Mengenang Ben Anderson: Membangun Hidup Akademia

Oleh: Daniel Dhakidae

Perkenalan kami berlangsung profesional saat urusan penerimaan di universitas. Saya ke Cornell tanpa melamar, dan lebih menjadi tindakan pro-aktif Ben Anderson dalam mencari bakat di Indonesia untuk dididik menjadi peneliti dan mampu menyusun teori sendiri tanpa harus bergantung kepada peneliti asing.

Setelah setahun di Cornell, Amerika Serikat, suatu hari Ben berkata kepada saya: “Daniel, ada lamaran aneh dari Indonesia; ini orang tidak ada ijazah secarik pun! Ijazah SMA tidak ada, ijazah sarjana muda tidak ada, apalagi sarjana, dan mau ambil program doktor di Cornell!”

Sesudah disebut nama, saya katakan, saya tidak terlalu paham peraturan Cornell, tetapi saya berani mengatakan orang tersebut intelijen, tipe manusia pekerja keras, dan tidak ada masalah dengan bahasa-Inggris ataupun Belanda. Kemudian, lahirlah seorang pemegang ijazah PhD, George J Aditjondro.

Pengalaman saya dan Aditjondro menggambarkan betapa Prof Ben Anderson, yang begitu terpandang di Cornell, seorang polyglot sejati yang menguasai mungkin 15 bahasa, dari Latin, Barat, hingga Jawa Kuna, memberi perhatian kepada Indonesia. Dia begitu memiliki komitmen pada studi Indonesia dan orang Indonesia sehingga berani “pasang badan” mempertaruhkan wibawa profesorialnya untuk membela orang seperti Aditjondro.

Ben dan revolusi pemuda

Minat pada Indonesia diperoleh dalam perkembangan studi sejak Cambridge sampai ke Universitas Cornell. Namun, inilah orang yang masuk ke dunia akademia tingkat dunia berawal dari studi Indonesia dan mengambil perspektif berbeda dari gurunya, Prof George Kahin.

Gurunya membuka studi Indonesia modern yang kelak diterbitkan menjadi buku sumber paling utama tentang revolusi Indonesia, yaitu Nationalism and Revolution in Indonesia. Penelitian gurunya mengambil suatu pendekatan elitis dengan sumber-sumber yang duduk dalam pemerintahan atau mereka yang berada di sampingnya.

Ketika memulai studi untuk disertasi yang kelak dibukukan menjadi Java, in Time of Revolu- tion, dia mengubah haluan dengan hipotesis bahwa revolusi Indonesia bukan diledakkan oleh “kaum intelektual yang tersisihkan (alienated intelligentsia), bukan oleh kelas tertindas (oppressed classes), tetapi oleh pemuda, dengan penjelasan kultural bahwa ada suatu yang disebut sebagai pemuda consciousness, kesadaran sebagai pemuda yang menggerakkannya”.

Salah satu bukti paling utama adalah meledaknya “Perang Surabaya”. Tiga contoh diberikan setelah 17 Agustus. Pertama, sejak 21 Agustus, organisasi pekerja penyulingan minyak membentuk sayap Angkatan Muda dengan tokoh utama Sumarsono dan Ruslan Widjaja yang sebelum perang berhubungan dengan Amir Sjarifuddin.

Kedua, setelah organisasi pemuda terbentuk, maka minggu kedua September 1945, pawai (rally) ke seluruh kota dimobilisasikan dan mengadakan pertemuan besar di Tambak Sari. Tanggal 11 September dengan pekik “merdeka”, pertemuan diadakan dengan pengawasan ketat pihak Jepang-delapan hari sebelum rally Ikada di Jakarta.

Ketiga, pada 17 September, Angkatan Muda penyulingan minyak dalam pertemuan di Pasar Turi sudah menuntut penye- rahan kantor-kantor dan pengambilalihan gedung-gedung. Rangkaian gerak itu berujung pada 10 November 1945.

Tanpa berpanjang lebar dengan semua bukti tesis Ben Anderson bahwa pemuda consciousness itu terus menjadi motor pergerakan dari masa ke masa. Terlepas dari semua kontroversi, para pemudalah yang menjatuhkan Soekarno. Soeharto tidak dapat bertahan ketika pemuda menduduki DPR dan MPR. Sangat mungkin yang disebut pemuda consciousness itu akan tetap berlangsung, mengintip, dan menekan rezim yang bertentangan dengan rakyat.

Peristiwa 1 Oktober 1965

Kontroversi terbesar Ben Anderson dalam hubungan dengan sejarah Indonesia adalah posisi- nya ketika berhadapan dengan Orde Baru. Kelihatan Ben Anderson sebagai cendekiawan sejati dengan etos tua, sebagaimana dikembangkan dan dibela habis-habisan Julien Benda, yaitu ethos la fidelité des clercs, kesetiaan seorang cendekiawan terhadap prinsip kejujuran akademik dan membelanya sebagai nilai-nilai abadi tanpa memedulikan kepentingannya sendiri.

Masalah paling utama adalah apa yang disebut sebagai “Cor- nell Paper”, nama yang tidak dikenal di Universitas Cornell, persis seperti restoran padang yang tidak dikenal di Padang.

Ketika meledak peristiwa 1 Oktober, semua warga dijejali pikiran bahwa pembunuh para jenderal adalah orang-orang Partai Komunis Indonesia. Kita kemudian tahu bahwa yang menjadi pembunuh adalah seorang letnan dari kesatuan itu, kapten dari kesatuan ini, dan letkol dari kesatuan lain lagi.

Namun, di sekolah selalu dikatakan kelihatannya saja mereka tentara, tetapi hati, jantung, dan otaknya adalah manusia PKI. Ben Anderson membuka tabir itu sejak bulan-bulan awal.

Awal tahun 1966, dia ke Indonesia untuk meneliti masalah tersebut yang hasilnya dimuat dalam bentuk laporan 200-an halaman dengan judul dingin, sedingin salju di Ithaca, kota tempat Cornell berada: “A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia”, Interim Report Series; “Analisis Sementara Kudeta 1 Oktober 1965”.

Awalnya laporan itu dikirim ke beberapa kolega profesor, tak lebih dari tujuh orang, untuk dikomentari/dibantah dengan catatan besar “for your eyes only”, hanya untuk Anda sendiri.

Kalau Ben Anderson memegang teguh ethos la fidelit√© des clercs, terutama terhadap kejujuran, seorang koleganya yang tidak perlu saya sebut namanya justru berprinsip sebaliknya, yang oleh Benda, disebut la trahison des clercs, pengkhianatan intelektual demi kepentingannya dan mengirimnya ke penguasa Orde Baru; maka sejak itu nama itu diberikan Jakarta menjadi “the Cornell Paper”.

Secara singkat bisa dikatakan laporan itu langsung memusatkan diri pada Divisi Diponegoro, dan membagi dua jenis tentara divisi itu. Pertama adalah tipe serdadu “pembela negara” yang mengerjakan apa pun yang diperintah atasan demi kepentingan negara. Mereka anti PKI, anti Islam, anti kiri, anti kanan, dan tidak politis.

Kedua adalah “tentara Nasakom”, yang condong ke kiri, lebih politis, radikal, nasionalis garis keras. Jenis kedua inilah yang mengambil sikap keras terhadap jenderal-jenderal intelektual di Staf Umum Angkatan Darat (SUAD), yang kejakarta-jakartaan, bergaul dalam bahasa asing. Isu “Dewan Jenderal” sangat mudah termakan tentara jenis kedua di atas.

Di tengah ada Soeharto yang terkenal dengan keberanian individual, tidak macam-macam, berpendidikan formal serba sedikit, lebih dekat ke Diponegoro yang memang berasal dan pernah memimpin di sana.

Dengan tipologi seperti ini dan melihat latar belakang para pelaku kekerasan penembakan terhadap jenderal-jenderal, Cornell Paper mengambil kesimpulan bahwa peristiwa 1 Oktober 1965 adalah masalah interen AD. Itulah upaya kaum muda tentara untuk menyingkirkan jenderal-jenderal dari SUAD, yang dianggap intelektual, sombong, kaya, dan korup.

Kesimpulan inilah yang menjadi pembuka kotak pandora dan mengeluarkan 1.001 bencana. Pertama, kalau itu menjadi wacana publik, pembunuhan jutaan orang dan pembunuhan sosial anak-cucunya atas nama PKI menjadi kebengisan demi kebengisan. Kedua, seluruh legitimasi Soeharto hilang pupus dimakan Cornell Paper. Dengan alasan itulah, dia dilarang masuk Indonesia, menjadi persona non-grata.

Ben Anderson melawan dan menderita sendirian meski Cornell Paper ditulis beberapa orang dan menanggung “pembuangan” dari Indonesia selama 26 tahun (1973-1999). Dia hanya bisa diselamatkan oleh reformasi, yang dalam analisis lebih lanjut memenuhi tesisnya sendiri tentang pemuda consciousness yang menjatuhkan Soeharto.

Kematiannya yang mendadak dan dalam arti tertentu banyak hubungan dengan tesis pemuda consciousness itu. Dalam 26 tahun “pembuangan”, dia berhubungan dengan anak-anak muda yang terhimpun dalam berbagai organisasi, seperti Bambu Runcing dan lain-lain. Terakhir adalah pemuda-pemuda yang berhimpun dalam penerbit Margin Kiri yang menerbitkan terjemahan bukunya, Under Three Flags, yang membahas anarkisme dan imajinasi anti kolonial.

Semuanya menghubungkan apa yang diidamkan Ben Ander- son sejak muda, yaitu, pertama, Indonesia-studinya, tanahnya, orangnya; terutama, kedua, pemudanya; dan ketiga, akhirnya seolah-olah dia merancang kematiannya sendiri dengan meluncurkan buku di Jakarta. (sumber, Kompas)

Daniel Dhakidae, PhD in Government, Universitas Cornell di bawah bimbingan Ben Anderson

 

ARTIKEL TERKAIT