Belajar dari Laos: Menjaga, Mengelola Kesuburan Tanah dan Mengelola Hama Secara Alternatif

Pertanian memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga menjadi sumber penting bagi negara sebagai tulang punggung perekonomian dan sumber daya alam yang berkelanjutan. Pada era globalisasi saat ini penting untuk mengetahui lebih dalam betapa penting dan vitalnya sektor pertanian dalam mencapai ketahanan pangan dan pembangunan yang berkelanjutan.  

Pada era revolusi hijau, untuk mendapatkan hasil panen yang berlimpah pemerintah pusat gencar memperkenalkan pertanian yang modern. Hal ini juga mencangkup pengenalan varietas tanaman unggul, penggunaan pupuk kimia serta pengendalian hama yang lebih efektif dengan menggunakan pestisida kimia. Sayangnya penggunaan pertanian modern memiliki dampak bagi lingkungan yakni, terjadinya degradasi tanah dan tingginya pencemaran lingkungan.  

Secara global, pertanian semacam ini disebut juga dengan pertanian konvensional dan menjadi perhatian dunia bahwa, model pertanian seperti ini telah banyak mengorbankan lingkungan dan keadilan sosial. Perlu adanya perubahan secara radikal secara luas, untuk menciptakan sumber pangan yang sehat, meningkatkan kehidupan petani di pedesaan, menciptakan keadilan sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu perlunya agroekologi untuk menciptakan hasil pertanian yang sehat dan berkualitas. 

Pada dasarnya agroekologi merupakan dua kata dari kata ekologi dan pertanian. Jadi agroekologi merupakan penerapan konsep ekologi dalam sistem produksi pertanian yang meliputi pengkajian, perancangan, dan pengelolaan. Agroekologi bukan lagi sebuah konsep yang diperdebatkan. Sayangnya konsep ini masih belum menjadi konsep utama yang digunakan oleh pertanian saat ini. Untuk mengarus utamakan konsep ini, Tha Asian People’s  Exchange for Food Sovereignty and Agroecology (APEX) Secretariat mengadakan rangkaian pelatihan tentang Agroekologi seri ke-2. Untuk mendorong terlaksananya kegiatan ini, APEX secretariat yang bekerja sama dengan SPERI menyelenggarakan acara tersebut di Provinsi Luang Prabang, Laos. Bina Desa terlibat dengan mendelegasikan dua perwakilan lembaga yaitu Maritsa Zuchrufa dan Realita S Febiarti. 

Pada kesempatan ini, Bina Desa berkesempatan untuk berbagi pengetahuan mengenai tradisi atau budaya lokal yang mendukung praktik agroekologi (Pertanian Alami) di Indonesia. Bina Desa juga memperkenalkan beberapa benih lokal Indonesia, serta cara masyarakat dalam memperlakukan tanaman berdasarkan budaya masing-masing. Seperti contoh Pare Punu’ Le’leng dari Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu jenis padi ketan hitam. Jenis olahan padi tersebut biasanya selalu ada atau disajikan di berbagai acara-acara penting di Kabupaten Bantaeng. 

Selain berbagi cerita atau pengetahuan mengenai praktik-praktik agroekologi di masing-masing negara, peserta juga mendapatkan pendalaman materi mengenai bahaya pestisida bagi alam maupun manusia, bahkan mengakibatkan kematian. Hal ini dijelaskan dalam bentuk data hasil riset di berbagai negara mengenai tingginya angka kematian petani akibat dari penggunaan pestisida serta dampak lainnya bagi kesehatan dan lingkungan. Selain itu juga peserta dapat mengidentifikasi beberapa jenis pestisida yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan besar, dalam hal ini banyak produk pestisida yang dilarang penggunaannya di negara asal yang memproduksi tetapi justru diekspor ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. 

Selanjutnya, peserta saling berbagi pengetahuan mengenai metode alami yang digunakan di masing-masing negara dalam mengatasi permasalahan hama tanaman, penyubur tanaman, dan budaya lokal dalam melakukan pengolahan tanah untuk menjaga kesuburan tanah secara alami. Peserta juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan lapangan di dua desa yang ada di wilayah provinsi Luang Prabang untuk saling berbagi pengetahuan lokal tentang praktik agroekologi dan melihat langsung kondisi pertanian di wilayah tersebut. Dalam proses kunjungan lapang, ada sesi pertukaran benih lokal antara penduduk desa dengan peserta yang telah membawa benih lokal dari masing-masing negara. 

Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk memperoleh banyak pengetahuan dari berbagai negara dalam praktik-praktik agroekologi di masing-masing negara. Pelatihan ini dapat memperkaya referensi baik secara pengetahuan keilmuan maupun praktik yang mendukung Pertanian Alami yang sedang diusung oleh Bina Desa saat ini. Metode ini sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia, pestisida kimia dan dapat dilakukan secara tradisional berdasarkan kearifan lokal masing-masing daerah. Di Indonesia pertanian secara tradisional masih banyak dilakukan terutama pada tatanan kultur adat dan budaya. Pada pelatihan ini peserta dilatih bagaimana cara mengelola kesuburan tanah secara ada dan tradisional, mendesain agroekosistem yang baik untuk menjaga keseimbangan ekologi. (MZ/DR)

ARTIKEL TERKAIT

HTNM Gelar Pendidikan Advokasi Bagi Petani

Inisiatif Komunitas Swabina Pedesaan Sallasae Dalam Menyelenggarakan Kemah Pemuda

FPAR: Pentingnya Dokumentasi Pengetahuan Bagi Perempuan Pejuang Kedaulatan Pangan

Belajar Bersama AsiaDHRRA: Memahami Agroekologi, Advokasi Kebijakan dan Keterlibatan Konstruktif

Perluas Komunitas, KSP Lungkong Berganti Nama Menjadi PIDATO

Peta Wilayah Adat Bobongko di Lipu Baulu Menuai Apresiasi