Kartini Terus Berkarya di Usia Senja

Nenek Kartini, Koordinator Sauyunan Perempuan Petani Binangkit, 69 Tahun (Foto : Bina Desa/Gina Nurohmah)

Kartini, sekilas mengingatkan kita pada tokoh perempuan Indonesia dari jepara. Dengan nama yang sama memiliki semangat yang sama tetapi berbeda daerah. Kartini yang ini seorang nenek berusia 69 tahun yang berasal dari Desa Warga Asih, Kec. Kadupandak, Kab. Cianjur. Mengenal beroganisasi pada tahun 2015, yaitu saat pembentukan SPPB (Sauyunan Perempuan Petani Binangkit) pada tanggal 13 November 2015 dan ditunjuk sebagai seksi pendidikan di SPPB. Dalam perjalanannya, kini Kartini telah menjadi Koordinator SPPB.

SPPB adalah organisasi koordinasi tingkat Kecamatan Kadupandak yang beranggotakan tujuh paguyuban yang mewakili dari tujuh desa, yaitu Desa Bojong Kasih (Paguyuban Jaya Kasih), Desa Warga Asih (Paguyuban Cahaya Asih), Desa Neglasari (Paguyuban Karya Mukti), Desa Talaga Sari (Paguyuban Jembar Tani), Desa Gandasari (Paguyuban Tunas Jaya), Desa Sukasari (Paguyuban Ranca Bungur), dan Desa Warga Sari (Paguyuban Hegar Kahuripan).

Pemikiran Progresif

Sebagai seseorang yang sudah masuk lanjut usia, Kartini mempunyai pemikiran yang berbeda. Ketika berdiskusi dengannya, beliau paham bagaimana pentingnya pendidikan bagi perempuan pedesaan terutama petani, yaitu salah satu cara menggerakkan dan menyadarkan agar lebih peduli untuk bangkit dari kesulitan-kesulitan hidup di desa. Hal itu selaras dengan para anggota di paguyuban (organisasi tingkat desa) yaitu petani kecil yang perlu diperhatikan dan secara khusus untuk perempuan. “Tujuannya yaitu agar ibu-ibu tidak bekerja keluar kota/negeri, jadi dididik agar berkumpul ada gunanya serta memberikan manfaat untuk semua. Dalam hal ini yang sudah berjalan dan terasa manfaatnya yaitu simpan pinjam dan pengolahan pangan” tegas nenek Kartini, 69 tahun.

Nenek Kartini menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan rembug rakyat desa di banten. Nenek bercerita tentang pengalamannya berorganisasi dan terus mempertanyakan mengapa baru bertemu Bina Desa di usianya yang sudah senja? (Foto : Warga Desa Warung Banten)

Kesadaran pemikirannya terus diasah dengan mengikuti berbagai pendidikan, salah satunya dalam menemu kenali permasalahan dan potensi yang ada di desa. Nenek Kartini bersama organisasinya telah melakukan NLK (Naluntik Lembur Kuring) yang artinya meneliti desa saya sendiri. Dengan konsep yang sama dengan PRA yaitu masyarakat desa meneliti potensi desanya, menurutnya NLK bermanfaat untuk mengubah cara berpikir masyarakat desa dan memajukan kehidupan masyarakat desa. Dengan hasil NLK, SPPB melakukan advokasi dirinya sendiri ke pihak Kepala Desa dan Kecamatan dengan mempresentasikan hasil NLK dari tujuh desa.

Semangatnya mampu memberikan perubahan-perubahan kecil di Kecamatan Kadupandak dan di desanya pada khususnya. Nenek Kartini, sosok yang memaknai kedaualatan pangan dengan menjadi keluarga sehat baik dari segi asupan makanan yang sehat, tidak tergantung impor, biaya usaha tani irit, kebutuhan keluarga dapat dipenuhi secara mandiri, petani punya ilmu (kearifan lokal) yang dapat diwariskan turun-temurun. Pemahaman-pemahamannya selalu dibagikan pada perempuan-perempuan di sauyunan, Ia pun tak kalah dalam segi administrasi, secara tertulis langkah perjalanannya dalam berorganisasi tercatat rapih dan menjadi saksi bisu dalam pergerakkannya di usia lanjut. Mayoritas orang bertemu dengannya akan bertanya, apa kuncinya dalam menjalankan organisasi? Pada prinsipnya Ia selalu mengatakan suatu hal bahwa kerja nyata adalah kunci dalam menjalankan organisasinya.#

 

ARTIKEL TERKAIT

Pertanian Alami Memulihkan yang Telah Rusak

Cerita Pengorganisasian dari Filipina

Semua Orang adalah Pemimpin untuk Melakukan Transformasi

Belajar Bertani Alami dari Teh Entin

Membangun Organisasi Rakyat yang Kuat

Menemukenali Pedesaan dengan PRA (Participatory Rural Appraisal)