Belajar Bertani Alami dari Teh Entin

Teh Entin, anggota Sauyunan Perempuan Petani Binangkit menjelaskan cara bertani alami yang dipraktikannya di lahan kolektif paguyuban (Foto : Irfan Maruf)

CIANJUR, BINADESA.ORG – Lima orang perempuan sedang sibuk ditengah sepetak sawah. Ditengah terik panas matahari dan  kesibukan masing-masing yang mereka kerjakan lelah hilang ditengah obrolan yang terus berlangsung sampai pekerjaan usai. Disela-sela istirahat menjelang pulang, Rusmiati Hartini (42) dan empat temannya yang sedang duduk di bawah pohon kelapa bercerita mengenai pekerjaan sawah yang sedang ia lakukan.

Entin sapaan akrabnya, bercerita mengenai sawah yang sedang ia lakukan merupakan sawah bersama teman-temannya. Sawah yang dikerjakan secara bersama merupakan milik salah satu anggota paguyuban untuk dikelola oleh anggota paguyuban dengan praktik pertanian alami yang kemudian hasilnya dibagi dua.

Ibu dari tiga anak ini juga bercerita bagaimana proses pertanian alami yang dilakukan di sawah miliknya sendiri dan juga sawah yang ia kerjakan bersama dengan teman-teman perempuan paguyuban. “Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk melakukan pertanian alami,” kata Entin.

Pertama merupakan tahap penting sebagai awal memilih benih yang sesuai dengan musim. Jika pada bulan setelah penanaman akan menghadapi musim panas, padi yang harus dipilih ialah padi dengan usia yang yang relatif cepat, sekitar tiga bulan.

“Pemilihan benih dilakukan dengan cara memilih padi di sawah dengan batangnya, kemudian antara satu ikat padi dengan satu ikat padi yang lainnya dibenturkan samapai rontok. Terpilihlah padi yang rontok sebagai calon bibit. Setelah bibit terpilih kemudian di keringkan sampai benar-benar kering kemudian dilakukan penyemaian benih dengan cara di tebar sampai umur 15 hari, kemudian dipindahkan dan ditanam ke sawah,” kata Entin.

Tahap kedua penyemprotan pertama, setelah 7 hari telah ditanam ke sawah kemudian disemprot dengan menggunakan nutrisi yang mengandung unsur nitrogen. Seperti kangkung, sledri, ikan tongkol, atau keong.

“Proses pembuatan nutrisi itu dapat dilakukan dengan dilembutkan setelah itu dipregmentasi, lalu diperas diambil airnya. Setelah disemprotkan,” tambah Entin.

Tahap ketiga membersihkan rumput, menyulam, dan memupuk. Setelah dua minggu padi ditanam, rumput yang menghalangi perkembangan padi harus dibersihkan, selain dibersihkan padi yang masih terlihat sedikit harus disulam. Setelah rumput bersih dan telah di sulam, hari itu juga dilakukan pemupukan menggunakan kompos dan mikroba.

“Pembuatan pupuk kompos yaitu dengan kotoran kambing, jerami, batang pisang, skam padi atau skam gergaji. Cara pembuatannya dengan dikubur di dalam tanah dengan setiap lapisan, lapisan pertama kotoran kambing, lapisan ke dua jerami, ke tiga skam gergaji atau skam padi, ke empat batang pisang, setelah itu disiram dengan mikroba,” Papar Entin.

Anggota Paguyuban di Desa Gandasari menanam padi dengan pertanian alami (Foto : Irfan Maruf)

Ia juga bercerita proses pembuatan mikroba. Pembuatan dilakukan dengan membungkus nasi enak kedalam bambu kemudian disimpan di rumpun bambu selama tiga hari tiga malam. Setelah terlihat jamur dengan berbagai warna jadilah mikroba satu. Setelah mikroba satu jadi, kemudian dicampur dengan gula merah, di masukkan ke dalam toples transparan dan di diamkan selama satu minggu. Setelah didiamkan selama satu minggu kemudian diperas untuk mengambil airnya. Air yang telah diperas merupakan mikroba dua. Mikroba dua itulah yang diguakan untuk menyiram kompos dengan perbandingan satu sendok makan mikroba dua dicampur dengan lima liter air.

“Setaleh disiram menggunakan mikroba kompos harus ditutup dengan plastik atau terpal, kemudan di tunggu seminggu sampai lima belas hari hingga terlihat hancur semua yang ada di dalam lubang tersebut. Kemudian diaduk dan tutup kembali selama 30 hari. Kemudan kompos tersebut dapat di gunakan,” papar Perempuan tiga anak tersebut.

Tahap ke empat penyemprotan berkelanjutan, setelah padi berumur 15 hari setelah usai dipupuk harus disemprot. Begitupun juga ketika padi telah berumur 20, 30, 35, dan 40 hari, padi harus disemprot secara rutin.

“Pada umur 50 dan 60 hari tahap penyemprotan dengan menggunakan nutrisi yang mengandung unsur pospor. Nutrisi ini dapat didibuat dari pepaya, jantung pisang, pisang mentah, batang pisang, nangka mentah, pepaya mentah, nanas mentah, yang dihancurkan dan ditambah gula merah dengan ukuran berbanding satu kilo. Kemudian dipregmentasi dengan mendiamkan di toples sampai satu minggu kemudian dapat digunakan,” tambahnya detail.

Selanjutnya ialah peralihan masa hamil padi, pada umur 60 sampai 90 hari, penyemprotan nutrisi yang mengandung unsur kalium. Nutrisi yang mengandung kalkium dapat dibuat dengan menggunakan buah-buahan matang seperti nanas matang, pisang matang, pepaya matang, manga matang, tomat matang, segala macam buah buahan dapat dugunakan. Dengan cara dihancurkan dan dicampur gula merah perbanding yang sama. Selain itu dapat ditambahkan dengan air laut jika ada, atau air beras.

“Pada saat panen pertama saya mengalami penurunan hasil, karena itu masa perlihan dari pupuk kimia beralih ke pupuk alami, tapi setelah tiga kali panen hasilnya sangat memuaskan tanpa harus mengeluarkan uang untuk pembelian benih, pupuk, dan obat-obatan,” tutup Entin.***

ARTIKEL TERKAIT

Panen Raya Padi Alami

Pertemuan Petani Pendidik Pertanian Alami

Pertanian Alami Pintu Masuk Pengorganisasian

Dongkrak Produktivitas Padi dengan Nutrisi Alami Berbasis Sumberdaya Lokal

Merawat Generasi, Merawat Kehidupan

Saat Petani Bicara Soal Impor Beras