Bina Desa

Bahan Aktif Pestisida Sintetis, Sumbang 10 Kali Lebih Banyak Dibandingkan 1 Kg Pupuk Nitrogen

Tulisan ini merupakan refleksi dari Hari Ozon Internasional yang jatuh pada setiap tanggal 16 September. Refleksi ini merupakan upaya kita bersama untuk saling mengingatkan bahwa penggunaan pestisida sintetis dan pupuk kimia sintetis dapat memengaruhi penipisan lapisan ozon yang akan berdampak pada krisis iklim dari praktik pertanian konvensional. Studi yang dikeluarkan oleh lembaga Pesticide Action and Agroecology Network (PAN) pada tahun 2023 yang berjudul Pesticides and climate change: A vicious cycle menemukan bahwa pembuatan satu kilogram bahan aktif yang digunakan dalam memproduksi pestisida sintetis menyumbang sepuluh kali lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan 1 kg pupuk nitrogen sintetis. Penggunaan pupuk nitrogen sintetis pun telah lama menjadi perhatian serius akibat emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan memiliki pengaruh dan dampak terhadap lingkungan.

Penipisan lapisan ozon akibat emisi gas rumah kaca dari dampak pembuatan pestisida sintetis sangat minim menjadi perhatian. PAN juga menyatakan bahwa  seiring upaya berbagai negara untuk memitigasi perubahan iklim dan mengembangkan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan, pengukuran dan pengurangan emisi gas rumah kaca yang terkait dengan penggunaan pestisida menjadi hal yang krusial. Literatur ilmiah saat ini terbagi menjadi dua bidang fokus terkait emisi gas rumah kaca dari pestisida. Sebagian studi berfokus pada emisi yang dihasilkan dari produksi, transportasi, dan aplikasi pestisida di lahan, sementara studi lainnya menyoroti emisi gas rumah kaca jangka pendek dan jangka panjang yang timbul akibat interaksi pestisida dengan lingkungan setelah diaplikasikan.

Hampir tidak ada studi yang menghitung emisi gas rumah kaca dari penggunaan pestisida sepanjang siklus hidup bahan kimia tersebut secara menyeluruh, yang kemungkinan menyebabkan perkiraan emisi yang sebenarnya menjadi lebih rendah dari angka yang sesungguhnya. Penelitian hingga saat ini juga belum mencakup emisi yang terkait dengan limbah pestisida, seperti stok lama yang tidak lagi digunakan (stok pestisida yang telah kedaluwarsa, dilarang penggunaannya, atau tidak lagi diinginkan) serta pembuangannya melalui pembakaran dan metode lainnya—praktik yang umum di beberapa wilayah global.

Kebijakan iklim mengabaikan pestisida sintetis

Secara global, sistem pangan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi gas rumah kaca (GRK), dengan 31% di antaranya berasal dari produksi pertanian, termasuk produksi input terkait seperti pestisida sintetis. Meskipun kontribusi pertanian terhadap perubahan iklim semakin diakui dalam kebijakan publik, terdapat dua masalah mencolok terkait pendekatan saat ini dalam menangani persoalan tersebut. Pertama, peran pestisida dalam emisi GRK jarang dibahas, dan solusi pertanian seperti agroekologi yang dapat mengurangi dampaknya jarang dipertimbangkan. Sebagai contoh, praktik-praktik tertentu yang dilabeli ramah iklim seperti pertanian tanpa olah tanah, sering kali sangat bergantung pada herbisida sintetis untuk mengendalikan gulma di lahan pertanian konvensional, yang dapat memicu peningkatan resistensi gulma terhadap herbisida.

Kedua, banyak solusi yang diusulkan tidak akan menghasilkan pengurangan emisi GRK yang signifikan, atau justru akan memperparah ketimpangan dalam sistem pangan dan pertanian. Salah satu contoh solusi semu adalah pertanian presisi (precision agriculture); metode ini menjanjikan pengurangan penggunaan pestisida dan pupuk berbahan dasar minyak bumi dengan memanfaatkan teknologi berbasis komputer untuk menentukan kebutuhan (seperti keberadaan hama) secara lebih akurat, lalu menerapkan pestisida tepat pada sasaran yang dituju. Namun, pertanian presisi tetap mempertahankan sistem yang bergantung pada teknologi dan material kimia yang intensif energi, sembari mengalihkan perhatian dan investasi dari strategi pertanian ramah iklim yang lebih efektif, seperti agroekologi yang juga memberikan manfaat tambahan bagi sosial dan kesehatan masyarakat. Pertanian presisi juga memperkuat kekuasaan dan kendali perusahaan agrokimia, yang banyak di antaranya memiliki platform pertanian presisi serta data yang dimasukkan oleh para petani. (Dona)

Artikel ini berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh PAN. Untuk membaca lebih lengkap hasil studi PAN dapat mengunduh link berikut ini https://www.panna.org/wp-content/uploads/2025/05/202308ClimateChangeEng-Aug23-.pdf

Artikel terkait