Majalah National Geographic, edisi Juni 2011, pernah mengulas tentang Candi atau Kuil Göbekli Tepe di Turki. Judul tulisan utama majalah itu demikian: The Birth of Religion, The World’s First Temple. Artikel ini menjelaskan secara panjang lebar bahwa dalam proses membangun peradaban manusia, agama dan pertanian merupakan hal yang penting. Apakah agama berada di depan atau di belakang pertanian, keduanya merupakan jalan yang melahirkan peradaban.
Penemuan lingkungan candi atau bangunan itu, yang dinamakan Gobekli Tepe –bahasa lokal untuk: bukik perut periuk, membuat ahli membangun sebuah teori baru tentang agama dan pertanian. Diperkirakan bangunan ini dibangun pada masa revolusi neolithic, yang menggambarkan betapa eratnya agama dan pertanian. Mengapa? Karena bangunan ini mencerminkan sebuah era transisi dari era pemburu-peramu ke era petani-penetap. Untuk membuat sebuah perkampungan yang menarik orang untuk berkumpul, lalu mereka menciptakan konsep “yang suci” –yang menjadi cikal bakal agama. Lalu, bersama dengan lahirnya konsep agama, terbentuklah upaya untuk mulai menjinakan (domestikasi) tanaman dan hewan-hewan, serta perumahan permanen.
Untuk membangun proses seperti itu, bisa saja agama lahir dulu, baru kemudian diikuti dengan menjadikan proses beternak dan bertani sebagai proses berkeluarga (domestikasi). Artinya, agama memerlukan pentingnya tanaman dan hewan dalam bentuk ritus-ritus. Untuk itu, sebuah masyarakat harus terbentuk, supaya terjadi kolektivitas. Agama mendahului terbentuknya masyarakat dan pertanian. Namun, bisa juga sebaliknya, setelah proses membangun pertanian dan peteranakan, lahir sebuah upaya membangun perumahan permanen dan kemudian terbentuklah masyarakat. Untuk mengikat masyarakat menjadi satu kesatuan yang kuat dan berkelanjutan, agama menjadi faktor pengikat yang penting. Tidak ada ritus sosial tanpa topangan doa-doa keagamaan.
Apa yang bisa dipetik dari penjelasan ini bagi kita sekarang? Agama lahir lebih mendahului atau mengikuti pertanian tidaklah terlalu penting. Yang menarik justru sejak awal peradaban agama menjadi faktor penting kehidupan masyarakat secara kolektif. Dengan agama, pertanian menjadi salah satu teknologi yang ditujukan untuk kehidupan bersama. Artinya, kalau melihat ritus memulai masa menanam, misalnya, kita ingat kembali bahwa pertanian sebenarnya ditujukan untuk membangun solidaritas. Melalui ritus itu, pertanian seharusnya dilakukan dalam konteks kolektivitas –kebersamaan.
Itulah sebabnya, di masa lalu, ketika masa panen tiba, bulir-bulir padi yang masih muda ditinggalkan. Lalu, sesudah masa panen usai, sawah dibiarkan beberapa waktu –menunggu sampai bulir muda menjadi tua—dan kelompok miskin diperbolehkan menuai bulir yang tertinggal, tanpa ada gangguan dari siapapun—dalam bahasa Jawa kuno namanya: ngasak. Sesudah semua bulir padi habis, barulah semua tanaman padi akan dibongkar habis, dan dijadikan pupuk –dengan cara dibiarkan membusuk di sawah, atau dibakar. Di sinilah kita melihat dimensi religius atau teologis pertanian. Pertanian harus mampu memberi kehidupan kepada semua anggota masyarakat, termasuk yang paling miskin, tanpa membuat mereka merasa direndahkan.
Begitu juga dalam urusan benih. Lumbung dulu dibangun –ditopang oleh ritus penyimpanan benih—untuk penyimpanan hasil panen yang lebih, baik untuk cadangan dan benih untuk masa tanam berikutnya. Ritus itu juga bukan sembarangan. Ritus itu mengajak semua orang di komunitas memahami bahwa benih itu adalah awal kehidupan. Sehingga, semua orang tidak boleh memperlakukan benih dengan sembarangan. Benih adalah (sumber) kehidupan. Tanpa benih tidak ada kehidupan. Lalu, dengan itu kita bisa memahami mengapa benih padi dikaitkan dengan Dewi Sri –di kalangan masyarakat Jawa. Dewi Sri adalah lambang kehidupan yang penuh dengan kesuburan, keindahan, kecukupan, dan kesejahteraan. Artinya, kalau orang Jawa mampu mengelola padi dengan bijaksana, maka akan lahir kemakmuran dalam banyak hal.
Secara lebih utuh, kalau masyarakat sekarang mampu mengaitkan pertanian dan agama, maka persoalan kedaulatan pangan tidak menjadi masalah. Namun, ketika aspek religius pertanian ditinggalkan –dan sangat bergantung pada teknologi—yang lahir adalah individualisme, keserakahan, dan anti-solidaritas. Bukan berarti, kita sekarang mesti mengabaikan teknologi. Tidak. Teknologi penting, namun jangan sampai melupakan dimensi religius atau teologis pertanian. Sebab, kita tahu bahwa penopang peradaban –termasuk teknologi—adalah agama dan pertanian. Kalau kedua hal itu terabaikan, maka tidak heran, peradaban kita mengalami goncangan. Manusia menjadi tidak berdaulat atas pangan dan dirinya sendiri.
Kembali pada National Geographic, para peneliti berasumsi bahwa agama muncul sebagai cara untuk menyelesaikan ketegangan yang muncul dalam transisi pemburu menjadi petani, dan dari situ berkembanglah sebuah masyarakat yang kompleks, dan menyimpan benih menjadi penting. Lalu, munculah sebuah desa di mana anggotanya perlu membangun komitmen untuk menyelenggarakan pekerjaan secara kolektif atau bersama-sama; dan agama sekali lagi menjadi salah satu pembentuk nilai atau moralitas kebersamaan yang penting.
Maka, menghargai berbagai ritus pertanian merupakan hal yang penting. Hal itu akan menyadarkan bahwa pertanian yang baik adalah pertanian yang membawa kehidupan bagi semua orang. Pertanian yang baik adalah pertanian yang mendorong lahirnya kedaulatan pangan, yang ditopang oleh nilai religius. Kalau itu terjadi, pertanian akan menjadikan semua orang berdaulat atas pangan, dan mampu melahirkan solidaritas bagi semua orang, termasuk yang paling miskin dalam kehidupan masyarakat.
Penulis: Suwarto Adi
Artikel ini telah terbit di Buletin Bina Desa edisi 149





