Festival Budaya Kalang

TUBAN, BINADESA.ORG – Bagi sebagian orang masih sangat asing ketika mendengar istilah wong kalang atau budaya kalang atau peradaban Kalang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Soelardjo Pontjosoetirto (1971) menggambarkan tentang keberadaan orang Kalang yang tersebar di sepanjang sisi utara dan selatan Pulau jawa.  Berawal dari minimnya data dan sedemikian banyaknya sebaran situs Kalang yang notabene ada semacam pembiaran oleh pemangku kebijakan dan makin maraknya penjarahan situs Kalang ini menjadi titik awal pembicaraan yang mengerucut pada FESTIVAL BUDAYA KALANG yang akan dilaksanakan pada tanggal 9-10 September 2017 di KPH Jatirogo Tuban.

Situs makam Kalang umumnya tersebar  di sekitar perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, seperti  di Cepu dan beberapa wilayah di Blora, di Tuban. Sedangkan di Bojonegoro  situs Kalang yang terbesar ada di desa Kawengan Kec. Kedewan (berbatasan dengan Cepu-Blora dan Singgahan-Tuban) berjumlah 109 makam di area seluas 35 Ha, di Kec. Malo (tidak jauh dari Kawengan) berjumlah 17 makam di area 12 Ha, dan ada di kecamatan lain tetapi hanya berjumlah 1 atau 2 makam saja. Semua berada di kawasan hutan jati di bawah penguasaan Perhutani. Sayang kondisi situsnya semakin lama semakin rusak parah, padahal situs yang ada di desa Kawengan konon sudah diperdakan sebagai situs cagar budaya oleh pemprovJatim seperti  diceritakan Siswo Nur Wahyudi salah seorang Budayawan dan pemerhati Kalang dari Bojonegoro.

Kegiatan ini sekaligus menjaring dan mengumpulkan mereka-mereka yang memiliki kepedulian  akan masyarakat Kalang yang kini tidak diketahui ujung pangkalnya. Serta melecut kembali semangat kalang dengan menghadirkan secara sukarela pemerhati dan seniman dari dalam dan luar negeri diantaranya ada Arrington de Dionyso dari Amerika Serikat,  Gilles Saisi Perancis,  Saung Swara Salatiga,  Sekrtaji Jogja,  Ganesa Bakti Pertiwi Karangkates, Log Sanskrit Jogja,   Selendang Wangi Universitas Negeri Jember,  Agus Riyanto Batu,  Komunitas Walikukun  Tulungagung dan masih banyak lagi. Panggung terbuka dan bebas untuk yang ingin berpartisipasi pada tanggal 9 September 2017 bersamaan dengan  acara melukis bersama dan mural mulai jam 15.00 WIB.

J. F. X. Hoerry salah seorang sastrawan jawa dari Bojonegoro pernah menulis sebuah buku napak tilas Wong Kalang Bojonegoro dan Drs. Dwi Cahyono akan hadir sebagai salah satu nara sumber dalam Jagongan Budaya Kalang pada tanggal 10 September sebelum Jelajah Situs Kalang. Sedangkan untuk artefak kalang akan dibawa dari Blora oleh Lukman Wijaya salah seorang peneliti Kalang dari Blora. Komunitasnya telah mengamankan banyak artefak kalang disimpan rapi dalam museum pribadi komunitas tersebut.

Kegiatan ini dilakukan oleh para pemerhati Kalang dari Tuban Rembang Blora dan disengkuyung penuh oleh Sanggar Gaung Prana Jati Sekaran Kecamatan Jatirogo Tuban bekerjasama dengan KPH jatirogo. Mari himpun energi dalam semangat kalang!

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Budi PJ +62 822 8214 3905|| Yoyok Van Bandem +62 857 3179 5757|| Krisna +62 822 3480 3626 || Hewodl Unen Unen +62 812 3253 7520 || Zam Risang Maloka +62 853 2961 3538

ARTIKEL TERKAIT

Semangat Perempuan Pedesaan dalam Mengawali Hajatan Kampong

Hajatan Kampong: Pembangunan yang Dipimpin Komunitas

Deklarasi Rembug Rakyat Laut: Rakyat Berdaulat Menjaga Laut Bersama

Our Ocean Conference: Menyelamatkan Laut Dengan Menjual ?

Bank Dunia, Tinggalkan Desa Kami!

Komunike Musyawarah : “Dunia-Warga Yang Melampaui Kuasa Bank” (World Beyond Banks)