Bina Desa

Perempuan di Garis Depan Pertanian Alami: Belajar, Bertahan, dan Bergerak dari Lumajang hingga Polman

Lumajang – Polman. Di dua ujung Nusantara, perempuan-perempuan petani berkumpul untuk sebuah tujuan yang sama: merefleksikan perjalanan mereka menjaga pertanian alami tetap hidup di tengah berbagai tekanan. Pertemuan itu berlangsung di Sekretariat Paguyuban Sidomakmur, Lumajang, Jawa Timur, pada 18–19 November 2025, dan berlanjut di sekretariat Kelompok Wanita Tani Pada Kita, Kelapa Dua, Polman, Sulawesi Barat, pada 22 November 2025.

Meski berbeda lokasi, kedua kegiatan ini memperlihatkan satu benang merah: perempuan adalah tulang punggung pertanian, namun peran mereka masih kerap luput dari pengakuan formal maupun kebijakan publik.

Lumajang: Mengurai Peran yang Tak Pernah Benar-Benar Terlihat

Di Lumajang, kegiatan refleksi perempuan petani dibuka sebagai ruang aman bagi perempuan dari berbagai desa—ruang yang selama ini jarang mereka miliki. Di sinilah para peserta mulai menggali pengalaman, membicarakan beban ganda, dan mengidentifikasi tantangan-tantangan yang selama ini mereka hadapi dalam produksi pangan.

“Perempuan itu mengolah, menanam, memanen, sampai memastikan makanan tersaji di rumah,” ungkap Sulikah dari peserta Sidomakmur. Pernyataan ini menjadi cermin kenyataan: perempuan menjalankan hampir seluruh rantai kerja pertanian, namun kontribusinya sering dianggap sebagai ‘bantuan’, bukan peran utama.

Dalam diskusi, peserta mengungkapkan minimnya akses perempuan pada alat dan sarana produksi, terbatasnya pelatihan yang ramah perempuan, serta ketimpangan dalam pengambilan keputusan baik di keluarga maupun kelompok tani. Banyak perempuan mengaku lelah secara fisik dan mental, tetapi jarang memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.

Kegiatan refleksi ini kemudian mendorong lahirnya langkah-langkah kolektif: membangun solidaritas, menyusun strategi bersama, dan memperkuat suara perempuan dalam arah kebijakan pertanian alami yang semakin relevan di tengah krisis pangan dan perubahan iklim.

Polman: Catatan Perjuangan di Tengah Lahan Sempit dan Cuaca yang Tak Menentu

Di Polman, kegiatan refleksi digelar dengan suasana yang tak kalah hangat. Para peserta diajak menceritakan pengalaman mereka setahun terakhir. Cerita-cerita yang muncul menggambarkan betapa kerasnya perjuangan perempuan petani menjaga ketahanan pangan keluarga dan kelompok.

Orpa dari Mamasa, misalnya, datang dengan cerita tentang keterbatasan lahan. “Kami ingin sekali bertani, tapi lahan kelompok hanya setengah hektare,” ujarnya. Meski demikian, kelompoknya tetap mencoba mempraktikkan pertanian alami melalui budidaya padi gogo.

Rabiana dari Indo Kasau mengungkapkan persoalan klasik yang akrab bagi banyak petani: gugurnya buah cabai sebelum panen dan ketersediaan bibit yang tak selalu sejalan dengan kesiapan lahan. Sementara Ramia dari kelompok Pada Kita bercerita tentang kegagalan panen sayur akibat cuaca ekstrem. Tomat yang membusuk saat musim hujan, produksi gula semut yang terhenti karena bahan baku menipis, hingga ternak kambing yang sakit dan mati—semuanya menggambarkan betapa rentannya usaha tani perempuan ketika berhadapan dengan alam dan minimnya dukungan sistemik.

Meski begitu, tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti. Justru dari kegagalan itu tumbuh tekad baru untuk terus belajar, memperbaiki praktik, dan mencari solusi bersama.

Menghubungkan Dua Cerita, Menegaskan Satu Pesan

Refleksi perempuan petani alami di Lumajang dan Polman menghadirkan pesan kuat yang kini semakin nyata: perempuan bukan sekadar pendukung pertanian, mereka adalah penggerak utama yang menjaga keberlanjutan pangan dari akar rumput.

Kegiatan di dua daerah tersebut menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi ruang untuk berbicara, mereka bukan hanya mengungkapkan keluhan, tetapi menawarkan jalan. Mereka hadir dengan pengalaman konkret, strategi praktis, dan semangat kolektif untuk memperbaiki praktik pertanian alami—sesuatu yang sangat dibutuhkan di tengah tantangan pangan nasional.

 Di balik cerita tentang lahan sempit, cuaca ekstrem, dan beban ganda, ada satu hal yang selalu muncul: harapan. Harapan bahwa suara perempuan petani akan mendapat tempat yang lebih kuat dalam tata kelola pertanian, harapan bahwa pertanian alami semakin diakui sebagai jalan masa depan, dan harapan bahwa negara memberi perhatian yang lebih serius pada peran perempuan di lapangan.

Dan dari dua ruang sederhana itu—Lumajang dan Polman—perempuan menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penyintas, tetapi pemimpin yang sedang bangkit, perlahan namun pasti, mengubah wajah pertanian Indonesia.

***

Penulis: Dona Rahayu Staf Media dan Komunikasi

Artikel ini telah terbit di Buletin Bina Desa edisi 152

Artikel terkait