Pendidikan Koperasi dan Kewirausahaan Sosial Bagi Petani dan Nelayan

Kegiatan pendidikan koperasi dan kewirausahaan sosial bagi petani dan nelayan di Kulon Progo akhir november 2017 lalu (Foto: Achmad Yakub/Bina Desa)

KULON PROGO, BINADESA.ORG – Sistem ekonomi yang tidak berpihak kepada kaum tani dan nelayan seringkali menjadikan kaum tani dan nelayan menjadi kelompok pinggiran. Padahal kaum tani dan nelayan adalah faktor produksi yang utama yang memproduksi bahan pangan bagi kebutuhan konsumen, namun di Indonesia petani dibuat ketergantungan dengan asupan dari luar mulai dari bibit, pupuk pestisida hingga harga jual komoditas hasil pertanian yang  tidak dapat dikontrol oleh petani. Demikianpun dengan nelayan yang seringkali karena keterbatasan modal harus masuk dalam sistem ‘Ijon’ yang membuat nelayan semakin tidak berdaya dan semakin terpuruk dalam jurang kemiskinan.

Salah satu hal yang dapat dijadikan penguatan untuk kaum tani dan nelayan adalah bentuk penguatan ekonomi bagi kaun tani dan nelayan melalui jalan usaha bersama dalam bentuk koperasi dan juga dalam bentuk kewirausahaan soaial. Hal tersebut yang melandasari Swara Nusa Institute dan Bina Desa melaksanakan pendidikan koperasi dan kewirausahaan sosial bagi petani dan nelayan di Sekretariat Lumbung Tani Kulon Progo Desa Tangjungharjo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, DIY akhir November 2017 silam.

Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, kapasitas, dan prinsip-prinsip pengelolaan terkiat koperasi dan kewirausahaan sosial ini dihadiri oleh 24 orang yang terdiri dari 13 organisasi dari KSU Ngudi Makmus (Karanganyar), IKADA (Jepara), Koperasi AWK (Arta Wiguna Karya, Jepara), Puspita Bahari (PPNI Demak), SPU, Makmur Jaya Lestari (Rembang), PPNI Gresik, Ngudi Mulyo (Gunung Kidul),  Paguyuban Sido Makmur (Lumajang), Paguyuban Sidojoyo (Kudus), Lumbung Tani (Kulon Progo), KTM (Kulon Progo),  dan Kelompok Perempuan Nelayan Al-Hikmah (Jepara).

Kepala Desa Tangjungharjo yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa memiliki klinik tanaman dan mempunyai kebijakan pertanian di desa yaitu teknis bertani sistem legowo, tanah kas desa disewakan kepada petani dengan model lelang tertutup, serta memberlakukan penyemprotan alami. Kadespun menyampaikan terkait sudah adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang baru berjalan yaitu simpan pinjam dan akan adanya pasar ikan desa.

Terdapat tiga hal utama yang didiskusikan secara bersama dalam kegiatan tersebut, yaitu pengembangan dan penguatan organisasi, membangun ekonomi dan kewirausahaan sosial, serta konsep dan prinsip-prinsip pengelolaan koperasi. Hal tersebut selaras dengan tiga permasalahan hasil diskusi para peserta, bahwa 13 organisasi yang turut berpartisipasi memiliki permasalahan organisasi terkait internal organisasi yang belum solid, jaringan eksternal yang belum terkelola dengan baik, dan managemen organisasi yang belum tertata.

Aris Hartono dalam pendidikan di Kulon Progo silam menegaskan bahwa koperasi mempunyai 3 pilar, yaitu  pendidikan, keswadayaan dan solidaritas. “Apabila pendirian koperasi tanpa 3 pilar tersebut maka pastilah akan ambruk,” tegas Ketua Dewan Pengurus CU. Koperasi perlu diyakini sebagai soko guru kekuatan ekonomi rakyat harus dibangkitkan untuk memperkuat gerakan tani dan nelayan dalam konteks mewujudkan kedaulatan rakyat. (bd031)

ARTIKEL TERKAIT

Pertemuan Petani Pendidik Pertanian Alami

Usaha Bersama untuk Kemandirian Ekonomi Komunitas

Peningkatan Kapasitas Kewirausahaan Petani Menuju Kemandirian Ekonomi Komunitas  

Mahasiswa UIN Jakarta Belajar Bersama dengan Komunitas

Membangun Ekonomi yang Adil dan Berdaulat

Pertanian Alami Pintu Masuk Pengorganisasian