Ibu Bayyinah: Pertanian Alami Sebagai Perlawanan

Senja itu mendung menggelayut namun hujan belum juga turun. Desa Merden yang tenang kian sejuk menggigit tulang, lampu-lampu mulai menyala di setiap rumah. Ibu Bayyinah terlihat sedang mengurus ayamnya di samping rumah, suara ayam terdengar keras bersahut-sahutan berebut dapat pakan. Ayam kampung itu diberi pakan alami ramuan Ibu Bayyinah sendiri, tak heran jika ayamnya sehat, gesit dan kandangnya tidak berbau. Menurut Ibu Sulastri, tetangganya, ayam milik Ibu Bayyinah dagingnya lebih gurih dibandingkan ayam kampung lainnya. Selain memelihara ayam, ia juga memelihara ikan dan kambing, menanam padi lokal di sawah dan sayuran di pekarangan rumahnya, semuanya dirawat dengan berbagai nutrisi dan input alami.

Hasilnya, selain produk pangan sehat bergizi, tanah, air dan sumber hayati pangan sehat terjaga. Ibu Bayyinah adalah petani alami yang lahir di Merden. Orangtuanya dulu sebagai buruh tani tetapi berkat kerja kerasnya, mereka menjadi penggarap dan akhirnya mampu memiliki lahan sendiri. Masih lekat dalam ingatannya, setiap selesai sholat subuh orangtuanya bergegas ke sawah, menurutnya, berangkat mencari rezeki harus mendahului matahari. Menjalani hidup dengan sederhana, bekerja keras, mengutamakan pendidikan dan berusaha memiliki tanah walau sejengkal untuk bertani adalah prinsip hidup orangtuanya yang selalu lekat dalam ingatannya.

Sejak kecil hidup dalam asuhan keluarga pekerja keras membuatnya tumbuh menjadi perempuan gigih, kreatif dan inovatif. Melihat sawah orangtuanya menjadi tanah liat dan padi tidak bisa tumbuh, hatinya tergerak untuk memulihkan agar subur kembali, menjadi sumber pangan sekaligus sumber penghidupan, setelah berbagai anjuran dari PPL (Petugas Pertanian Lapangan) idak mampu menyuburkan lahannya. Menurutnya, tanah bisa subur jika kita bekerja keras mengolahnya dengan menjauhkan input kimia yang justru menghancurkan sumber pangan dan terlilit hutang ke toko saprotan (usaha produksi pertanian) seperti orangtuanya. Meskipun
belum tahu bagaimana caranya, ia percaya niat baik akan diberkahi Tuhan.

Berjuang Menguatkan Pengetahuan

Ibu Bayyinah memaknai kehancuran tanah dan sumber pangan sebagai ketidakadilan pemerintah terhadap petani. Orangtuanya menggunakan input kimia, juga sawah-sawah yang ada di desanya karena kebijakan revolusi hijau. Ia sering mendengar keluhan ibunya tentang serangan hama wereng dan tikus yang beberapa kali menghabiskan padinya di sawah, belum lagi hama tungro dan jamur yang selalu menyertai masa tumbuh padi. Sehingga ia memilih melepaskan seluruh ikatan input kimia pabrikan; meninggalkan benih hibrida, pupuk dan pestisida kimia, menggantinya dengan mencari kembali benih lokal di Merden, dibudidayakan serta belajar membuat kompos.

Karena merasa pengetahuan dan pengalamannya terbatas, ia membutuhkan perjuangan panjang, baik melalui pelacakan pengetahuan yang pernah di praktikkan di desa Merden maupun belajar kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang pertanian yang dibutuhkannya. Belajar kepada para ahli budidaya benih lokal dan SRI (System Rice Intensification) pun ia lakukan.

Ketika mendengar ada dua orang fasilitator pertanian alami di desanya (Ibu Tuti dan Bapak Parno) yang telah beberapa kali mengikuti pendidikan fasilitator yang diselenggrakan Bina Desa, ia segera menemui Bapak Parno. Dari perjumpaannya, ia semakin yakin inilah pertanian yang tepat untuk dikembangkan. Pelajaran pertama adalah pertanian alami sebagai jalan keluar mengatasi ketergantungan terhadap input pertanian pabrikan. Ada berbagai macam nutrisi dan mikroba yang harus dibuat sesuai dengan tahapan siklus hidup tanaman. Pelajaran kedua, pertanian alami membutuhkan keuletan, kesabaran dan ketekunan karena ketepatan campuran, ukuran dan tahapan dalam memberikan nutrisi dan mikroba berpengaruh terhadap tumbuh kembang tanaman, seperti manusia, kebutuhan nutrisinya berbeda setiap tahapnya.

Tahun 2009 Ibu Bayyinah memperoleh kesempatan belajar langsung dengan Dr Cho, pakar pertanian Alami dari Korea Selatan yang diundang oleh Bina Desa untuk berbagi dalam lokakarya nasional pertanian alami di Padang, Sumatera Barat. Bersama dengan Bapak Parno, ia mewakili Jawa Tengah dan menjadi peserta aktif. Dari pertemuan tersebut ia semakin menyadari, pertanian alami sudah ada di Indonesia sejak lama, tetapi diberangus oleh pertanian kimia. Pengetahuan dan kepeduliannya pada pertanian alami ditularkan kepada petani lain di Merden. Ia mengundang para tetangganya untuk membuat nutrisi secara bersama dari nasi dicampur gula merah. Mereka juga mengumpulkan benih lokal yang sudah langka dan berhasil menemukan varietas lokal rojolele, sinta nur dan beras hitam yang dibudidayakan oleh petani di Merden utara.

Ketika panen tiba, mereka makan bersama nasi hasil panen padi pertama dan sayuran alami, sekaligus sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena upayanya membuahkan hasil. Petani merasa gembira karena nasinya lebih enak dan tidak pera seperti IR 24 meskipun hanya
dimakan dengan sayur bayam dan daun kelor.

Pertanian Alamai Sebagai Pilihan Perlawanan

Ibu Bayyinah banyak melakukan ujicoba membuat campuran mikroba dan nutrisi untuk padi, sayuran, ikan, ayam dan kambing. Ia selalu mengingatkan petani lainnya, tidak cukup hanya dengan memberi nutrisi dan mikroba, tetapi kasih sayang dan perhatian kita menjadi
bagian penting dalam bertani agar memiliki kepekaan apa yang mereka butuhkan. Berbicara dengan tanaman dan binatang adalah cara berkomunikasi yang menurutnya efektif. Ia menyadari, pandangan dan sikapnya terhadap alam sulit dipahami oleh orang lain. Tetapi semua diterimanya sebagai ujian karena merawat ciptaan Tuhan adalah tugasnya sebagai manusia.

“Saya sudah bertekad mengikuti cara hidup orangtua saya, sebagai petani, tetapi bertani alami. Alam itu ciptaan Tuhan dan menanam itu sedekah. Hidup kita juga tergantung dari alam, jadi harus merawatnya dengan baik. Tidak perlu memaksanya sampai menggunakan bahan kimia karena justru menghancurkan kesuburannya.”.

Kecintaannya pada alam juga ditularkan kepada anak-anak. Ia mengintegrasikan Pertanian Alami kedalam materi pelajaran di TPA bagi anak-anak usia 5-10 tahun sebagai upaya mengajarkan tentang menyayangi ciptaan Tuhan sejak dini; mencintai alam, memahami kebutuhan makan kita dan darimana asalnya.

Tantangan sebagai Perempuan Petani Alami

Langkah perlawanannya terhadap revolusi hijau dengan laku spiritualitaspun menemui banyak tantangan. Sejak mempraktikkan pertanian Alami, Ibu Bayyinah kerap didatangi PPL menawarkan pupuk organik cair agar tidak repot membuat nutrisi sendiri. Tawaran tersebut ditolak karena ia merasa lebih nyaman dengan input buatan sendiri dan tidak tergantung kepada pihak lain. Sebagai perempuan petani alami ia kerap mengalami pelecehan. Karena gemar mencari pengetahuan, tetangganya seringkali melecehkannya sebagai janda genit yang suka bepergian dan bertemu laki-laki. Ia juga diberi stempel sebagai orang gila karena berbicara dengan tanaman dan binatang. Tetapi ia menyikapinya dengan sabar, baginya justru menjadi semangat untuk membuktikan ia mampu membawa perubahan yang bermanfaat bagi banyak orang. Dalam merefleksikan perjuangannya sebagai perempuan petani alami ia mengatakan,

“Perempuan harus bekerja keras tiga kali lipat dari laki-laki baru dihargai keberadaannya. Sebelum benar-benar sukses perempuan tidak akan di hargai”.

Penulis: Dwi Astuti – Ketua Pengurus Bina Desa

 

ARTIKEL TERKAIT

Podcast Pangan dan Gizi

Pestisida Kimia dan Kekerasan Terhadap Perempuan

5 Alasan Produk Pangan Hasil Pertanian Alami, Penting Untuk Dikonsumsi

Membangun Masa Depan Sehat: Hari Gizi dan Makanan dengan Pemulihan Benih Tanpa Bahan Kimia

Belajar dari Laos: Menjaga, Mengelola Kesuburan Tanah dan Mengelola Hama Secara Alternatif

FPAR: Pentingnya Dokumentasi Pengetahuan Bagi Perempuan Pejuang Kedaulatan Pangan