John Dijkstra Sosok Gila Yang Berpihak Kepada Kaum Miskin

Johanes Dijkstra (photo: Bina Desa)

Johanes Dijkstra (photo: Bina Desa)

UNGARAN, BINADESA.ORG- Perjalanan minggu pagi (18/09) dari ibukota Jawa Tengah, Semarang ke Ungaran terasa cepat, saat itu lalu lintas lengang dan cuaca mendung. Kunjungan ini atas undangan dari Lembaga Pendamping Usaha Buruh, Tani dan Nelayan (LPUBTN) dalam rangka peringatan hari lahir lembaga tersebut yang ke -56 tahun. Organisasi ini sebagai salah satu pendirinya adalah (alm) John Dijkstra, SJ yang di kenal sebagai pastor yang merakyat, dengan berbagai gagasannya dalam pemberdayaan masyarakat miskin. Untuk lebih khidmat acara dimulai dengan nyekar di pemakaman Giri Sonta, Ungaran, Kabupaten Semarang, kemudian diikuti dengan sarasehan dengan tema,” Pemikiran John Dijkstra Abad 21”. Acara ini digelar digedung dalam kompleks Giri Sonta. Pada kesempatan ini Koordinator Advokasi, Riset dan Jaringan Achmad Yakub bersama Nining E. Fitri (Staff Riset) mendapat kesempatan baik mewakili Bina Desa.

“Gila”, itulah pandangan Bambang Ismawan menerawang ingatannya tentang Dijkstra pada tahun 1963. “Bagaimana tidak, saat itu saya sedang persiapan ujian menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi UGM, segera diminta untuk diundur, karena ada hal yang lebih penting”, kata Bambang.  Penting yang di maksud Dijkstra adalah untuk menghadiri workshop di Bangkok.  Gilanya lagi, sore hari itu juga harus segera berangkat, kisahnya.

ki-ka, Bambang Ismawan, dan pengurus LPUBTN Isti Sumiwi dan Romo Sugiarto, mengisahkan gagasan yang kuat Dijkstra bagi kaum miskin di desa (photo: Achmad Yakub)

Dari kiri ke kanan Bambang Ismawan, dan pengurus LPUBTN Isti Sumiwi dan Romo Sugiarto, mengisahkan gagasan yang kuat dari (alm) Dijkstra bagi kaum miskin di desa (photo: Achmad Yakub)

Cerita berlanjut, beberapa tahun kemudian sekitar  1971-1977 Dijkstra ditugaskan di Filipina sebagai sekretaris SELA (Socio-Economic Life in Asia). Saat itu makin seringlah beliau mengadakan perjalanan keliling Asia, menjumpai pemerintah diberbagai negara saat itu banyak membatasi peran rakyat untuk berdemokrasi, cenderung otoriter.  Pengalaman selama puluhan tahun di desa-desa pulau Jawa, utamanya di Jogjakarta dan Jawa Tengah, dan pertemanan di banyak negara Asia membuatnya berinsiatif untuk mengadakan pertemuan besar bagi pekerja sosial pedesaan.  Berkumpulnya 130 orang di Bangkok dari Asia Pasifik (Indonesia 15 orang) selama tiga minggu pada tahun 1974, dinamai dengan The Development of Human Resources in Rural Asia Workshop (DHRRAW).  Sejak itulah lahir DHRRA diberbagai negara seperti di Indonesia-INDHRRRA (Bina Desa), PhilDHRRA, KODHRRA (Korea), THAIDHRRA, MASDHRRA (Malaysia), Taiwan serta negara lainnya.organisasi-organisasi itu berdiri secara mandiri lepas dari SELA. Terbukti sekarang makin berkembang. Di Indonesia sendiri pertemanannya semakin meluas, bersama Bambang Ismawan (dulu Ketua Ikatan Petani Pancasila-IPP), Prof. Sajogyo, Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan tokoh-tokoh lainnya. Hal ini memperluas pembangunan manusia pedesaan dan menguatnya hubungan antar aktivis sosial.

Kegilaan Dijkstra lainnya adalah gagasan yang begitu berani dan mendasar, yakni memberi ruang yang besar kepada kaum tani miskin di desa agar bisa bersuara, berpendapat dan menolong dirinya sendiri, saat itu sangat jarang kaum elite memberi peluang itu. Gagasan itulah yang kemudian di kenal dengan sebutan SWABINA. Karena apapun itu yang bisa menolong petani miskin adalah dirinya sendiri. “keyakinan Dijkstra atas nilai-nilai luhur dalam masyarakat berupa gotong royong, yang merupakan musyawarah sebagai jalan bagi rakyat terpinggirkan untuk bangkit,” terang Bambang.  Menurut catatan orang-orang yang pernah lama bergumul bersama Dijkstra, dua kata pasaran yang sering di gunakan beliau adalah “sinting” dan “bajingan” yang dilontarkan dengan khas candaannya sambil tertawa.  Dua kata itu ia dapat dari guru bahasa Jawa dan melayunya ketika masih di Belanda sebelum datang ke Indonesia, dan dari dua kata itulah banyak orang mengenang budi baiknya.

Secara terpisah, Francis Wahono atas gagasan Dijkstra itu merujuk pada terbitan Bina Desa mengatakan mengenai lembaga yang dibangun itu,”Fungsinya terbatas pada melancarkan ruang-sosial manusia berkehendak baik dengan berpihak pada wong cilik. Bila ada yayasan yang menguras harta benda, semua bertujuan melancarkan tugas tersebut.  Itulah barangkali dasar dan kerangka musyawarah”.

“Bagi kami kaum muda, generasi yang terpaut setengah abad dengan Dijkstra  bahwa ide, pemikiran, gagasan  para pendiri masih lestari hingga sekarang patut kita syukuri. Pengorganisasian dan keberpihakan kepada kaum miskin seperti yang dilakukan beliau, menjadi hal penting saat ini dan merupakan sumber inspirasi dan spirit” papar Achmad Yakub. (###)

 

ARTIKEL TERKAIT

Semangat Perempuan Pedesaan dalam Mengawali Hajatan Kampong

Hajatan Kampong: Pembangunan yang Dipimpin Komunitas

Deklarasi Rembug Rakyat Laut: Rakyat Berdaulat Menjaga Laut Bersama

Our Ocean Conference: Menyelamatkan Laut Dengan Menjual ?

Bank Dunia, Tinggalkan Desa Kami!

Komunike Musyawarah : “Dunia-Warga Yang Melampaui Kuasa Bank” (World Beyond Banks)