Sejarah Hilangnya Kontrol Benih Dari Perempuan

Benih merupakan sumber kehidupan. Dari butiran-butiran kecil benih akan menghasilkan bahan-bahan pangan yang dikonsumsi oleh manusia. Sehingga benih merupakan bagian yang sangat penting dalam sejarah budaya peradaban manusia di dunia dan sampai masa yang akan datang. Dan satu hal yang penting untuk dicatat adalah perempuan memiliki kedekatan yang sangat erat dengan benih. Dengan pemilihan yang sangat detail dan rinci, perempuan mampu memilih benih dan menyimpan benih yang terbaik dan sekaligus beragam.

Pada periode ribuan tahun silam laki-laki yang hidup sebagai pemburu dan penangkap ikan sedangkan Perempuan berperan sebagai pencari dan pengumpul bahan pangan. Proses pengumpulan ini kemudian dilanjutkan dengan membudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Dengan proses ini pula Perempuan mampu untuk mengembangkan berbagai macam jenis-jenis tanaman lain. Dari proses pengembangan dan pengelolaan ini kemudian melahirkan gagasan untuk menetap dan bertani untuk melanjutkan kehidupan. Namun dalam perjalanan yang telah ribuan tahun tersebut mengalami pergeseran di mana benih bukan lagi domain perempuan.

Benih-benih yang selama ini dikontrol oleh perempuan kemudian beralih menjadi control korporasi pertanian yang kapitalistik dan patriarki yang diinisiasi oleh banyak pihak yang memiliki kepentingan untuk menguasai input-input pertanian dengan orientasi profit. Narasi-narasi berikutnya akan memaparkan tentang bagaimana proses hilangnya control perempuan.

Proses hilangnya kontrol benih dari tangan perempuan dimulai ketika diluncurkannya kebijakan global yang dinamakan Revolusi Hijau. Adapun latar belakang lahirnya revolusi hijau ini disebabkan karena kekuatiran akan terjadi bahaya kelaparan akibat dari banyaknya lahan-lahan pertanian yang hancur akibat perang dunia I dan II dan banyaknya lahan yang masih belum dimanfaatkan.

Gagasan revolusi hijau ini diperkuat lagi dengan hasil penelitian Malthus yang mengatakan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk itu seperti deret ukur (lebih cepat) dibandingkan dengan jumlah produksi pangan. Artinya dengan kebijakan revolusi hijau ini diharapkan akan mampu meningkatkan produksi pangan yang besar dengan tawaran paket benih, teknologi pertanian, perbaikan irigasi, paket pupuk dan pestisida kimiawi. Berangkat dari latar belakang tersebut Ford Foundation dan Rokcefeller melakukan kajian dan penelitian tentang bahan pangan khususnya padi dan gandum. Kedua Lembaga pelopor revolusi hijau tersebut mendirikan IRRI (Inter-national Rice Research Institute) di Philipina (tahun 1960) untuk pengembangkan benih-benih padi Hybrida dan CIMMYT (Centro Internacional de Mejoramiento de Maíz y Trigo) di Meksiko untuk pengembangan benih-benih jagung dan gandum hybrida (tahun 1950).

Kemudian dalam perkembangannya muncul lembaga-lembaga penelitian serupa yang dibiayai oleh korporasi-korporasi pertanian untuk menghasilkan benih-benih hybrida yang disebut sebagai fase industrialisasi benih dan privatisasi benih. Dan untuk memperkuat indus-trialisasi dan privatisasi benih dibangun juga wacana-wacana bahwa untuk mengurangi bencana kelaparan dan kekurangan unsur-unsur vitamin pada negara-negara berkembang, Perusahaan-perusahaan pertanian besar dengan kekuatan modalnya melakukan penelitian dan kajian-kajian untuk memproduksi benih-benih rekayasa genetika (genetically modified organism/GMO) dan benih-benih biofortifikasi.

Untuk melindungi hasil-hasil penelitian dan kajian-kajian yang diproduksi oleh korporasi/perusahaan pertanian tersebut Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengeluarkan berbagai macam peraturan-peraturan atau kebijakan yang mengikat negara-negara yang menjadi anggotanya. Salah satu kebijakannya itu adalah TRIPS/PATEN (perdagangan hak kekayaan intelektual) dan UPOV (persatuan internasional untuk perlindungan varietas tanaman baru). Dengan semua kebijakan ini semua yang berkaitan dengan kekayaan intelektual harus mengikutinya. Kebijakan-kebijakan global tersebut juga kemudian akan diadopsi oleh negara-negara lain dalam bentuk perundang-undangan dan kebijakan di level nasional.

Bagaimana di Indonesia? Di Indonesia, Revolusi Hijau ini dikenal dengan Gerakan Bimas (bimbingan massal) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan terutama beras. Beras merupakan bahan pangan yang memiliki posisi strategis bila ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan politik. Gerakan bimas diluncurkan pada zaman orde baru pada era Presiden Soeharto berintikan pada penggunaan teknologi yang disebut sebagai panca usaha tani. Panca usaha tani tersebut meliputi pengolahan tanah yang baik, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk yang cukup, penggunaan pestisida yang tepat serta penggunaan alat pertanian modern.

Bagaimana nasib benih setelah tidak lagi dikontrol oleh perempuan petani? Benih pada fase sebelum muncul revolusi hijau adalah barang common artinya barang yang dapat dimiliki oleh setiap orang terutama oleh perempuan petani. Benih merupakan bagian yang tak terpisahkan dan memiliki kedekatan yang erat dengan perempuan. Perempuanlah yang menjadi tuan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan benih.

Mereka mampu untuk menyeleksi, mengelola, merawat, melindungi dan mengembangkan varietas baru. Demikian juga dalam hal penentuan dan keputusan untuk penanaman jenis tanaman, perempuan memiliki sangat menguasai bidang tersebut. Namun setelah muncul revolusi hijau dengan segala instrumennya, benih men-jadi barang komodi, dimana benih adalah barang dagangan dengan paradigma kapitalistik patriarki.

Benih-benih dikuasai, dikendalikan dan dikontrol oleh korporasi/perusahaan pertanian yang diproduksi dengan modal besar dan dari hasil kajian peneliti yang dibayar mahal. Dalam praktek revolusi hijau di lapangan ternyata peran laki-laki sangat dominan, mulai dari pengolahan lahan, penentuan jenis tanaman sampai pada pasca panen dan mengesampingkan peran perempuan dalam pertanian. Dengan fenomena ini program revolusi hijau itu sangat patriarki. [***]

Penulis: John Pluto Sinulingga – Koordinasi Program Bina Desa

 

ARTIKEL TERKAIT

Ibu Bayyinah: Pertanian Alami Sebagai Perlawanan

Perjanjian Internasional Yang Relevan Dengan Varietas Tanaman, Benih dan Perlindungan Hak Petani

Benih Dan Sumber-Sumber Agraria Rakyat

Merawat Benih Lokal Menjaga Kehidupan

BELAJAR KONSERVASI BENIH DARI DAYAK MERATUS, “PANTANGAN MENJUAL PADI”

Call For Paper Jurnal Agricola Vol 1 No. 1 (September 2024)