Jali-Jali, Pangan yang Hampir Punah

Tanaman hajeli (jali-jali) yang masih ditemukan di Desa Gandasari, Kadupandak, Cianjur (Foto : Bina Desa)

KADUPANDAK, BINADESA.ORGTumbuhan jali atau yang lebih dikenal dengan nama jali-jali sudah tidak dikenal lagi oleh orang-orang kelahiran tahun 1993 dan setelahnya. Pasalnya di beberapa wilayah tumbuhan ini sudah tidak ditemukan sejak 25 tahun yang lalu dan sekarang hanya dapat ditemui di beberapa wilayah. Padahal tanaman jali-jali merupakan salah satu bahan pangan masyarakat yang biasa dijadikan bahan untuk membuat kue-kue atau jajanan.

Jali-jali merupakan salah satu jenis padi-padian yang berasal dari Asia Timur dan Malaya, area penyebarannya hampir ke seluruh dunia. Nama latin jali-jali, ialah Coix lacyma-jobi L. Di Jawa Barat (sunda) disebut Hanjeli (di Cianjur disebut Hajeli), masyarakat di Manggarai menyebut Sela sedangkan Suku Tetum Terik Atambua menyebutnya Dele. Jali-jali dibagi dua varietas yaitu varietas pertama yang memiliki cangkang keras, biasanya yang bercangkang keras dijadikan manik-manik hiasan (kalung). Varietas kedua yaitu jali-jali yang berbuah lunak, varietas ini biasanya dijadikan bahan pangan.

Kartini (70 tahun) dari Kadupandak, Cianjur menceritakan pada jamannya masih kanak-kanak hingga remaja hajeli dibuat sebagai bubur, tape, kolak dan dodol. Orang tua beliau juga selalu mencampur biji hajeli dengan beras ketika akan menanak nasi (nasi hajeli), namun sekarang sudah jarang yang menggunakan hajeli. “Boro-boro menggunakan hajeli, sekarang yang menanam saja sudah jarang di sini, ada juga paling satu dua orang. Yang menanam juga mungkin umurnya sudah kayak saya,” tutupnya sambil tersenyum.

Hal sama juga diungkapkan oleh Melchisedek (40 tahun), seorang petani yang berasal dari Cibal, Kabupaten Manggarai. Beliau menggatakan semasa anak-anak sering sekali menikmati sela. Biasanya kami punya mama selalu mencampurnya dengan beras yang akan ditanak. Sekarang ini sudah jarang sekali bisa mendapatkan nasi yang dicampur sela. Terkait rasanya pun tidak kalah dengan nasi yang kita makan, salah satu penyebab jarangnya tanaman sela sekarang ini disebabkan banyak lahan petani yang ditanami dengan tanaman tahunan, seperti kemiri. Sebab lain tanaman ini biasanya ditumpangsarikan dengan padi huma di kebun namun dalam perjalanannya kemudian digantikan dengan padi sawah. Dengan digantikannya padi huma menjadi padi sawah mengakibat tanaman sela ini jarang lagi ditanam.

Desa yang kaya dengan ragam bahan pangan terkikis oleh faktor budaya dan globalisasi, beberapa pangan telah terpinggirkan dan akan menjadi akhir, dalam kasus ini salah satunya jali-jali. Jali-jali, hajeli, sela, atau dela merupakan bahan pangan yang sangat dekat dengan masyarakat pedesaan, namun sekarang ini hampir punah. Pertanyaannya apakah pengetahuan lokal tentang bahan pangan tersebut dapat dimunculkan kembali? Selain sebagai pengetahuan juga sekaligus membudidayakan tanaman jali-jali untuk bahan pangan lokal? Semoga! (bd030)

ARTIKEL TERKAIT

Menilik Hilangnya Kontrol Perempuan Petani Atas Benih

Perjuangan Panjang Melestarikan Benih Pangan Lokal

HTNM Gelar Pendidikan Advokasi Bagi Petani

Podcast Pangan dan Gizi

Buletin 148

Regional Conference APEX: Memperkuat Gerakan Kedaulatan Pangan, Mengubah Sistem Pangan, Menegaskan Keadilan Iklim