31 Organisasi dari 8 Negara Belajar Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Pembukaan kegiatan SSLE pada Agustus lalu di Jakarta. (Foto : Gina Nurohmah/Bina Desa)

JAKARTA, BINADESA.ORG–Indonesia memiliki sejarah panjang dalam pembangunan gerakan ekonomi rakyat. Diawali oleh Aria Wiria Atmaja yang memperkenalkan koperasi pada tahun 1896 di Purwokerto, hingga revitalisasi koperasi yang mengantarkan Mohammad Hatta memperoleh penghargaan sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada 1953. Dalam konteks kekinian organisasi ekonomi rakyat, Indonesia memperoleh pengakuan sebagai negara terdepan bagi perkembangan kewirausahaan berdasarkan survei persepsi yang diadakan oleh BBC pada 2011 di 24 negara. Sayangnya, perkembangan kewirausahaan sangat berbeda kondisinya di beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Berbedanya lingkungan yang mendukung untuk kewirausahaan berdampak pada ketimpangan kapasitas dan daya saing dari pelaku usaha terutama petani dan nelayan.

Kondisi tersebut mendasari Bina Desa dan jaringannya di tingkat Asia yang tergabung dalam AsiaDHRRA mengadakan kegiatan South-South Learning Exchange Visit (SSLE) pada tanggal 24-28 Agustus 2017. Mengambil tema “Pemberdayaan Organisasi Komunitas Pedesaan melalui Kewirausahaan Sosial”, kegiatan yang berlangsung di Jakarta – Bandung ini diikuti oleh 23 organisasi tani dan 8 organisasi pemberdayaan komunitas pedesaan (DHRRA) yang berasal dari 8 negara yaitu: Indonesia, Filipina, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Malaysia, dan Thailand.

Kunjungan belajar bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kompetensi, dan kemampuan organisasi tani dan DHRRA di tingkat nasional dalam menggunakan potensi ekonomi pedesaan untuk menghapus kemiskinan dan eksklusi ekonomi di wilayah pedesaan.

Sesi pemaparan kebijakan pengembangan ekonomi pedesaan di Indonesia dan tingkat ASEAN disampaikan oleh narasumber dari Kemendesa dan Sekretariat ASEAN. Dr Fadillah Putra dari Kemendesa membahas tentang implementasi UU Desa dan perannya dalam pembangunan pedesaan. Lebih detail dibahas juga tentang alokasi dan penggunaan dana desa serta pengembangan potensi ekonomi pedesaan melalui BUMDes. Di tingkat region Asia Tenggara, Miguel Musngi, Staf Senior Pengembangan Pedesaan dan Pengentasan Kemiskinan ASEAN menyampaikan bahwa kebijakan regional tentang pengembangan ekonomi sangat berkaitan dengan kerangka rencana aksi untuk pengembangan pedesaan dan pengentasan kemiskinan yang akan menjadi agenda pembahasan pada pertemuan AMRDPE di Malaysia pada Oktober 2017.

Belajar dari Praktisi Kewirausahaan Sosial

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi belajar dari pengalaman para praktisi kewirausahaan sosial yang dilakukan dengan berkunjung ke Javara dan Dompet Dhuafa di Jakarta, Bina Swadaya di Cimanggis, dan Kelompok Mekar Tani Jaya di Lembang.

Kunjungan ke Javara ditemui langsung oleh sang CEO, Helianti Hilman. Hingga saat ini Javara telah bekerja dengan 50,000 petani dan 2,000 pengolah pangan, serta mampu memasarkan lebih dari 750 produk olahan pangan premium. Javara dikenal sebagai wirausaha sosial terdepan di Indonesia yang bekerja menghasilkan beraneka ragam produk pangan organik yang dihasilkan oleh komunitas pedesaan dengan menerapkan prinsip dan etika.

Selanjutnya peserta berkunjung ke Dompet Dhuafa, yaitu organisasi filantropi terbesar dalam penerimaan donasi masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2015, Dompet Dhuafa mengumpulkan total sumbangan 240 milyar rupiah di 21 provinsi di Indonesia dan 5 kantor perwakilan luar negeri. 200 staf dan 10.000 relawan Dompet Dhuafa telah mampu melayani 13 juta penerima manfaat hingga 2015 di mana lebih dari 20 persen diantaranya telah mampu keluar dari kemiskinan. Pada 2016 Dompet Dhuafa memperoleh Ramon Magsaysay Award karena mampu merevitalisasi lanskap filantropi berbasis zakat di Indonesia, mengeluarkan potensi kepercayaan dalam Islam untuk memperbaiki kehidupan masyarakat miskin terlepas dari agama dan kepercayaan mereka.

Salah satu proses interaksi dan belajar peserta di Bina Swadaya. (Foto : Gina Nurohmah/Bina Desa)

Beranjak ke wilayah Cimanggis, peserta berbagi pengalaman dengan Dr. Bambang Ismawan dan Dr. Raffi Paramawati, pembina dan wakil ketua pengurus Bina Swadaya. Bina Swadaya merupakan organisasi pemberdayaan komunitas yang mampu mengelola sejumlah layanan untuk mewujudkan komunitas yang mandiri. Bina Swadaya merupakan salah satu LSM terbesar di Indonesia dengan lebih dari 700 staf. Salah satu unit usaha Bina Swadaya adalah Toko Pertanian dan Majalah Trubus,  majalah tersebut menjadi bacaan dan acuan bagi berbagai kalangan yang bergerak di bidang pertanian.

Setelah 4 jam Perjalanan, peserta berkunjung di lokasi terakhir yaitu Kelompok Mekar Tani Jaya (MTJ). Pak Doyo Iskandar dan para anggota menyambut hangat para peserta serta memfasilitasi kegiatan pertukaran pengalaman. MTJ merupakan kelompok tani yang bergerak dalam budidaya dan pemasaran kolektif sayuran bernilai tinggi. Didirikan pada tahun 1987 di Desa Cibodas – Lembang, MTJ telah mampu memfasilitasi pelatihan bagi petani lokal dan dari berbagai daerah di Indonesia terkait pengembangan usaha tani yang menguntungkan pada lahan sempit. Produk-produk pertanian MTJ, terutama sayuran premium, tanaman hias dan susu dapat ditemukan di pasar modern di Jakarta, Bandung dan Bali. MTJ juga melakukan ekspor ke beberapa negara, yaitu Taiwan, Jepang, Belanda dan Singapura. Produk-produk tersebut telah tersertifikasi dalam standar Praktik Pertanian yang Baik (GAP) dan dalam proses pemanenan serta penanganan pascapanen telah menerapkan Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP). (bd024/bd031)

ARTIKEL TERKAIT

Semangat Perempuan Pedesaan dalam Mengawali Hajatan Kampong

Hajatan Kampong: Pembangunan yang Dipimpin Komunitas

Deklarasi Rembug Rakyat Laut: Rakyat Berdaulat Menjaga Laut Bersama

Our Ocean Conference: Menyelamatkan Laut Dengan Menjual ?

Bank Dunia, Tinggalkan Desa Kami!

Komunike Musyawarah : “Dunia-Warga Yang Melampaui Kuasa Bank” (World Beyond Banks)