Bina Desa

Perempuan jadi Kunci Agroekologi, Penjaga Hutan, dan Kedaulatan Pangan di Bulukumba

Bulukumba | Sebanyak 33 peserta yang mayoritas perempuan berkumpul di Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba pada Jumat lalu (16/10/2026). Kegiatan ini berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 untuk menyatukan upaya pelindungan hutan dan pemenuhan pangan keluarga lewat penguatan agroekologi.

Workshop bertema Penguatan Agroekologi sebagai Solusi Perlindungan Hutan dan Pangan Perempuan di Sulawesi digelar oleh Dana Mitra Tani, KSPS Salassae, Kemitraan Agroekologi, dan WALHI Sulawesi Selatan  di Balai Pendidikan Komunitas Salassae. Pesertanya meliputi beragam perwakilan masyarakat hingga Sekretaris Desa Salassae.

Perwakilan WALHI Sulawesi Selatan, Rahmat, menyampaikan bahwa perempuan adalah pilar utama yang selama ini tampil memimpin di lapangan dalam berbagai urusan terkait tanah dan pangan, meski kerap tidak mendapat tempat saat keputusan diambil.

“Pengalaman pendampingan kami menunjukkan peran perempuan sangat menonjol baik dalam advokasi kasus tanah maupun pengelolaan pangan. Kepemimpinan mereka harus jadi fondasi gerakan ke depan,” ujarnya.

Ketua Kemitraan Agroekologi, Armin Salassa, yang memandu diskusi, menjelaskan bahwa agroekologi adalah cara bertani yang mengikuti cara alam bekerja, bukan melawannya. Prinsip utamanya mencakup keragaman tanaman, daur ulang bahan organik, berbagi pengetahuan antarpetani serta kedaulatan petani atas benih dan lahan.

Ia menegaskan bahwa hutan adalah lumbung pangan hidup yang menjaga mata air dan kesuburan tanah. Perempuan hadir di setiap mata rantai pangan, mulai dari penjaga benih, penanam, pengolah, hingga penjamin gizi keluarga, namun suaranya masih jarang didengar saat kebijakan disusun.

Peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok diskusi untuk menelaah empat fokus utama, yaitu hutan dan ruang kelola pangan lokal dan benih, praktik budidaya agroekologi, serta pasar, ekonomi, dan kebijakan perempuan.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta berharap pertemuan ini menjadi pijakan kuat bagi gerakan agroekologi di Sulawesi. Langkah nyata akan dimulai dari ruang terkecil seperti pekarangan rumah hingga menjangkau upaya pelestarian hutan di seluruh wilayah.

***

Penulis: Sri Puswandi, Ketua Dana Mitra Tani

Artikel terkait