Pendidikan Musyawarah sebagai roh SEPEDA

GUNUNGKIDUL, BINADESA.ORG – Bagi Bina Desa pendidikan musyarawah adalah suatu bentuk pendidikan populer yang betujuan membangkitkan kesadaran kritis komunitas marjinal. Pendidikan musyawarah bersifat dialogis, partisipatif, dan mengasah kemampuan komunitas membuat keputusan kolektif. Pada akhir desember 2017, Bina Desa melakukan aktivitas pendidikan musyawarah di Suak Timah, Aceh Barat dan Nglegi, Patuk, Gunungkidul.

Proses pendidikan paralegal di SIMAB, Aceh Barat (Foto: Yuliana/Bina Desa)

Perempuan di Suak Timah yang tergabung dalam Serikat Inong Meutani Aceh Barat (SIMAB) sekitar 30 orang dari berbagai desa berkumpul selama 4 hari untuk mengikuti pendidikan advokasi dan paralegal. Proses ini dipandu oleh Kepala SEPEDA, Mardiah Basuni, Suwarto Adi, dan Lorent Aritonang. Hari pertama hingga ketiga mendiskusikan terkait advokasi, paralegal, hukum dan penyelesaian kasus serta contoh-contoh perdata. Pada hari keempat, SIMAB melakukan kunjungan ke lahan sawah padi alami dan berdikusi terkait usaha kolektif beras alami dan pemasarannya.

“Kami SIMAB kedepannya bertujuan menjadi produksi dan distribusi mengenai usaha kolektif kami yaitu beras alami. Semoga usaha pemasaran SIMAB kedepannya bisa lancar dan berjalan dengan mulus” ungkap Yuliana, anggota SIMAB.

Sementara di Gunungkidul difasilitasi oleh Mardiah Basuni, John Pluto Sinulingga, dan Dwi Astuti. Diikuti oleh 11 orang pengurus dan 10 orang dari anggota Kelompok Tani Ngudi Mulyo yang melakukan aktivitas refleksi organisasi. Kelompok Tani Ngudi Mulyo yang berdiri sejak tahun 2007 dan hingga saat ini telah memiliki banyak jaringan dan kegiatan, misalnya sekolah lapangan yang sudah dapat mencapai 3 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul.

Proses pendidikan musyawarah di Desa Nglegi, Gunungkidul (Foto : John Pluto Sinulingga/Bina Desa)

Menurut Sri Murtirahayu, Kelompok Tani Ngudi Mulyo masih mempunyai tugas untuk meningkatkan kinerja tertutama dari pengurus sendiri. Inipun sejalan dengan hasil refleksi bahwa pentingnya Kelompok Tani Ngudi Mulyo menyusun draft struktur kepengurusan, mendiskusikan kembali visi, misi, dan tujuan serta melihat kembali tugas pokok  dan fungsi tersebut. Tutur sri yang melihat bahwa kelompok ini telah mampu menjadi penyemangat kelompok lain dan mampu membangun jaringan serta berbagi pengetahun.

“Hakekat seorang petani yang merdeka adalah untuk memperjuangkan kemerdekaannya namun untuk saat ini belum bisa karena beberapa hal” tutur mardiah basuni di sela diskusi. Menurutnya solidaritas dalam suatu kelompok itu penting, bagaimana kelompok mampu membangun nilai solidaritas, guyub, kebersamaan dan berbagai itu perlu dipahami oleh setiap anggota dan pengurus.

Bahwa musyawarah untuk pengambilan keputusa, belajar bersama dan memecahkan masalah memegang peran yang amat penting. Itulah mengapa pendidikan musyawarah yang menjadi roh dalam segala aktivitasnya Bina Desa. (bd048Y/bd049SM)

ARTIKEL TERKAIT

Pertanian Alami Memulihkan yang Telah Rusak

Cerita Pengorganisasian dari Filipina

Semua Orang adalah Pemimpin untuk Melakukan Transformasi

Belajar Bertani Alami dari Teh Entin

Membangun Organisasi Rakyat yang Kuat

Menemukenali Pedesaan dengan PRA (Participatory Rural Appraisal)