Merawat Generasi Petani di Desa Bangsal

Pondok pesantren Ibnul Fallaah Desa Bangsal. (Foto : Rohman)

OGAN KOMERING ILIR, BINADESA.ORG – Pondok Pesantren Ibnul Fallaah atau sekedar disebut Ibnul Fallaah terletak di Desa Bangsal, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Mengambil nama dari Bahasa arab, Ibnul Fallaah memiliki arti anak petani atau dapat diistilahkan menjadi generasi petani.

Dilatarbelakangi oleh keadaan geografis Desa Bangsal yang terisolir, yaitu cukup jauh dengan akses kecamatan maupun kabupaten dan hanya memiliki satu akses transportasi melalui laut, beberapa aktivis gerakan tani menginisiasi sebuah lembaga pendidikan. Dengan tujuan agar semua anak yang lulus sekolah dasar dapat meneruskan sekolahnya dan tidak lagi ada alasan geografis untuk bersekolah.

Selain persoalan geografis, persoalan tentang pola pikir pertanian pun menjadi persoalan yang pelik. Siswa yang merupakan anak dari seorang petanipun malas untuk bertani. Saat ditanyakan pada seluruh santrinya, siapakah yang bercita-cita menjadi petani? Hasilnya tak satupun santri dan santriwati yang bercita-cita menjadi petani. Penuturan Rohman salah satu pendidik dan bagian pengurus Ibnul Fallaah.

Ibnul Fallaah memilih pendekatan yang berbasis agama, sebagai jalan untuk mendekati minat masyarakat di pedesaan karena ketika berbicara di desa topik agama selalu menjadi daya tarik sendiri. Hal itupun menjadi misi yang ditetapkan oleh Ibnul Fallaah yaitu Mandiri, Religius, dan Ekologis. Biasanya disebut sebagai tiga pilar Ibnul Fallaah yang diterapkan pula dalam proses belajar.

Proses belajar santri/santriwati Ibnul Fallaah dalam kegiatan pertanian. (Foto : Rohman)

Pada tahun ajaran 2016/2017 pertanian alami mulai menjadi bidang studi di sekolah. Langkah ini untuk mempengaruhi dan merubah pola pikir siswanya terkait petani, pertanian yang suram. Ibnul Fallaah terbuka dengan berbagai jaringan, salah satunya dengan fakultas pertanian Universitas Sriwijaya untuk memberikan kuliah umum yang berkaitan dengan wirausaha pertanian dan pengetahuan serupa yang dapat merangsang keterkaitan siswanya ke dalam dunia pertanian, “Minimal merubah pola pikir bahwa pekerjaan pertanian adalah mulia” tegas Rohman.

Harapannya dengan adanya Ibnul Fallaah yang berpegang pada tiga pilar, yaitu Mandiri, Religius, dan Ekologis serta dengan kemampuan yang ada kita berikan terhadap santri-santriwati, “Kita yakin bahwa anak petani bisa!” pungkas Rohman dengan penuh semangat. (bd031)

ARTIKEL TERKAIT

Peran Masyarakat Kasepuhan dalam Demokratisasi Desa

Polemik Surplus dan Impor Beras

Potret Praktik Demokratisasi Desa

Ruang Demokrasi Bagi Perempuan di Desa Masih Terancam

Constructive Engagement : Upaya Mencapai Tujuan Bersama

Organisasi Sebagai Syarat Mutlak Pembebasan dari Belenggu Kemiskinan dan Pembodohan