Menjemput Berkah dari Langit: Gerakan Panen Hujan di Desa Jatiroyo

Desa Jatiroyo di Karanganyar dikenal akan kesuburannya, dikelilingi hamparan sawah hijau dan kekayaan alam melimpah. Namun, di balik keindahan itu, warga menghadapi siklus yang penuh tantangan: saat musim hujan tiba, ancaman banjir kecil, tanah longsor, dan angin kencang kerap datang; sebaliknya, di musim kemarau, kekeringan melanda, membuat lahan retak dan hasil panen menurun drastis. Realitas ini seringkali memunculkan pertanyaan—apakah hujan adalah musuh, ataukah kita yang belum sepenuhnya memahami cara bersahabat dengannya?

Air Hujan: Rahmat yang Sering Disalahpahami

Dalam Al-Qur’an, hujan disebut sebagai salah satu bentuk rahmat dari Allah SWT. Ia turun dengan lembut, bersih, murni, dan membawa kehidupan bagi bumi. Namun, di banyak tempat, air hujan justru dianggap sebagai sumber bencana. Ini bukan karena hujannya yang keliru, melainkan karena manusia belum siap menerimanya. Penebangan pohon tanpa reboisasi, saluran air yang tersumbat, dan kebiasaan membuang sampah ke sungai menyebabkan air hujan tak lagi bisa meresap ke tanah. Akibatnya, ia meluap menjadi banjir dan merusak kehidupan di sekitarnya. Padahal, jika dikelola dengan bijak, hujan adalah anugerah besar yang mampu menjamin ketersediaan air sepanjang tahun.

Menampung Hujan di Rumah Sendiri

Berangkat dari kesadaran inilah, warga Jatiroyo mulai mengambil langkah sederhana: memanen air hujan langsung dari atap rumah mereka. Dengan memasang talang air yang diarahkan ke toren atau drum penampungan, mereka berhasil mengumpulkan air hujan. Air ini kemudian dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, mencuci, bahkan sebagai cadangan air saat kemarau panjang. Untuk menjaga kebersihannya, warga menambahkan saringan dari kain atau kawat. Langkah kecil ini ternyata membawa dampak besar. Bayangkan jika setiap rumah di desa melakukan hal serupa—ribuan liter air bersih dapat dihemat setiap musim hujan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada air tanah.

Biopori dan LOSIDA: Lubang Kecil, Manfaat Besar

Tidak berhenti di situ, warga juga memperkenalkan teknologi sederhana bernama biopori dan LOSIDA (Lubang Sisa Dapur). Biopori adalah lubang kecil di tanah, umumnya dibuat dari pipa paralon, yang berfungsi meresapkan air hujan ke dalam tanah sekaligus mengomposkan sampah organik. Daun kering, sisa sayur, dan limbah dapur dimasukkan ke dalamnya, yang seiring waktu akan berubah menjadi pupuk alami. Sementara itu, LOSIDA adalah versi yang lebih berfokus pada sampah basah dapur. Dengan meneteskan EM4, yaitu cairan berisi bakteri pengurai alami yang dicampur molase (tetes tebu), sampah dapur akan terurai lebih cepat dan menghasilkan kompos yang menyuburkan tanah. Lubang-lubang kecil ini menjadikan tanah lebih gembur, mempercepat resapan air, dan secara signifikan mengurangi volume sampah rumah tangga.

Gama Rain Filter: Menyaring Air dari Langit

Selain ditampung, air hujan juga bisa disaring agar lebih layak digunakan. Warga Jatiroyo mengembangkan alat sederhana bernama Gama Rainwater Filter—sebuah sistem penyaringan air hujan yang dibuat dari bahan-bahan mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti kawat strimin, bola pengaman, dan penyaring debu halus. Air hujan yang melewati alat ini menjadi lebih jernih dan bebas kotoran sebelum masuk ke toren penampungan. Bahkan, hasil uji sederhana menunjukkan bahwa air hujan yang telah disaring memiliki tingkat kemurnian lebih tinggi dibandingkan beberapa sumber air tanah. Alat ini kini digunakan di sejumlah rumah sebagai bagian dari gerakan “air hujan untuk kehidupan.”

Pertanian Cerdas, Desa Mandiri

Perubahan iklim membuat musim tak lagi dapat ditebak. Menghadapi situasi ini, warga Jatiroyo mulai menerapkan pertanian cerdas dan adaptif. Mereka menanam padi saat musim hujan, lalu beralih ke palawija di musim kemarau. Varietas tanaman yang digunakan pun disesuaikan agar tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Sistem tumpangsari antara tanaman keras dan empon-empon juga dikembangkan, sementara sebagian warga mencoba urban farming dan peternakan rumah tangga untuk memperkuat kemandirian pangan. Yang menarik, air hujan kini menjadi bagian penting dalam sistem irigasi mereka. Setiap tetes dimanfaatkan, tidak dibiarkan mengalir sia-sia.

Lingkungan Bersih, Warga Sehat

Kesadaran lingkungan tumbuh seiring perubahan cara pandang terhadap air. Warga mulai kembali menjalankan program 3M Plus untuk pencegahan DBD, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta mengelola sampah dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Sampah organik diolah menjadi pupuk, limbah dapur dimasukkan ke dalam LOSIDA, dan barang bekas dijadikan kerajinan daur ulang. Pembakaran sampah yang dulu dianggap hal biasa kini mulai ditinggalkan. Hasilnya terasa nyata: lingkungan menjadi lebih bersih, udara lebih segar, dan kesehatan warga pun meningkat.

Mata Air: Sumber Kehidupan dan Ekonomi Baru

Selain hujan, Jatiroyo diberkahi dengan banyak sendang dan belik—mata air alami yang mengalir di antara perbukitan. Warga kini mulai memikirkan cara agar sumber air ini dikelola secara berkelanjutan. Mata air berpotensi dijadikan sumber irigasi, kolam ikan, atau bahkan tempat wisata edukatif. Bahkan, dalam jangka panjang, potensi pengembangan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) milik desa mulai dibicarakan sebagai peluang ekonomi baru.

Mitigasi Bencana: Menjaga Alam, Menjaga Diri

Kunci untuk hidup berdampingan dengan alam adalah kesiapsiagaan. Warga menanam pohon keras di lereng bukit, membuat terasering di lahan miring untuk menahan erosi, dan membangun tanggul penahan longsor. Sistem peringatan dini sederhana menggunakan kentongan dan grup WhatsApp juga diterapkan untuk memastikan warga cepat tanggap saat terjadi hujan lebat atau potensi longsor.

Gotong Royong: Jalan Menuju Desa Tangguh

Semua langkah ini tak akan berjalan tanpa semangat gotong royong. Melalui kerja bersama, warga Jatiroyo membuktikan bahwa solusi besar bisa lahir dari langkah kecil—dari setiap rumah, setiap tangan, dan setiap tetes air hujan yang ditampung dengan kesadaran. Bayangkan bila seluruh desa memiliki biopori, halaman tak lagi banjir, pohon tumbuh subur, dan air hujan menjadi sumber kehidupan. Maka Jatiroyo bukan hanya menjadi desa yang tangguh terhadap perubahan iklim, tapi juga contoh nyata kemandirian desa berbasis ekologi dan solidaritas.

Dari Tetes Hujan, Kita Bangun Harapan

Air hujan adalah jawaban dari langit. Tugas kita adalah menyambutnya dengan ilmu, kerja sama, dan cinta terhadap bumi. Dari tetes hujan, kita bangun harapan. Dari air, kita jaga masa depan. Dan dengan semangat gotong royong, Desa Jatiroyo menulis kisah baru—tentang bagaimana berkah bisa lahir dari setiap tetes yang jatuh ke bumi.

Tulisan ini ditulis oleh: Fatimah Nur Aini Komunitas HTNM Karanganyar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top