Bina Desa

Merawat Benih Lokal Menjaga Kehidupan

Indonesia dengan berbagai macam strategi kebijakan negara (pemerintah) di sektor pertanian sering menimbulkan masalah di kalangan petani. Masalah reforma agraria yang tidak terlaksana dengan baik, selain itu langka dan mahalnya pupuk menjadi persoalan pertanian. Tak hanya itu, persoalan benih yang tidak lagi terjamin kualitasnya karena pemanggku kebijakan yang hanya berorientasi proyek atau keuntungan (profit) dibanding memikirkan kesejahteraan petani.

Kebijakan pertanian yang diawali dengan revolusi hijau dan ditambah dengan kebijakan-kebijakan lainnya akhirnya menjadikan petani sudah tidak lagi memiliki kedaulatan dan kemandirian dalam penyediaan pangan dan input-input pertanian. Bahkan mengalami kemiskinan secara sistematis oleh dampak kebijakan pembangunan sektor pertanian. Hal itu terjadi seiring dengan peningkatan biaya produksi pertanian yang tidak diimbangi dengan hasil pendapatan yang diperoleh.

Dalam beberapa input pertanian, benih merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya pertanian. Tanpa benih maka proses budidaya tidak akan pernah terjadi. Di Indonesia sudah banyak benih lokal yang hilang karena sudah tidak dibudidayakan. Benih-benih tersebut sudah digantikan oleh benih-benih hibrida yang diproduksi oleh perusahaan penghasil benih hibrida. Benih-benih hibrida ini sebagian besar hanya dapat digunakan untuk satu kali tanam agar hasilnya maksimal sehingga ketika petani ingin menanam kembali, mereka harus membeli lagi benih hibrida yang diproduksi perusahaan, baik perusahaan nasional, multinasional, maupun BUMN.

Perusahan penyedia kebutuhan pertanian seakan memegang kendali penuh atas segala kebutuhan pertanian sehingga petani seakan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa membeli input-input pertanian yang dihasilkan perusahaan. Berdasarkan data dari Kementerian BUMN hingga Oktober 2021, PT Pertani (Persero) telah memasok benih padi sebanyak 25.203 ton atau untuk kebutuhan luasan lahan sawah sebesar 1.008.135 hektar. Itu adalah pasokan benih yang diproduksi oleh perusahaan BUMN dan disalurkan melalui Kementerian Pertanian. Belum lagi pasokan benih yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan nasional maupun multinasional.

Saat ini, benih, pupuk, dan pengolahan tanah justru menambah besarnya biaya produksi. Padahal dari waktu ke waktu harganya semakin meningkat. Petani yang seharusnya bisa berdaulat, namun justru menjadi ketergantungan pada input-input yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan pertanian yang difasilitasi oleh pemerintah. Di sisi lain, kelestarian sumber-sumber alam dan lingkungan, mulai dari pengelolaan lahan, penyiapan input pertanian, produksi dan penangan pasca panen sudah tidak dipertimbangkan oleh petani.

Tingginya biaya produksi dan tidak adanya jaminan pasar hasil panen petani membuat petani kesulitan sehingga tidak sedikit petani dan generasi muda justru lebih memilih alih profesi menjadi buruh untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Atas dasar situasi itulah kemudian penting kiranya untuk dilakukan langkah awal penyiapan input petani dengan kegiatan pemuliaan benih sebagai upaya konkrit untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi petani saat ini.

Bina Desa telah melaksanakan rangkaian pendidikan pemuliaan tanaman terutama dalam praktik penyilangan dan pemeliharaan benih-benih lokal. Pendidikan ini telah dilakukan dua kali dalam satu periode. Kegiatan pertama dilakukan di Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini melibatkan peserta dari Region Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dengan difasilitasi oleh Bina Desa bersama H. Masroni dari Indramayu yang merupakan salah satu fasilitator dalam Pemuliaan Tanaman.

Pendidikan dimulai dengan pengantar materi mengenai pemuliaan tanaman, selanjutnya peserta memfokuskan materi pada pemuliaan tanaman padi. Peserta bersama-sama menuliskan kriteria benih padi yang diharapkan kemudian mengidentifikasi benih padi lokal yang paling dekat dengan kriteria yang diharapkan. Hingga pada proses praktik penyilangan dan rekayasa jika cuaca tidak mendukung untuk proses penyilangan.

Kegiatan kedua dilaksanakan di Desa Lendong, Kampung Lonto, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini melibatkan peserta dari Region Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Kegiatan ini difasilitasi oleh Bina Desa dengan fasilitator yang merupakan petani pemulia benih padi di Desa Lendong yaitu bapak Matias Pagang. Selain mendapat pengatar materi secara teoritis, peserta juga belajar berpraktik bersama dalam menyilangkan benih padi. Peserta dapat melihat secara langsung lahan praktik hasil penyilangan padi milik Bapak Matias.

Pendidikan pemuliaan tanaman yang telah difasilitasi oleh Bina Desa di berbagai wilayah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani dalam pengetahuan dan praktik pemuliaan tanaman terutama dari benih-benih lokal. Dengan demikian, petani tidak lagi ketergantungan dengan benih hibrida yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan penghasil benih hibrida. Petani diharapkan bisa mandiri dalam pemperoleh dan mengelola input-input pertanian terutama benih.

Ditulis Oleh: Maritsa Zuchrufa

Artikel ini telah terbit di Buletin Bina Desa edisi 148

Artikel terkait