Bina Desa

Sekolah Unggulan

Selasa kemarin, tanggal 28 September 2026 saya diminta jadi narasumber via zoom di kegiatan kawan-kawan petani di Kediri, Jatim. Tema yang diusung, “Temu Petani untuk Kedaulatan Benih”. Penyelenggaranya Kibar bersama dengan Bina Desa.

Sebagai petani yang menerapkan sistem pertanian alami (natural farming) sejak 10 tahun terakhir, saya percaya bahwa benih yang baik (unggul) lahir dari lahan yang kaya mikroorganisme. Tentu bukan sekedar percaya tanpa argumentasi ilmiah. Saya merujuk pada beberapa sumber, misalnya buku, The Biology of Belief, karya Bruce Lipton.

Dari kawan-kawan petani di Kediri itu terkonfirmasi juga. Mereka lebih familiar dengan istilah pertanian organik.

Jadi, mikroorganisme tidak hanya berfungsi sebagai agen penyubur tanaman, tapi juga berperan sebagai “guru” bagi tanaman padi. Lahan yang kaya mikroorganisme ibarat sekolah unggulan. Siswa (padi) yang lulus dari situ menjadi siswa cerdas.

Mikroorganisme “mengajari” tanaman padi berbagai kemampuan menghadapi tantangan di lahan. Tantangan utama biasanya serangan hama dan penyakit.

Padi yang sudah bertahun-tahun “belajar” akan semakin “pintar”. Semakin tahu cara mengatasi serangan hama dan penyakit.

Dalam ilmu biologi sel, proses pembelajaran padi itu melalui membran sel. Disebut epigenetika. Itulah otak sel. Padi memang jenis tanaman dengan sistem epigenetika yang kuat. Informasi hasil belajar akan disimpan dalam gen padi. Gen yang sudah menyimpan informasi itu bisa diwariskan.

Generasi berikutnya kemampuan lebih baik. Jika dijadikan benih, akan lebih unggul dari leluhurnya. Secara alami proses benih unggul lahir dari situ.

Lahan yang kaya mikroorganisme adalah sekolah unggulan bagi padi yang tumbuh di sana.

***

Penulis: Awaluddin Rusdi – JAPPA Region Sulawesi Barat

Artikel terkait