduduknya mengalami rawan pangan dan tidak mampu bertani secara modern karena harus membeli bahan-bahan kimia, para petani yang melakukan pertanian alami justru mengalami peningkatan hasil. Fakta ini diungkapkan oleh Brian Halweil, peneliti senior dari Worldwatch Institute.

Menurut Halweil, di negara-negara miskin, teknik pertanian alami yang menggunakan kompos, pupuk hijau, dan pengendalian hama secara alami menjadi tumpuan harapan bagi para petani untuk memacu produksi pertanian mereka, sekaligus mengurangi bencana kelaparan. Selain meningkatkan hasil, pertanian yang mulai kembali menyebar ke seluruh dunia ini terbukti menguntungkan hidupan liar (wildlife) di alam, memelihara kualitas air dan udara, serta menjaga ketahanan pangan kita. Jika pertanian alami kita lakukan dengan sistem yang saling menunjang, para petani, konsumen, dan lingkungan akan memperoleh manfaat besar. Namun jika dukungan dari pemerintah, kalangan industri, dan organisasi tani terhadap pertanian alami atau pertanian organik kurang, hal ini malah dapat menyeret umat manusia kepada ancaman kelaparan dunia.

Berbagai cara dilakukan orang, organisasi, pemerintah atau swasta untuk mengampanyekan pertanian yang alami. Bahkan Pemerintah pun melalui Departemen Pertanian sempat meluncurkan program “Go Organic 2010” bahwa Indonesia melaksanakan konsep pertanian organik dengan target mengekspor produk-produk organik pada 2010. Namun hingga saat ini, kita belum bisa melihat bagaimana pertanian Indonesia menuju cita-cita tersebut. Ironisnya, ujung tombak Departemen Pertanian di tingkat kecamatan, yakni para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang berhubungan langsung dengan petani, masih belum memahami apa sebenarnya pertanian organik.

Akibatnya, petani menjadi bingung. Di satu sisi, sedikit demi sedikit petani mulai memiliki perhatian pada pertanian organik. Namun ketika mereka mencoba menyerap pengetahuan dari penyuluh, seringkali informasi yang mereka peroleh justru bertentangan dengan nilai-nilai organik yang mereka pahami. Bahkan tidak sedikit PPL (Petugas Penyuluh Lapang) Pertanian yang berperan pula sebagai penyalur bahan kimia untuk dibeli dan digunakan oleh para petani yang didampinginya.

Dukungan instansi terkait terasa lambat, sampai pabrik-pabrik menggenjot produksi pupuk dan pestisida kimia, meski tetap tak dapat memenuhi kebutuhan petani, bahkan Indonesia sampai harus mengimpor pupuk. Sementara itu, perusahaan agribisnis yang dulunya memproduksi pupuk dan pestisida kimia, amat jeli menangkap peluang usaha dan mulai membuat “pupuk dan pestisida organik”. Mereka memanfaatkan karakter petani yang sejak masa Revolusi Hijau telah diarahkan agar patuh kepada input yang serba instan, serba cepat. Benih, pupuk, dan pestisida pun tinggal beli dan pakai. Petani pun tidak perlu lagi menyeleksi benih-benih yang akan mereka tanam. Sehingga proses penyadaran yang tidak utuh akan menggiring petani lebih memilih paket organik yang instan dengan alasan efektif dan efisien, ketimbang membuatnya sendiri bertumpu pada sumber daya lokal. Jika hal ini kita biarkan, petani akan selalu tergantung pada input buatan pabrik yang bahan baku, kualitas, dan harganya ditentukan oleh pemilik modal. Petani tidak akan pernah bisa mandiri dan berdaulat sebagai produsen pangan.

Pertanian alami adalah sistem usaha tani yang memperhatikan berbagai faktor agar kesinambungan usaha tani tersebut dapat dipertahankan dan tidak hanya mengutamakan hasil produksi semata. Proses produksi pertanian alami menempatkan petani sebagai pelaku utama, sehingga hasil akhir dari semua yang telah diusahakan adalah kemandirian dan kedaulatan petani atas usahanya tersebut.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Ibu Bayyinah: Pertanian Alami Sebagai Perlawanan

Podcast Pangan dan Gizi

Pestisida Kimia dan Kekerasan Terhadap Perempuan

5 Alasan Produk Pangan Hasil Pertanian Alami, Penting Untuk Dikonsumsi

Membangun Masa Depan Sehat: Hari Gizi dan Makanan dengan Pemulihan Benih Tanpa Bahan Kimia

Belajar dari Laos: Menjaga, Mengelola Kesuburan Tanah dan Mengelola Hama Secara Alternatif